JAKARTA,JS – Harga emas jatuh tajam pada akhir pekan lalu. Pernyataan hawkish dari pejabat The Federal Reserve (The Fed) memicu aksi jual besar di pasar. Pada Jumat (16/11/2025), harga emas turun 2,20% ke US$4.079,25 per troy ons.
Memasuki perdagangan Senin (17/11/2025) pukul 06.03 WIB, harga emas bergerak naik tipis 0,09% ke US$4.082,74 per troy ons.
Pelaku pasar mulai mengurangi harapan pemangkasan suku bunga Desember. Sikap hawkish The Fed membuat investor lebih berhati-hati.
“Peluang pemangkasan suku bunga pada Desember semakin kecil. Kondisi ini menekan emas dan perak,” kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures.
Pasar saham global ikut jatuh. Investor melepas aset berisiko setelah mendengar sinyal kebijakan yang lebih ketat dari The Fed.
Kondisi ini mengurangi minat pada emas sebagai aset non-imbal hasil.
Analis City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai margin call mempercepat penurunan.
“Saat margin call muncul, pedagang melepas banyak aset untuk menutup posisi. Hal ini ikut menyeret harga emas,” ujarnya.
Permintaan emas fisik di Asia juga melemah sepanjang pekan lalu.
Meski harga emas bergerak liar, beberapa lembaga keuangan besar tetap memprediksi penguatan jangka panjang. Mereka melihat peluang emas mencapai US$5.000 per troy ons pada 2026.
JP Morgan memperkirakan harga emas mencapai rata-rata US$5.055 pada kuartal IV 2026. Mereka menyebut minat investor dan pembelian bank sentral sebagai faktor utama. JP Morgan juga menargetkan US$6.000 per troy ons pada 2028.
“Emas tetap menjadi aset pilihan kami. Siklus penurunan suku bunga membuka peluang kenaikan lebih besar,” ujar Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas Global JP Morgan.
Goldman Sachs menargetkan harga emas US$5.055 pada akhir 2026, didukung arus masuk ETF dan pembelian bank sentral.
Bank of America (BoA) memprediksi level US$5.000 pada 2026, dengan rata-rata US$4.400. BoA menilai permintaan investasi yang naik 10–15% sudah cukup untuk mendorong harga ke level tersebut.(AN)









