TEKNOLOGI,JS- China terus mempercepat revolusi artificial intelligence (AI) dengan menghadirkan inovasi yang semakin agresif di berbagai sektor. Negeri Tirai Bambu kini tidak hanya memanfaatkan AI untuk chatbot atau otomasi industri, tetapi juga mulai mengintegrasikan teknologi cerdas ke pusat data bawah laut, robot humanoid biomimetik, hingga sektor pertanian modern.
Perkembangan teknologi AI China bahkan mulai mengubah peta persaingan global. Banyak analis menilai ekspansi besar-besaran ini dapat memperkuat dominasi China dalam industri teknologi dunia sekaligus menekan posisi Amerika Serikat dan negara Barat dalam perlombaan kecerdasan buatan.
Laporan terbaru International Federation of Robotics (IFR) menunjukkan bahwa China kini menjadi pasar robot industri terbesar di dunia. Pangsa produsen robot lokal meningkat tajam dari 30 persen pada 2020 menjadi 57 persen pada 2024. Lonjakan tersebut muncul seiring masifnya penggunaan otomatisasi di berbagai sektor industri strategis.
Di industri elektronik global, sebanyak 64 persen robot industri kini beroperasi di China. Produsen lokal juga berhasil memasok sekitar 59 persen kebutuhan robot domestik untuk sektor elektronik. Sementara itu, pada sektor logam dan permesinan, perusahaan robotik asal China berhasil menguasai hingga 85 persen pangsa pasar dalam negeri.
Dominasi tersebut memperlihatkan bagaimana China tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mulai menjelma sebagai pemimpin inovasi AI dunia.
Data Center Bawah Laut Jadi Senjata Baru AI China
China baru-baru ini menarik perhatian dunia setelah mengoperasikan pusat data bawah laut atau underwater data center (UDC) pertama yang menggunakan tenaga listrik dari pembangkit angin lepas pantai.
Fasilitas futuristik tersebut berdiri sekitar 35 meter di bawah permukaan laut dekat Kawasan Khusus Lingang, Shanghai. Nilai investasinya mencapai US$226 juta atau sekitar Rp3,6 triliun.
Pusat data ini menampung hampir 2.000 server berkapasitas tinggi, termasuk klaster GPU untuk kebutuhan artificial intelligence, layanan 5G, cloud computing, serta anotasi data skala besar.
Berbeda dari pusat data konvensional, sistem pendinginan fasilitas ini memanfaatkan suhu alami air laut. Strategi tersebut mampu memangkas konsumsi energi pendingin secara signifikan.
Efisiensi energi menjadi salah satu alasan utama pengembangan pusat data bawah laut. Menurut laporan media China, fasilitas tersebut berhasil mencatat angka Power Usage Effectiveness (PUE) di bawah 1,15. Angka itu jauh lebih rendah dibanding rata-rata pusat data global yang masih berada di kisaran 1,5.
Semakin rendah nilai PUE, semakin hemat energi sebuah pusat data. Kondisi ini menjadi sangat penting karena industri AI global kini menghadapi lonjakan konsumsi listrik akibat kebutuhan komputasi yang terus meningkat.
Selain menggunakan pendinginan alami laut, fasilitas ini juga mendapat suplai listrik dari offshore wind farm atau pembangkit angin lepas pantai. Langkah tersebut memperkuat strategi China dalam mengembangkan green AI infrastructure yang lebih ramah lingkungan.
Banyak pakar teknologi menilai proyek ini dapat menjadi model baru pembangunan data center masa depan. Jika teknologi tersebut berhasil diterapkan secara luas, biaya operasional pusat data AI global dapat turun drastis.
Robot Humanoid China Semakin Mirip Manusia
Selain membangun infrastruktur AI canggih, China juga mulai memimpin pengembangan robot humanoid generasi baru.
Salah satu inovasi terbaru datang dari startup robotika asal Shanghai bernama Droidup yang memperkenalkan robot biomimetik bernama Moya.
Robot ini langsung menarik perhatian publik karena tampil sangat menyerupai manusia. Droidup merancang Moya dengan tekstur kulit hangat dan suhu tubuh antara 32 hingga 36 derajat Celsius agar interaksi terasa lebih natural.
Moya juga memiliki kemampuan pelacakan wajah, membaca mikroekspresi, serta merespons percakapan berbasis AI secara real time.
Teknologi tersebut memungkinkan robot berinteraksi secara sosial dengan lebih alami dibanding robot humanoid konvensional.
Droidup menyebut Moya sebagai “robot cerdas biomimetik sepenuhnya” karena menggabungkan kecerdasan buatan, sensor emosi, dan desain fisik menyerupai manusia.
Perusahaan itu menargetkan penggunaan robot untuk sektor kesehatan, pendidikan, layanan pelanggan, hingga pendamping lansia.
Robot ini menggunakan sistem rangka internal Walker 3 dan memiliki tingkat akurasi berjalan hingga 92 persen.
Meski terlihat futuristik, perkembangan robot humanoid ultra-realistis juga memunculkan kekhawatiran baru. Sejumlah pakar teknologi menilai robot yang terlalu mirip manusia dapat memicu efek uncanny valley, yaitu rasa tidak nyaman ketika manusia melihat robot dengan tampilan nyaris sempurna.
Namun, kekhawatiran tersebut tampaknya tidak menghambat ambisi China untuk mempercepat pengembangan humanoid AI.
Moya diperkirakan mulai dipasarkan dengan harga sekitar 1,2 juta yuan atau setara miliaran rupiah.
Robot AI China Kini Jadi Petani Teh Pintar
Ekspansi AI China juga mulai menjangkau sektor pertanian modern. Teknologi robot humanoid kini bahkan diterjunkan langsung ke kebun teh di Provinsi Fujian.
Pengujian tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju ajang 2026 World Humanoid Robot Games.
Dalam simulasi lapangan, robot AI bertugas mengenali daun teh berdasarkan tingkat kematangannya. Setelah itu, robot memetik hasil panen, membawa beban di medan berbukit, hingga membantu proses penjemuran dan pemanggangan teh.
Pengembangan teknologi ini tidak berlangsung di laboratorium tertutup. Para peneliti sengaja menguji robot di lingkungan nyata dengan berbagai tantangan kompleks.
Robot harus menghadapi medan tidak rata, perubahan pencahayaan, cuaca dinamis, hingga bentuk daun teh yang tidak seragam.
China Daily menyebut kebun teh dipilih karena menjadi salah satu lingkungan paling sulit untuk pengembangan embodied AI atau AI yang terintegrasi dengan tubuh robot fisik.
Embodied AI dianggap sebagai langkah penting menuju era robot cerdas yang mampu bekerja secara mandiri di dunia nyata tanpa bergantung penuh pada pengaturan manusia.
Jika teknologi ini berkembang lebih jauh, sektor pertanian global berpotensi mengalami transformasi besar.
Robot AI dapat membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang.
China Semakin Dekat Jadi Raja Artificial Intelligence Dunia
Perkembangan teknologi AI China menunjukkan bahwa negara tersebut kini tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan dari Barat.
China mulai membangun ekosistem artificial intelligence yang lengkap, mulai dari infrastruktur data center, industri robotik, energi hijau, hingga penerapan AI di sektor pertanian dan layanan publik.
Strategi tersebut membuat China semakin dekat menuju posisi sebagai pemimpin AI global.
Banyak perusahaan teknologi dunia kini mulai memperhatikan langkah agresif China karena dampaknya dapat mengubah persaingan industri internasional.
Dominasi robot industri, pengembangan humanoid AI, serta inovasi pusat data bawah laut menjadi bukti bahwa China sedang menyiapkan fondasi teknologi masa depan dalam skala besar.
Jika tren ini terus berlanjut, persaingan artificial intelligence antara China dan Amerika Serikat diperkirakan akan semakin panas dalam beberapa tahun mendatang.(*)









