BISNIS,JS- Pernah nggak, lagi scrolling media sosial atau browsing internet, tiba-tiba muncul iklan aplikasi yang menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal receh? Rasanya pengen coba-coba, siapa tahu hoki terus bisa beli gadget baru tanpa harus menabung berbulan-bulan.
Fenomena “ingin cepat kaya” lewat jalan pintas ini masuk kategori maysir. Saat kamu kurang berhati-hati, pola pikir ini bisa merusak rencana keuangan masa depan. Bukannya untung, saldo tabungan justru bisa ludes untuk sesuatu yang tidak pasti dan menimbulkan kecanduan mental.
Apa Itu Maysir?
Secara sederhana, maysir adalah segala bentuk transaksi yang bersifat judi atau spekulasi ekstrem. Satu pihak bisa untung besar, tapi keuntungan itu selalu berasal dari kerugian pihak lain.
Intinya, maysir merupakan zero-sum game, di mana uang hanya berpindah tangan berdasarkan keberuntungan semata. Tidak ada barang atau jasa nyata yang diproduksi. Kalau kamu menang, berarti orang lain kehilangan uang, begitu pun sebaliknya.
Mengapa Islam Melarang Maysir
Islam melarang maysir karena bisa menumbuhkan pola pikir pemalas dan suka jalan pintas. Bayangkan, jika semua orang hanya mengandalkan keberuntungan, siapa yang mau bekerja keras atau berinovasi?
Dalam Surah Al-Maidah ayat 90, Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.”
Selain itu, maysir sering memicu konflik antar pemain. Pemenang merasa sombong, sementara yang kalah mudah merasa dendam. Pola ini jelas bertentangan dengan prinsip keadilan dan win-win solution dalam ekonomi Islam.
Tiga Kriteria Maysir
Supaya tidak terjebak, perhatikan tiga kriteria berikut:
- Taruhan materiil – Kamu harus menaruh uang atau aset bernilai. Jika kalah, aset itu bisa hilang tanpa kompensasi.
- Keuntungan dari kerugian orang lain – Sistem ini mengandalkan zero-sum game. Dalam ekonomi syariah, keuntungan harus lahir dari produksi atau bagi hasil yang adil.
- Dominasi keberuntungan murni – Jika hasil hanya bergantung pada nasib, tanpa usaha atau skill, itu jelas maysir. Kebiasaan ini bisa membuatmu ketergantungan pada angan-angan kosong dan menjauhkan dari pembangunan aset nyata.
Perbedaan Maysir dan Gharar
Banyak orang salah mengira kedua istilah ini sama. Sebenarnya:
- Gharar muncul karena ketidakjelasan akad atau kontrak, misalnya beli kucing dalam karung tanpa tahu kondisinya.
- Maysir adalah permainan judi dari awal, di mana satu pihak menang dan pihak lain rugi total.
Keduanya dilarang, tapi cara dan fokusnya berbeda.
Contoh Maysir di Era Digital
Sekarang, maysir muncul dalam bentuk modern dan tampak “keren”:
- Kasino online atau slot digital
- Mystery box dengan harga mahal tapi isinya tidak pasti
- Aplikasi tebak skor atau undian berbayar
Meski kemasan aplikasi terlihat aesthetic atau user-friendly, pastikan kamu membeli produk nyata, bukan sekadar “angan-angan”.
Cara Efektif Menghindari Maysir
Untuk melindungi dompet dan mental finansialmu, lakukan langkah-langkah ini:
- Cek adanya underlying asset yang jelas – Pastikan uangmu digunakan untuk produk atau jasa nyata, bukan sekadar pergerakan angka berdasarkan keberuntungan.
- Riset model bisnis platform – Ketahui dari mana keuntungan berasal: produksi nyata atau sekadar uang pendaftaran anggota baru.
- Hindari janji keuntungan instan tanpa risiko – Semua keuntungan sah pasti ada risiko yang sepadan.
- Pilih produk keuangan terverifikasi DSN-MUI – Lembaga ini sudah men-screen mekanisme agar bebas dari unsur maysir.
Dengan begitu, uang hasil kerja kerasmu tetap aman, sementara mentalitas finansialmu terjaga.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









