Laba Bank Mega Melejit 28% ke Rp 3,36 Triliun di 2025, Strategi 2026 Jadi Sorotan Investor

- Jurnalis

Rabu, 1 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bank Mega

Bank Mega

BISNIS,JS- Kinerja keuangan perbankan nasional kembali menunjukkan tren positif. Salah satu yang mencuri perhatian datang dari PT Bank Mega Tbk yang berhasil mencatat lonjakan laba signifikan sepanjang 2025.

Bank swasta ini membukukan laba bersih sebesar Rp 3,36 triliun, naik tajam 28% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sekaligus memperkuat posisi Bank Mega di jajaran bank dengan profit terbesar di Indonesia.

Fee Based Income Jadi Mesin Pertumbuhan

Pertumbuhan laba Bank Mega tidak terjadi secara kebetulan. Sebaliknya, bank ini secara agresif mengoptimalkan sumber pendapatan non-bunga.

Fee Based Income melonjak drastis hingga 54% menjadi Rp 2,79 triliun, dari sebelumnya Rp 1,82 triliun. Kenaikan ini mencerminkan strategi yang semakin fokus pada layanan berbasis transaksi dan ekosistem digital.

Direktur Utama Kostaman Thayib menegaskan bahwa pencapaian tersebut memperkuat daya saing Bank Mega di industri.

“Dari sisi laba bersih, Bank Mega kini berada di posisi ke-10 di industri perbankan Indonesia,” ujarnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Aset dan Kredit Tumbuh Stabil

Selain laba, Bank Mega juga mencatat pertumbuhan pada indikator utama lainnya. Total aset meningkat 4% menjadi Rp 141 triliun, dari sebelumnya Rp 135 triliun.

Meskipun dari sisi aset berada di posisi ke-19 nasional, namun dari sisi profitabilitas, Bank Mega mampu melesat ke posisi lebih tinggi. Hal ini menunjukkan efisiensi dan kualitas bisnis yang semakin baik.

Di sisi penyaluran kredit, Bank Mega juga menjaga pertumbuhan yang stabil. Total kredit naik sekitar 4% menjadi Rp 67,23 triliun.

Fokus utama tetap diarahkan ke segmen korporasi, yang dinilai memiliki risiko lebih terukur sekaligus memberikan margin yang kompetitif.

Kualitas Kredit Membaik, Risiko Terjaga

Tidak hanya tumbuh, kualitas kredit Bank Mega juga menunjukkan perbaikan.

Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun menjadi 1,65%, dibandingkan sebelumnya 1,69%. Angka ini menandakan manajemen risiko yang semakin solid di tengah dinamika ekonomi global.

Dengan NPL yang terjaga rendah, bank mampu menjaga stabilitas keuangan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.

Baca Juga :  Rahasia Pinjaman Bank Bunga Rendah 2026, Banyak Orang Belum Tahu!

Dana Murah Naik, Likuiditas Semakin Kuat

Dari sisi pendanaan, Bank Mega mencatat kinerja yang impresif. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 14% menjadi Rp 104,13 triliun.

Menariknya, pertumbuhan juga terjadi pada dana murah (CASA) yang naik menjadi Rp 28,14 triliun. Peningkatan CASA menjadi sinyal positif karena mampu menekan biaya dana (cost of fund).

Meski komposisi DPK masih didominasi deposito, arah strategi mulai bergeser ke dana murah yang lebih efisien.

Rasio Keuangan Solid, Profitabilitas Terjaga

Sejumlah rasio keuangan utama Bank Mega juga menunjukkan performa yang kuat:

  • CAR (Capital Adequacy Ratio): 30,49%
  • ROA (Return on Assets): 3,10%
  • ROE (Return on Equity): 15,54%
  • NIM (Net Interest Margin): 4,18%
  • BOPO: 69,12%
  • LDR: sekitar 70%

Rasio-rasio ini mencerminkan posisi permodalan yang sangat kuat serta efisiensi operasional yang terjaga.

Strategi Bank Mega 2026: Fokus Dana Murah dan Ekosistem Nasabah

Memasuki 2026, Bank Mega tidak berhenti pada pencapaian. Sebaliknya, manajemen telah menyiapkan strategi baru untuk mendorong pertumbuhan lebih agresif.

Kostaman menjelaskan bahwa fokus utama ke depan adalah memperkuat likuiditas melalui dana murah (low cost funding).

Baca Juga :  Inactive Bank Account 2026: Risiko Rekening Dormant, Biaya, dan Cara Mengaktifkannya Lagi

Strategi tersebut dijalankan melalui beberapa langkah:

1. Perkuat Transaksional Banking

Bank Mega akan meningkatkan layanan transaksi digital dan memperluas ekosistem nasabah. Dengan cara ini, bank dapat meningkatkan frekuensi transaksi sekaligus menarik dana murah secara berkelanjutan.

2. Dorong Kredit Wholesale

Selain itu, Bank Mega akan memperbesar volume kredit wholesale melalui skema bilateral dan sindikasi. Langkah ini bertujuan meningkatkan skala bisnis sekaligus menjaga kualitas kredit.

3. Optimalkan Nasabah Eksisting

Bank juga akan mendorong nasabah kredit untuk lebih aktif menggunakan layanan perbankan lainnya, sehingga meningkatkan fee based income.

Prospek Bank Mega dan Industri Perbankan Indonesia

Kinerja Bank Mega yang solid mencerminkan tren positif industri perbankan Indonesia secara keseluruhan. Di tengah tantangan global seperti inflasi dan ketidakpastian ekonomi, bank yang mampu mengelola risiko dan memperkuat pendapatan non-bunga memiliki peluang tumbuh lebih cepat.

Dengan strategi yang fokus pada digitalisasi, efisiensi, dan ekosistem nasabah, Bank Mega berpotensi terus meningkatkan profit di tahun-tahun mendatang.

Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin posisi Bank Mega akan semakin naik, baik dari sisi aset maupun laba bersih di industri perbankan nasional.

Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)

Berita Terkait

Investasi Makin Mudah dari HP, Investor Pasar Modal Tembus 30,43 Juta: Ini Risiko yang Wajib Dipahami
NPL Kredit Konsumer Bank Besar Naik, Ini Dampaknya bagi Nasabah dan Investor
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 18 Agustus 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar Lengkap Semua Kadar Karat
Harga Emas Perhiasan 17 Agustus 2026: 23 Karat Naik Tajam, Ini Daftar Lengkapnya
Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli
Indonesia Bidik Posisi Pusat Likuiditas Aset Digital Asia Tenggara, 3 Kunci Ini Jadi Penentu
BCA Buka Tabungan Emas di myBCA, Investasi Emas Kini Bisa Dibeli dan Dijual Secara Digital
Jangan Tunggu Usaha Bangkrut! Ini Asuransi UMKM yang Bisa Lindungi Modal dan Aset Bisnis
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Investasi Makin Mudah dari HP, Investor Pasar Modal Tembus 30,43 Juta: Ini Risiko yang Wajib Dipahami

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:01 WIB

NPL Kredit Konsumer Bank Besar Naik, Ini Dampaknya bagi Nasabah dan Investor

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 18 Agustus 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar Lengkap Semua Kadar Karat

Senin, 17 Agustus 2026 - 07:31 WIB

Harga Emas Perhiasan 17 Agustus 2026: 23 Karat Naik Tajam, Ini Daftar Lengkapnya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli

Berita Terbaru