KERINCI,JS- Euforia penyelenggaraan Asia MX Bupati Kerinci Cup 2026 di kawasan Lahar Dingin, Desa Sungai Rumpun, Kecamatan Kayu Aro, masih terasa di tengah masyarakat. Ribuan penonton memadati arena balap motor yang menjadi salah satu event otomotif terbesar di wilayah Kerinci tersebut.
Namun, di balik kemeriahan balapan dan ramainya aktivitas ekonomi lokal, berbagai polemik justru muncul setelah perlombaan berakhir. Perdebatan publik kini tidak lagi berfokus pada aksi pembalap di lintasan, melainkan beralih ke isu hadiah juara umum, tarif fasilitas umum, hingga transparansi penyelenggaraan.
Topik tersebut berkembang cepat di media sosial dan memunculkan diskusi panjang mengenai standar penyelenggaraan event olahraga dan sport tourism di daerah.
Hadiah Juara Umum Asia MX Kerinci Jadi Perdebatan Baru
Sorotan terbaru muncul setelah informasi mengenai hadiah juara umum beredar luas di media sosial. Sebagian warganet mempertanyakan kondisi hadiah yang disebut berupa kendaraan bekas.
Perdebatan semakin ramai setelah salah satu pembalap, M Athar, menyampaikan kekecewaannya melalui siaran langsung di TikTok usai prosesi penyerahan hadiah berlangsung. Potongan video tersebut kemudian menyebar luas dan memancing reaksi beragam dari masyarakat.
Sebagian pengguna media sosial menilai tidak ada masalah jika panitia sudah menjelaskan spesifikasi hadiah sejak awal. Di sisi lain, banyak pihak meminta penyelenggara membuka informasi hadiah secara rinci agar peserta memahami seluruh ketentuan sebelum mengikuti perlombaan.
Karena event ini melibatkan pembalap dari berbagai daerah, transparansi hadiah menjadi perhatian utama. Publik menilai kejelasan informasi sangat penting untuk menjaga kepercayaan peserta sekaligus mempertahankan reputasi event otomotif daerah.
Viral di Media Sosial, Publik Pertanyakan Transparansi Event
Dalam beberapa hari terakhir, kata kunci terkait Asia MX Bupati Kerinci Cup 2026 ramai muncul di berbagai platform digital.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini tidak hanya menilai kualitas perlombaan dari sisi teknis balap motor saja. Penonton dan peserta juga memperhatikan aspek pelayanan, fasilitas, serta profesionalisme panitia.
Media sosial mempercepat penyebaran opini publik. Karena itu, isu yang sebenarnya bersifat teknis bisa berkembang menjadi pembahasan nasional apabila penyelenggara tidak memberikan penjelasan secara cepat dan terbuka.
Banyak pengguna internet meminta klarifikasi resmi agar informasi yang beredar tidak berkembang menjadi spekulasi.
Tarif Toilet Rp10 Ribu Lebih Dulu Picu Kritik Pengunjung
Sebelum polemik hadiah mencuat, pengunjung lebih dulu memperdebatkan biaya penggunaan toilet umum di area sirkuit.
Sejumlah pengunjung mengaku membayar Rp10 ribu untuk sekali penggunaan toilet. Keluhan tersebut langsung menyebar di media sosial dan mengundang banyak komentar.
Bagi sebagian pengunjung, tarif tersebut terasa cukup tinggi, terutama untuk keluarga yang datang bersama anak-anak. Banyak pengguna media sosial kemudian membandingkan biaya tersebut dengan tarif toilet di lokasi wisata lain yang rata-rata berada di kisaran Rp2 ribu hingga Rp5 ribu.
Masalah fasilitas umum ini akhirnya memperluas kritik terhadap penyelenggaraan acara secara keseluruhan.
Dampak terhadap Pariwisata dan Sport Tourism Kerinci
Kerinci selama beberapa tahun terakhir aktif memanfaatkan event olahraga untuk mendorong sektor pariwisata daerah.
Strategi sport tourism memang terbukti mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Hotel, homestay, pelaku UMKM, pedagang makanan, hingga jasa transportasi biasanya ikut merasakan dampak positif dari event besar.
Namun, polemik yang muncul secara beruntun dapat memengaruhi citra destinasi apabila tidak ditangani dengan baik.
Pengalaman pengunjung saat menghadiri event memiliki peran besar dalam membangun persepsi terhadap suatu daerah. Karena itu, pelayanan, fasilitas, dan komunikasi publik menjadi elemen yang tidak bisa dipisahkan dari kesuksesan sebuah acara.
Pemerhati Pariwisata Minta Evaluasi Menyeluruh
Pemerhati pariwisata Kerinci-Sungai Penuh, Roni, menilai seluruh kritik yang berkembang sebaiknya dijadikan bahan evaluasi bersama.
Menurutnya, kesuksesan event tidak hanya diukur dari jumlah penonton atau ramainya arena balap. Penyelenggara juga perlu memastikan peserta dan pengunjung memperoleh pengalaman yang baik selama kegiatan berlangsung.
Ia menekankan pentingnya evaluasi terhadap fasilitas pendukung, sistem informasi, hingga mekanisme pelayanan di lapangan.
Jika seluruh aspek tersebut diperbaiki, event serupa berpotensi menjadi agenda unggulan yang mampu memperkuat posisi Kerinci sebagai destinasi wisata olahraga di Indonesia.
Transparansi Menjadi Kunci Menjaga Kepercayaan Publik
Kasus yang berkembang setelah Asia MX Bupati Kerinci Cup 2026 memberikan pelajaran penting mengenai pentingnya transparansi.
Informasi mengenai hadiah, biaya layanan, fasilitas umum, hingga aturan perlombaan perlu disampaikan secara rinci sebelum event berlangsung.
Komunikasi yang jelas dapat mengurangi kesalahpahaman sekaligus meningkatkan kepercayaan peserta.
Saat publik memperoleh informasi yang lengkap, fokus perhatian akan kembali kepada prestasi pembalap, dampak ekonomi lokal, serta keberhasilan penyelenggaraan acara.
Kini masyarakat masih menunggu penjelasan resmi dari panitia terkait berbagai isu yang berkembang.
Terlepas dari polemik yang muncul, banyak pihak berharap evaluasi menyeluruh dapat menghasilkan penyelenggaraan event yang lebih profesional, transparan, dan mampu memperkuat citra Kerinci sebagai salah satu destinasi sport tourism unggulan di Indonesia.(*)









