Ilmuwan Bongkar Hitungan Akhir Kehidupan di Bumi, Ternyata Tinggal Segini

- Jurnalis

Minggu, 22 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi prediksi ilmuan akan akhir kehidupan manusia

Ilustrasi prediksi ilmuan akan akhir kehidupan manusia

INTERNASIONAL,JS- Bernapas terasa seperti hal paling wajar dalam hidup manusia. Setiap pagi, oksigen mengisi paru-paru tanpa pernah dipertanyakan. Namun, di balik rutinitas itu, para ilmuwan mengajukan satu pertanyaan mendasar: berapa lama atmosfer Bumi mampu menopang kehidupan seperti sekarang?

Pertanyaan ini tidak lahir dari imajinasi fiksi ilmiah. Sebaliknya, para peneliti menghitungnya melalui data ilmiah, model iklim, dan simulasi superkomputer berskala besar.

Hasilnya menunjukkan satu kesimpulan besar: waktu Bumi sebagai planet layak huni ternyata terbatas.

Ilmuwan Jepang Hitung Usia Kehidupan di Bumi

Tim peneliti dari Universitas Toho, Jepang, berhasil memperkirakan kapan kehidupan di Bumi akan mencapai titik akhirnya. Mereka mempublikasikan hasil penelitian tersebut dalam jurnal ilmiah Nature Geoscience pada 2021.

Baca Juga :  NASA Temukan Kandidat Planet Super Dingin Mirip Bumi

Melalui pemodelan iklim berbasis data NASA, para ilmuwan mensimulasikan perubahan atmosfer Bumi dalam jangka waktu sangat panjang. Fokus utama penelitian ini terletak pada satu unsur krusial: oksigen.

Kehidupan Diprediksi Berakhir dalam 1 Miliar Tahun

Berdasarkan laporan NDTV edisi Selasa (13/5/2025), para peneliti memprediksi kehidupan di Bumi akan berakhir dalam waktu sekitar satu miliar tahun.

Mereka menemukan bahwa atmosfer Bumi hanya mampu mempertahankan kadar oksigen di atas 1 persen dari kondisi saat ini selama 1,08 miliar tahun, dengan margin kesalahan sekitar 0,14 miliar tahun.

Tanpa oksigen dalam jumlah cukup, kehidupan kompleks—termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan—tidak mungkin bertahan.

Matahari Jadi Penyebab Utama Oksigen Menipis

Selanjutnya, para ilmuwan mengidentifikasi penyebab utama penurunan oksigen. Matahari yang terus menua menghasilkan panas dan kecerahan lebih tinggi dari waktu ke waktu. Kondisi ini memicu perubahan besar pada sistem iklim dan kimia Bumi.

Asisten Profesor Universitas Toho, Kazumi Ozaki, menjelaskan bahwa peningkatan energi Matahari secara langsung memengaruhi stabilitas biosfer.

Baca Juga :  Ilmuan Temukan 'Kota Hilang' di Bawah Laut Artik

Ia menegaskan bahwa para ilmuwan telah lama mendiskusikan umur biosfer berdasarkan hubungan antara kecerahan Matahari dan siklus geokimia Bumi.

400 Ribu Simulasi Ungkap Nasib Atmosfer Bumi

Untuk memastikan akurasi, tim peneliti menjalankan 400.000 simulasi stokastik. Mereka menggabungkan model iklim dan biogeokimia guna memetakan berbagai skenario evolusi atmosfer.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa oksigen akan turun drastis dan membawa Bumi kembali ke kondisi mirip zaman Arkea, periode ketika atmosfer hampir tidak mengandung oksigen dan kehidupan kompleks belum muncul.

Menariknya, proses ini akan terjadi sebelum Bumi memasuki fase rumah kaca lembap dan sebelum lautan menguap secara masif.

Siklus Karbon Mempercepat Keruntuhan Kehidupan

Selain panas Matahari, faktor lain ikut mempercepat kehancuran biosfer. Siklus karbonat–silikat secara perlahan mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer.

Ketika karbon dioksida menipis, tumbuhan kehilangan kemampuan bertahan hidup. Akibatnya, produksi oksigen berhenti total.

Seiring waktu, suhu global meningkat, air menguap, dan siklus karbon runtuh. Atmosfer Bumi kemudian berubah menjadi kaya metana, menyerupai kondisi Bumi purba sebelum Peristiwa Oksidasi Besar.

Prediksi Lama Direvisi Lebih Cepat

Sebelumnya, banyak ilmuwan memperkirakan biosfer Bumi baru akan berakhir dalam waktu dua miliar tahun. Namun, temuan terbaru ini memangkas estimasi tersebut secara signifikan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa deoksigenasi cepat akan terjadi jauh lebih awal, yakni sekitar satu miliar tahun dari sekarang.

Baca Juga :  NASA Gandeng 7 Perusahaan Kembangkan Teleskop Tercanggih

Implikasi bagi Pencarian Kehidupan di Luar Angkasa

Akhirnya, penelitian ini membawa implikasi besar bagi eksplorasi luar angkasa. Para ilmuwan menekankan pentingnya mencari tanda kehidupan yang tidak bergantung pada oksigen tinggi.

Selain itu, mereka menyoroti peran kabut organik atmosfer sebagai indikator kehidupan pada fase akhir kelayakhunian sebuah planet.

Meski akhir kehidupan di Bumi masih sangat jauh bagi umat manusia, temuan ini menjadi pengingat bahwa bahkan oksigen—unsur paling mendasar bagi hidup—memiliki batas waktu dalam skala kosmik.(*)

Berita Terkait

Kurs Yen Jepang ke Rupiah Hari Ini 30 September 2026, Cek Nilai 1 Yen hingga 50.000 Yen
Kurs Ringgit Malaysia Hari Ini 29 September 2026: RM1 Tembus Rp4.410, Cek Kurs Beli dan Jual Terbaru
Eating Papaya Every Day: 5 Health Conditions This Tropical Fruit May Help Manage
Tokenized U.S. Stocks Enter New Era as SEC Opens Five-Year Regulatory Path for On-Chain Trading
Kurs Yen Jepang Hari Ini Sabtu 26 September 2026: ¥10.000 Setara Rp1,13 Juta, Cek Konversi Lengkap JPY ke IDR
Cloves Health Benefits: 7 Potential Health Benefits of Eugenol-Rich Cloves You Should Know
Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market
1 Ringgit Berapa Rupiah Hari Ini? Cek Kurs MYR ke IDR 24 September 2026, Lengkap 100 dan 1.000 MYR
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 21:23 WIB

Kurs Yen Jepang ke Rupiah Hari Ini 30 September 2026, Cek Nilai 1 Yen hingga 50.000 Yen

Selasa, 29 September 2026 - 20:31 WIB

Kurs Ringgit Malaysia Hari Ini 29 September 2026: RM1 Tembus Rp4.410, Cek Kurs Beli dan Jual Terbaru

Selasa, 29 September 2026 - 02:01 WIB

Eating Papaya Every Day: 5 Health Conditions This Tropical Fruit May Help Manage

Senin, 28 September 2026 - 04:01 WIB

Tokenized U.S. Stocks Enter New Era as SEC Opens Five-Year Regulatory Path for On-Chain Trading

Sabtu, 26 September 2026 - 20:30 WIB

Kurs Yen Jepang Hari Ini Sabtu 26 September 2026: ¥10.000 Setara Rp1,13 Juta, Cek Konversi Lengkap JPY ke IDR

Berita Terbaru