MERANTI,JS– Meski sebagian besar warga Kabupaten Kepulauan Meranti masih berpenghasilan rendah, ratusan keluarga secara sukarela keluar dari daftar penerima bantuan sosial pemerintah. Langkah ini menjadi indikasi tumbuhnya kesadaran dan kemandirian ekonomi di kalangan masyarakat.
Mayoritas Warga Masih Bergantung Bantuan
Data Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dissos P3AP2KB) menunjukkan bahwa hingga Desember 2025, sebanyak 167.676 jiwa masuk dalam kelompok Desil 1 hingga 5 menurut Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kelompok ini tergolong miskin hingga rentan miskin.
Sementara itu, penduduk yang relatif mampu (Desil 6 hingga 10) hanya berjumlah 41.228 jiwa. Dari jumlah tersebut, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tercatat 18.949 jiwa. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) mencapai 47.374 jiwa. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih membutuhkan intervensi pemerintah, terutama untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan kesehatan.
Fenomena Graduasi Mandiri
Di tengah kondisi ini, 280 keluarga melakukan graduasi mandiri, yaitu memilih keluar dari status Keluarga Penerima Manfaat (KPM) meskipun masih berhak menerima bantuan. Kepala Dissos P3AP2KB Kepulauan Meranti, Rokhaizal, menjelaskan, “Keluarga-keluarga ini sebelumnya masuk Desil 1 hingga 5, namun mereka memutuskan untuk mandiri.”
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian warga mulai berupaya mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial. Meski demikian, jumlah masyarakat yang masih membutuhkan perlindungan sosial tetap tinggi.
Sebaran Graduasi Mandiri per Kecamatan
Rokhaizal merinci, Kecamatan Tebing Tinggi mencatat jumlah graduasi mandiri tertinggi, yakni 78 keluarga. Disusul Kecamatan Rangsang dengan 67 keluarga dan Tebing Tinggi Barat 34 keluarga. Kecamatan Rangsang Barat dan Pulau Merbau masing-masing mencatat 29 keluarga, Rangsang Pesisir 18 keluarga, Merbau 17 keluarga, Tasik Putri Puyu tujuh keluarga, dan Tebing Tinggi Timur hanya satu keluarga.
Sebaran ini menjadi indikator nyata bahwa sebagian warga mulai bergerak menuju kemandirian ekonomi, meski tantangan kemiskinan tetap signifikan.
Catatan Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah menilai fenomena graduasi mandiri sebagai keberhasilan pemberdayaan kelompok tertentu. Namun, mereka menekankan bahwa tantangan utama Kepulauan Meranti masih terletak pada tingginya jumlah penduduk miskin dan rentan miskin. (*)









