KERINCI,JS- Terpinggirkan oleh Data: Abu Tani Tak Lagi Dapat Bantuan Sosial
Di sebuah rumah sederhana di Desa Sungai Abu, Kabupaten Kerinci, Abu Tani (77), seorang kakek renta yang hidup sebatang kara, terbaring lemah. Tanpa keluarga yang menemani, tanpa istri, anak, ataupun cucu, Abu Tani menjalani hari-harinya dengan kesepian dan penderitaan. Ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya, menghadapi senja usia dengan kondisi fisik yang semakin rapuh.
Namun, meskipun Abu Tani hidup dalam keterbatasan dan penderitaan, ia justru tersingkir dari daftar penerima bantuan sosial negara. Padahal, sebelumnya ia masih terdaftar sebagai penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Kementerian Sosial pada tahun 2023 dan 2024. Namun, pada tahun 2025, nama Abu Tani tiba-tiba hilang dari daftar tersebut tanpa ada penjelasan yang jelas.
Kenaikan Desil yang Tidak Masuk Akal
Kepala Desa Sungai Abu, Antoni Rozi, mengatakan bahwa setelah melakukan pengecekan, mereka menemukan fakta mengejutkan. Nama Abu Tani tercatat mengalami peningkatan desil yang sangat signifikan. Awalnya berada pada desil 1, kemudian naik menjadi desil 4 pada Maret 2025, dan melonjak lagi ke desil 6 hingga 10 pada September 2025.
“Berdasarkan data dari Dinas Sosial, desil Abu Tani naik ke 6-10, yang artinya ia tidak tergolong sebagai warga miskin penerima bantuan,” ujar Antoni dengan nada kecewa. “Namun kenyataannya, kondisi hidupnya sangat memprihatinkan dan ia sangat membutuhkan bantuan. Kenaikan desil yang tiba-tiba ini jelas tidak masuk akal.”
Masalah Serupa Terjadi di Banyak Desa
Pihak desa telah menelusuri masalah ini lebih lanjut, namun hingga kini tidak ada penjelasan yang memadai mengenai penyebab kenaikan desil yang begitu drastis. Antoni juga mengungkapkan bahwa fenomena serupa terjadi di banyak desa lain di Kabupaten Kerinci. Banyak warga miskin yang tiba-tiba terhapus dari daftar penerima bantuan sosial akibat perubahan data yang tidak jelas.
Menurut Antoni, sistem pendataan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga terkait lainnya tidak mencerminkan kenyataan hidup sebagian besar warga. “Di atas kertas, mereka mungkin dianggap mampu. Namun kenyataannya, mereka sangat membutuhkan bantuan seperti Abu Tani ini,” tambahnya.
Kondisi Abu Tani yang Memprihatinkan
Saat ini, Abu Tani hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia kekurangan makanan, pakaian layak, bahkan fasilitas rumah yang memadai. Tubuhnya semakin lemah dan ia kesulitan untuk bergerak. Selain itu, ia sangat membutuhkan peralatan rumah tangga seperti kasur dan selimut yang layak. Kondisi kesehatannya semakin menurun, yang berarti kebutuhan mendesaknya juga semakin bertambah, salah satunya adalah fasilitas WC yang lebih memadai.
Pemerintah Desa Sungai Abu sudah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT Desa) untuk meringankan beban Abu Tani. Namun, dana tersebut jelas belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Abu Tani yang semakin mendesak.
Pemerintah Diminta Turun Langsung ke Lapangan
Melihat kondisi tersebut, Antoni Rozi meminta agar pihak Dinas Sosial maupun instansi terkait turun langsung ke lapangan. Ia berharap pihak berwenang dapat melihat dengan mata kepala sendiri kondisi nyata warganya. “Kami berharap pihak berwenang dapat turun langsung ke lapangan dan melihat sendiri kondisi Abu Tani. Data saja tidak cukup untuk menilai kehidupan nyata warganya,” ujar Antoni.
Kisah Abu Tani: Permintaan untuk Kehidupan yang Layak
Di usia senjanya, Abu Tani tidak menuntut banyak. Ia hanya menginginkan kehidupan yang lebih layak—makanan yang cukup, tempat tidur yang nyaman, dan perhatian dari negara. Abu Tani hanya ingin menjalani hari-hari tuanya dengan sedikit kebahagiaan dan kenyamanan.
Kisah Abu Tani menjadi gambaran dari potret getir di balik sistem pendataan bantuan sosial negara. Di tengah upaya pemerintah untuk menyejahterakan rakyat, masih ada warga lansia yang terpinggirkan bukan karena kemampuan mereka, melainkan karena data yang tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan hidup mereka. Seharusnya, negara hadir untuk memberikan perhatian kepada mereka yang paling rentan. Namun, kenyataan di lapangan seringkali menunjukkan adanya kesenjangan yang harus segera diperbaiki.
Sementara itu, pemerintah desa berusaha agar bantuan yang lebih tepat sasaran bisa segera diberikan kepada Abu Tani. Namun, kesenjangan antara data dan realita kehidupan di lapangan tetap menjadi masalah yang harus segera ditangani agar warga miskin yang benar-benar membutuhkan tidak lagi terpinggirkan.(AN)









