SUNGAIPENUH,JS– Persaingan di era digital melalui platform e-commerce menantang pelaku usaha, termasuk di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Seiring meningkatnya belanja online, banyak pedagang merasakan dampak langsung terhadap penjualan mereka.
Salah seorang pedagang pakaian di Sungai Penuh, Dede membenarkan tiga tahun sebelumnya jauh sebelum Bulan Ramadhan toko pakaian miliknya selalu ramai pengunjung. Selama makin banyaknya masyarakat yang berbelanja platform e-commerce omsetnya terus menurun.
“Sekarang sudah berbeda. Sebagian besar pedagang mengeluh karena pendapatannya merosot drastis, bahkan hingga 80 persen. Kami tidak mampu bersaing dengan platform e-commerce,” ungkapnya
Yogi salah seorang pemerhati ekonomi Sungai Penuh membenarkan ketidakmampuan pedagang di Sungai Penuh dan Kerinci bersaing dengan platform e-commerce. Kemudahan yang ditawarkan aplikasi tersebut membuat masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh terlena dan manja.
“Padahal, pembeli menghadapi risiko lebih tinggi saat membeli barang, baik pakaian maupun kebutuhan lain, melalui e-commerce dibandingkan belanja langsung di pasar nyata,” sebutnya.
Meski begitu, lanjutnya pedagang di Sungai Penuh dan Kerinci masih bisa beradaptasi. Mereka dapat meningkatkan pemasaran melalui dunia digital agar tetap relevan dengan kebiasaan konsumen saat ini.
“Kedepan kita berharap para pedagang di Sungai Penuh dan Kerinci jangan mau kalah, manfaatkan kemajuan digital untuk mempromosikan barang dagangannya,” katanya.
Selain itu, Pemerintah Kota Sungai Penuh dan Pemerintah Kabupaten Kerinci, terutama Dinas Perdagangan, harus memanfaatkan peluang ini. Bahkan, pemerintah dapat membuat aplikasi sebagai gudang penjualan bagi pedagang lokal sehingga mereka bisa bersaing lebih efektif.
“Dengan langkah-langkah tersebut, pedagang lokal terutama yang belum memahami pemasaran digital yang rumit bisa terbantu,” terangnya.(AN)









