JAKARTA,JS – Sejumlah ekonom memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan berlanjut sepanjang 2026. Proyeksi ini melebihi asumsi pemerintah. Dalam UU APBN 2026, pemerintah menetapkan nilai tukar rupiah di Rp 16.500/US$, naik dari asumsi APBN 2025 di Rp 16.000/US$. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menetapkan asumsi rupiah Rp 16.430/US$ dalam ATBI 2026.
Tiga Faktor Tekan Rupiah Sepanjang Tahun
Victor George Petrus Matindas, Head of Banking Research & Analytics Economy BCA, menyebut tiga faktor utama menekan rupiah hingga kisaran atas Rp 16.800/US$: pelebaran defisit fiskal, tekanan inflasi, dan melemahnya surplus neraca perdagangan.
Selain itu, investor global menanyakan outlook inflasi dan surplus perdagangan kepada Victor.
Defisit Fiskal Meningkatkan Risiko Outflow
Realisasi defisit APBN 2025 mencapai Rp 695,1 triliun atau 2,92% PDB, melampaui target Rp 616,2 triliun (2,53% PDB). Akibatnya, pemerintah menghadapi biaya penerbitan obligasi yang lebih tinggi, sementara investor asing menarik modal dari pasar domestik.
Sebagai ilustrasi, BI mencatat keluar modal asing Rp 1,38 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada pekan pertama Januari 2026.
Inflasi dan Neraca Perdagangan Jadi Perhatian Investor
Selain faktor fiskal, investor khawatir inflasi bisa naik di atas 3%. Kenaikan ini muncul karena harga emas meningkat dan efek diskon listrik pada kuartal I-2025.
Sementara itu, surplus perdagangan kemungkinan mengecil karena China menambah pasokan barang secara global dan mitra dagang utama menyesuaikan permintaan mereka.
Proyeksi Kurs Rupiah Sepanjang 2026
BCA memproyeksikan kurs rupiah bergerak di skenario terbaik Rp 16.565/US$, skenario dasar Rp 16.842/US$, dan skenario terburuk Rp 17.334/US$. Sementara itu, ekonom UOB Kay Hian, Surya Wijaksana, memprediksi rupiah bisa mencapai Rp 17.234/US$ di akhir 2026 karena kebijakan moneter BI yang longgar.
Meski demikian, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan rupiah bisa menguat terbatas di kisaran Rp 16.500–16.700/US$. Penguatan ini terjadi jika investor memasukkan modal lebih banyak saat suku bunga global menguntungkan. Namun, defisit transaksi berjalan dan risiko kebijakan yang terlalu longgar tetap menahan rupiah.
Pergerakan Rupiah 2025 Melenceng dari Target
Sepanjang 2025, rupiah bergerak jauh di atas perkiraan pemerintah dan BI. Sebagai gambaran, pemerintah mencatat kurs rata-rata Rp 16.475/US$ sepanjang tahun, sedangkan di akhir tahun mencapai Rp 16.782/US$. Angka ini melebihi asumsi APBN Rp 16.000 dan ATBI Rp 15.285/US$.(AN)









