Ekonom Ingatkan Risiko di Balik Debt Switch Rp173,4 T

- Jurnalis

Kamis, 26 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Debt Switch yang dilaksanakan pemerintah disoroti ekonom. (Sumber/Google)

Ilustrasi Debt Switch yang dilaksanakan pemerintah disoroti ekonom. (Sumber/Google)

BISNIS,JS- Rencana debt switch pemerintah senilai Rp173,4 triliun pada 2026 menuai perhatian ekonom. Meski kebijakan ini berpotensi menahan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), ekonom menilai langkah tersebut menyimpan risiko sentimen negatif apabila pasar menilai pemerintah terlalu bergantung pada bank sentral.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai debt switching memang bisa membantu meredam tekanan yield di tengah kenaikan biaya pinjaman pemerintah. Namun, ia menekankan pentingnya membaca reaksi pasar secara lebih luas.

Yield Naik Jadi Latar Belakang Kebijakan

Dalam beberapa waktu terakhir, yield SBN tenor 10 tahun terus bergerak naik. Pada awal Januari 2026, yield masih berada di kisaran 6,04 persen. Hingga 20 Februari 2026, imbal hasil tersebut meningkat menjadi 6,45 persen, atau naik sekitar 41 basis poin.

Baca Juga :  Mulai Berlaku, Ini Aturan Baru Saldo Minimum Tiga Bank Indonesia

Menurut David, kenaikan ini wajar terjadi di tengah ketidakpastian global dan tekanan pembiayaan fiskal. Karena itu, pemerintah mencoba menahan gejolak melalui berbagai instrumen pengelolaan utang, termasuk debt switch.

Jangan Jadikan Stabilitas Yield Tujuan Utama

Meski memahami logika kebijakan tersebut, David mengingatkan agar pemerintah tidak menjadikan stabilisasi yield sebagai tujuan utama.

“Yang paling penting tetap menurunkan biaya utang dan mengelola risiko jatuh tempo. Jangan sampai kebijakan ini justru memberi sinyal bahwa pemerintah semakin bergantung pada bantuan bank sentral,” ujar David kepada Bisnis, Selasa (24/2/2026).

Ia menilai pasar keuangan sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan, terutama yang menyangkut hubungan fiskal dan moneter.

Ketergantungan BI Bisa Gerus Kepercayaan Investor

Lebih lanjut, David menyoroti risiko persepsi investor. Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada peran bank sentral untuk menyerap atau mengelola utang negara berpotensi menggerus kepercayaan pasar.

Baca Juga :  Bitcoin Terus Melemah, Investor Khawatir Dampak AI ke Ekonomi

Dalam kondisi global yang tidak pasti, isu seperti ini mudah berkembang dan langsung memengaruhi arus modal. Jika kepercayaan investor melemah, mereka akan menuntut premi risiko lebih tinggi.

“Kalau itu terjadi, biaya pinjaman pemerintah justru bisa naik, bukan turun,” jelasnya.

Disiplin Utang Jadi Faktor Penentu

David menegaskan, pasar tidak akan menilai debt switch sebagai kebijakan tunggal. Investor akan melihatnya dalam konteks yang lebih luas, terutama arah indikator fiskal pemerintah.

Menurutnya, frekuensi debt switching dan tren debt service ratio akan menjadi perhatian utama investor. Jika rasio pembayaran utang terus meningkat, sentimen negatif bisa muncul.

“Kalau debt service ratio makin naik dan debt switching dilakukan berulang, investor bisa menganggapnya sebagai sinyal risiko,” kata David.

Pedang Bermata Dua bagi Pasar Keuangan

Karena itu, David menyimpulkan debt switch dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kebijakan ini membantu mengelola tekanan jangka pendek di pasar obligasi. Namun di sisi lain, tanpa disiplin fiskal yang kuat, kebijakan tersebut berpotensi memicu kekhawatiran investor.

Menurutnya, kunci utama tetap berada pada konsistensi kebijakan fiskal, transparansi pengelolaan utang, serta komunikasi yang jelas kepada pasar.

JAKARTA – Rencana debt switch pemerintah senilai Rp173,4 triliun pada 2026 menuai perhatian ekonom. Meski kebijakan ini berpotensi menahan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), ekonom menilai langkah tersebut menyimpan risiko sentimen negatif apabila pasar menilai pemerintah terlalu bergantung pada bank sentral.

Baca Juga :  Ekonomi 6%, Lapangan Kerja Bakal Meledak! Ini Kata Pemerintah

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai debt switching memang bisa membantu meredam tekanan yield di tengah kenaikan biaya pinjaman pemerintah. Namun, ia menekankan pentingnya membaca reaksi pasar secara lebih luas.

Yield Naik Jadi Latar Belakang Kebijakan

Dalam beberapa waktu terakhir, yield SBN tenor 10 tahun terus bergerak naik. Pada awal Januari 2026, yield masih berada di kisaran 6,04 persen. Hingga 20 Februari 2026, imbal hasil tersebut meningkat menjadi 6,45 persen, atau naik sekitar 41 basis poin.

Menurut David, kenaikan ini wajar terjadi di tengah ketidakpastian global dan tekanan pembiayaan fiskal. Karena itu, pemerintah mencoba menahan gejolak melalui berbagai instrumen pengelolaan utang, termasuk debt switch.

Jangan Jadikan Stabilitas Yield Tujuan Utama

Meski memahami logika kebijakan tersebut, David mengingatkan agar pemerintah tidak menjadikan stabilisasi yield sebagai tujuan utama.

“Yang paling penting tetap menurunkan biaya utang dan mengelola risiko jatuh tempo. Jangan sampai kebijakan ini justru memberi sinyal bahwa pemerintah semakin bergantung pada bantuan bank sentral,” ujar David kepada Bisnis, Selasa (24/2/2026).

Ia menilai pasar keuangan sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan, terutama yang menyangkut hubungan fiskal dan moneter.

Ketergantungan BI Bisa Gerus Kepercayaan Investor

Lebih lanjut, David menyoroti risiko persepsi investor. Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada peran bank sentral untuk menyerap atau mengelola utang negara berpotensi menggerus kepercayaan pasar.

Dalam kondisi global yang tidak pasti, isu seperti ini mudah berkembang dan langsung memengaruhi arus modal. Jika kepercayaan investor melemah, mereka akan menuntut premi risiko lebih tinggi.

“Kalau itu terjadi, biaya pinjaman pemerintah justru bisa naik, bukan turun,” jelasnya.

Disiplin Utang Jadi Faktor Penentu

David menegaskan, pasar tidak akan menilai debt switch sebagai kebijakan tunggal. Investor akan melihatnya dalam konteks yang lebih luas, terutama arah indikator fiskal pemerintah.

Menurutnya, frekuensi debt switching dan tren debt service ratio akan menjadi perhatian utama investor. Jika rasio pembayaran utang terus meningkat, sentimen negatif bisa muncul.

“Kalau debt service ratio makin naik dan debt switching dilakukan berulang, investor bisa menganggapnya sebagai sinyal risiko,” kata David.

Pedang Bermata Dua bagi Pasar Keuangan

Karena itu, David menyimpulkan debt switch dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kebijakan ini membantu mengelola tekanan jangka pendek di pasar obligasi. Namun di sisi lain, tanpa disiplin fiskal yang kuat, kebijakan tersebut berpotensi memicu kekhawatiran investor.

Menurutnya, kunci utama tetap berada pada konsistensi kebijakan fiskal, transparansi pengelolaan utang, serta komunikasi yang jelas kepada pasar.(*)

Berita Terkait

Cara Investasi Emas Digital untuk Pemula 2026, Modal Mulai Rp1.000 Bisa Untung Besar? Simak Panduan Lengkapnya
Laba BTPN Syariah Tembus Rp655 Miliar, Ekspansi Bisnis Terus Berjalan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 25 Juli 2026 Naik, Cek Daftar Lengkapnya
Update Harga BBM Pertamina Hari Ini 25, Cek Daftar Lengkap Pertalite, Pertamax, Dexlite hingga Pertamina Dex
Bansos PKH Terancam Dicoret Jika Terindikasi Judi Online, Ini Aturan Kemensos dan Imbauan Dinsos Sungai Penuh
Modal Rp20 Juta Bisa Jadi Mesin Uang! 5 Ide Bisnis Paling Laris 2026 yang Tetap Untung Meski Ekonomi Lesu
PPPK dan PPPK Paruh Waktu Dapat Angin Segar, Presiden Prabowo Disebut Siapkan Kebijakan Penting
ASN Bisa Kerja Dekat Rumah? BKN Uji Skema Baru, Kabar Baik untuk PNS dan PPPK, Pengeluaran Bisa Jauh Lebih Hemat
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 06:01 WIB

Cara Investasi Emas Digital untuk Pemula 2026, Modal Mulai Rp1.000 Bisa Untung Besar? Simak Panduan Lengkapnya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:01 WIB

Laba BTPN Syariah Tembus Rp655 Miliar, Ekspansi Bisnis Terus Berjalan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:50 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 25 Juli 2026 Naik, Cek Daftar Lengkapnya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:01 WIB

Update Harga BBM Pertamina Hari Ini 25, Cek Daftar Lengkap Pertalite, Pertamax, Dexlite hingga Pertamina Dex

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WIB

Bansos PKH Terancam Dicoret Jika Terindikasi Judi Online, Ini Aturan Kemensos dan Imbauan Dinsos Sungai Penuh

Berita Terbaru