MBG Jadi Mesin Baru Penggerak Ekonomi Daerah Jambi

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 29 Januari 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi MBG

Ilustrasi MBG

JAMBI,JS- Program Makan Bergizi (MBG) terus menunjukkan dampak nyata bagi perekonomian daerah. Hingga Januari 2026, pelaksanaan MBG di Provinsi Jambi menyerap anggaran sekitar Rp177 miliar. Program ini langsung menggerakkan sektor pertanian, peternakan, dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Prof. Dr. Ir. Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa BGN menyalurkan dana sekitar Rp19,5 triliun secara nasional sepanjang Januari 2026. BGN menyalurkan dana tersebut langsung ke virtual account Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di setiap daerah.

Belanja MBG Topang Produk Pertanian Lokal

Baca Juga :  Jambi Percepat Program MBG, Kepala BGN Beri Apresiasi

Prof. Dadan menjelaskan bahwa struktur belanja MBG sangat mendukung sektor riil. Program ini menggunakan sekitar 70 persen anggaran untuk membeli bahan baku. Dari jumlah tersebut, produk pertanian menyumbang sekitar 92 persen.

“Dengan komposisi seperti ini, MBG mendorong ekonomi daerah secara langsung,” ujar Prof. Dadan saat Konsolidasi Percepatan Penyelenggaraan Program MBG di Kantor Wali Kota Jambi, Rabu (28/1/2026).

Pemda Pegang Peran Kunci Rantai Pasok

Karena itu, Prof. Dadan menegaskan peran strategis pemerintah daerah. Pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota perlu memastikan seluruh kebutuhan MBG berasal dari produksi lokal. Jika daerah menjaga rantai pasok, dana MBG akan terus berputar di tengah masyarakat.

Satu SPPG Butuh Puluhan Hektare Sawah

Baca Juga :  Pembangunan Jargas Rumah Tangga di Kota Jambi Dipercepat

Sebagai gambaran, satu SPPG membutuhkan sekitar 5 ton beras setiap bulan. Kebutuhan ini setara dengan 10 ton gabah kering giling dari dua hektare sawah. Dalam satu tahun, satu SPPG membutuhkan hasil panen dari sekitar 24 hektare lahan padi.

Konsumsi Telur dan Jagung Sangat Besar

Selain beras, satu SPPG juga membutuhkan protein hewani dalam jumlah besar. Dalam satu kali makan, satu SPPG menghabiskan sekitar 3.000 butir telur. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, peternak perlu menyediakan sekitar 4.000 ayam petelur.

Sementara itu, peternak ayam membutuhkan pakan jagung dari sekitar 1,5 hektare panen setiap bulan. Dalam satu tahun, kebutuhan tersebut setara dengan 12 hektare luas tanam dan 8 hektare luas panen jagung.

Kebutuhan Buah Capai Ribuan Pohon Pisang

Program MBG juga menyerap produksi buah-buahan dalam jumlah besar. Sekali penyajian menu pisang, satu SPPG membutuhkan sekitar 3.000 buah atau setara hasil dari 15 pohon pisang. Jika dapur MBG menyajikan pisang dua kali setiap pekan, satu SPPG membutuhkan sekitar 1.440 pohon pisang per tahun, atau sekitar 1,5 hektare kebun pisang.

“Kota Jambi mengoperasikan 100 SPPG, maka daerah membutuhkan sekitar 150 hektare kebun pisang. Jika lahan terbatas, daerah dapat bekerja sama dengan wilayah sekitar,” jelas Prof. Dadan.

Perputaran Dana Capai Triliunan Rupiah

Baca Juga :  Pemkot Jambi Terapkan Perwal SOTK 2025, Tata Kelola OPD

Dengan skala kebutuhan tersebut, Prof. Dadan memperkirakan perputaran dana dari 100 SPPG di Kota Jambi mencapai Rp1 triliun per tahun. Pada tingkat Provinsi Jambi, perputaran dana bahkan berpotensi menembus Rp4 triliun per tahun.

MBG Serap Tenaga Kerja dan Tekan Kemiskinan

Selain dampak ekonomi, MBG juga menghadirkan dampak sosial yang kuat. Satu SPPG mempekerjakan sekitar 42 orang. Mayoritas pekerja berasal dari kalangan ibu rumah tangga berusia di atas 40 tahun. Mereka memperoleh penghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp2,4 juta per bulan.

Di sejumlah daerah, MBG berhasil menekan kemiskinan ekstrem dan meningkatkan ketertiban sosial. Banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini bekerja di SPPG.

BGN Terapkan Sertifikasi dan Akreditasi

Saat ini, sekitar 22.000 SPPG beroperasi di seluruh Indonesia. Mitra membangun seluruh fasilitas tersebut tanpa menggunakan APBN untuk pembangunan fisik. Pada 2026, BGN akan menerapkan sertifikasi dan akreditasi SPPG dengan klasifikasi A, B, dan C untuk meningkatkan kualitas layanan.

Prof. Dadan menegaskan bahwa MBG berdiri sebagai program prioritas nasional. Pada 2026, BGN mengelola anggaran sebesar Rp298 triliun dan dana cadangan Rp67 triliun, dengan total Rp335 triliun. Program ini berjalan tanpa mengganggu anggaran pendidikan.

“Program MBG harus kita jalankan bersama. Jika pusat dan daerah menjaga sinergi, program ini akan semakin memperkuat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jambi,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait

PHK PPPK Mengancam! 1,3 Juta Pegawai Terancam Kehilangan Pekerjaan, Ekonomi Daerah Bisa Terpukul
Bolehkah Motor Listrik Masuk Jalan Raya? Ini Faktanya di Tengah Padatnya Truk Batu Bara di Jambi!
Transformasi RSUD Kerinci Dimulai: Fokus Upgrade Fasilitas, Digitalisasi Layanan, dan Kualitas Tenaga Medis
Audit BPK 2025 Dimulai! Aset Pemkab Merangin Jadi Sorotan
Audit LKPD 2025: Azhar Hamzah Dorong Transparansi Total di Pemkot
Kopi Kerinci Tembus Pasar Malaysia, Harga Kopi Indonesia Diprediksi Naik
Musrenbang 2027 Bungo Bongkar Fokus Baru: Infrastruktur dan Sawit Jadi Penopang Ekonomi
Update Terbaru Dana Desa Kerinci dan Sungai Penuh: 248 Desa Sudah Cair
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 April 2026 - 11:52 WIB

PHK PPPK Mengancam! 1,3 Juta Pegawai Terancam Kehilangan Pekerjaan, Ekonomi Daerah Bisa Terpukul

Sabtu, 4 April 2026 - 09:00 WIB

Bolehkah Motor Listrik Masuk Jalan Raya? Ini Faktanya di Tengah Padatnya Truk Batu Bara di Jambi!

Kamis, 2 April 2026 - 20:00 WIB

Transformasi RSUD Kerinci Dimulai: Fokus Upgrade Fasilitas, Digitalisasi Layanan, dan Kualitas Tenaga Medis

Kamis, 2 April 2026 - 19:00 WIB

Audit BPK 2025 Dimulai! Aset Pemkab Merangin Jadi Sorotan

Kamis, 2 April 2026 - 12:30 WIB

Audit LKPD 2025: Azhar Hamzah Dorong Transparansi Total di Pemkot

Berita Terbaru