JAMBBI,JS- Musim kemarau yang mulai berlangsung di Provinsi Jambi membawa dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu persoalan yang kini menjadi perhatian adalah menurunnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kota Jambi. Debit air sumur warga terus menyusut sehingga banyak keluarga harus mencari alternatif demi memenuhi kebutuhan air setiap hari.
Fenomena ini tidak hanya meningkatkan beban ekonomi rumah tangga, tetapi juga mengubah pola aktivitas masyarakat. Sebagian warga memilih membeli air menggunakan mobil tangki, sementara lainnya rela bangun sebelum matahari terbit untuk mencari sumber air yang masih tersedia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan krisis air bersih Jambi bukan lagi ancaman, melainkan telah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Musim Kemarau Menurunkan Debit Air Sumur Warga
Dalam beberapa pekan terakhir, curah hujan yang terus menurun membuat banyak sumur warga mengalami penyusutan debit air secara signifikan. Beberapa sumur bahkan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Akibatnya, masyarakat mulai bergantung pada pasokan air dari luar. Mobil tangki air bersih menjadi salah satu solusi tercepat, meskipun biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit.
Harga air bersih yang dijual menggunakan mobil tangki kini berada pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu untuk setiap 1.000 liter.
Air tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari mandi, mencuci pakaian, memasak, mencuci peralatan dapur, hingga kebutuhan sanitasi lainnya.
Pengeluaran Rumah Tangga Meningkat Selama Kemarau
Bagi sebagian keluarga, membeli air bersih kini menjadi pengeluaran rutin yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan.
Ana, salah seorang warga Kota Jambi, mengatakan keluarganya harus menyediakan anggaran khusus agar kebutuhan air tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
Menurutnya, sumur di rumah sudah tidak mampu lagi menghasilkan air dalam jumlah cukup sehingga keluarga memilih membeli air melalui mobil tangki.
“Kalau sekarang minimal dua kali dalam seminggu kami membeli air. Sekali pesan harganya sekitar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per seribu liter,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).
Jika menggunakan harga rata-rata Rp70 ribu sebanyak dua kali setiap pekan, maka biaya yang harus disiapkan mencapai sekitar Rp560 ribu setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Nominal tersebut tentu menjadi tambahan beban bagi keluarga yang sebelumnya tidak pernah mengalokasikan anggaran khusus untuk air.
Ana mengaku tidak memiliki banyak pilihan karena kebutuhan air merupakan kebutuhan utama yang tidak dapat ditunda.
“Kalau tidak beli air, kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak tentu terganggu. Jadi mau tidak mau harus disisihkan uang khusus,” katanya.
Biaya Hidup Ikut Naik Akibat Sulitnya Air Bersih
Kondisi serupa juga dirasakan Suryani, warga Kota Jambi lainnya.
Ia menjelaskan bahwa pengeluaran rumah tangga meningkat cukup signifikan sejak musim kemarau mulai berlangsung.
Menurut Suryani, keluarganya juga harus membeli air sebanyak dua kali dalam seminggu agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan normal.
“Dalam seminggu biasanya dua kali beli air. Kalau dihitung dalam sebulan lumayan juga biayanya karena harus menambah pengeluaran untuk air bersih,” ujarnya.
Suryani menilai kondisi tersebut mulai terasa ketika debit air sumur di lingkungan tempat tinggalnya terus mengalami penurunan.
Selain menambah pengeluaran, situasi itu juga membuat masyarakat harus lebih hemat menggunakan air agar persediaan tidak cepat habis.
Berburu Air Sejak Pukul 04.00 WIB
Tidak semua warga memiliki kemampuan membeli air tangki secara rutin.
Sebagian masyarakat memilih mencari sumber air alternatif yang masih tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Yeni menjadi salah satu warga yang melakukan cara tersebut.
Setiap hari, ia membawa beberapa jeriken menuju sebuah rumah kosong yang masih memiliki sumur dengan debit air cukup.
Agar tidak mengantre panjang, Yeni berangkat sejak pukul 04.00 WIB.
Ia memanfaatkan waktu sebelum warga lain mulai mengambil air.
Air yang berhasil dibawanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan mandi, memasak, mencuci pakaian, hingga membersihkan rumah.
Aktivitas tersebut kini menjadi rutinitas baru selama musim kemarau berlangsung.
Permintaan Air Tangki Diperkirakan Terus Naik
Meningkatnya jumlah warga yang membeli air bersih diperkirakan akan mendorong permintaan terhadap jasa mobil tangki selama musim kemarau.
Jika kondisi cuaca kering masih berlangsung dalam beberapa minggu ke depan, kebutuhan air bersih diprediksi akan terus meningkat.
Situasi tersebut berpotensi membuat masyarakat mengeluarkan biaya lebih besar, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki akses terhadap jaringan air perpipaan.
Selain itu, meningkatnya permintaan juga dapat memicu antrean distribusi air bersih apabila pasokan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kekeringan Menjadi Dampak Perubahan Iklim
Fenomena berkurangnya air tanah saat musim kemarau tidak hanya terjadi di Jambi.
Berbagai daerah di Indonesia juga mulai menghadapi tantangan yang sama akibat musim kering berkepanjangan.
Secara global, para ahli mengaitkan kondisi tersebut dengan fenomena climate change, meningkatnya suhu permukaan bumi, serta perubahan pola curah hujan.
Istilah seperti water crisis, clean water, dan drought kini semakin sering muncul dalam berbagai laporan internasional karena banyak negara menghadapi persoalan serupa.
Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Masyarakat Diminta Menghemat Penggunaan Air
Di tengah menurunnya debit air tanah, masyarakat perlu menggunakan air secara lebih bijaksana.
Langkah sederhana seperti mengurangi pemborosan air saat mencuci, memperbaiki saluran yang bocor, serta menampung air hujan ketika musim penghujan kembali datang dapat membantu menjaga cadangan air.
Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait juga diharapkan terus memantau kondisi kekeringan dan memastikan distribusi air bersih tetap berjalan apabila masyarakat membutuhkan bantuan.
Krisis Air Bersih Menjadi Tantangan Bersama
Musim kemarau tahun ini kembali mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Bagi warga Kota Jambi, persoalan air bersih kini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi telah memengaruhi ekonomi keluarga dan aktivitas sehari-hari.
Sebagian masyarakat harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah setiap bulan untuk membeli air, sedangkan sebagian lainnya rela bangun sejak dini hari demi memperoleh beberapa jeriken air bersih.
Jika musim kemarau berlangsung lebih lama, tantangan tersebut diperkirakan akan semakin besar. Karena itu, sinergi antara pemerintah, penyedia layanan air bersih, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga ketersediaan air sekaligus meminimalkan dampak kekeringan terhadap kehidupan sehari-hari.(*)










