Kualitas Udara Kota Jambi Memburuk, ISPU 104 Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diminta Waspada

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI,JS- Kualitas udara di Kota Jambi menunjukkan penurunan di tengah musim kemarau dan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Data pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi pada Senin, 10 Agustus 2026, sekitar pukul 15.00 WIB menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Jambi mencapai angka 104.

Angka tersebut menempatkan kualitas udara Kota Jambi dalam kategori tidak sehat. Kondisi ini menjadi perhatian karena masyarakat mulai merasakan perubahan kualitas udara, terutama ketika asap dan partikel pencemar mulai memengaruhi lingkungan perkotaan.

DLH Kota Jambi juga menyoroti PM2,5 sebagai parameter yang paling dominan memengaruhi kualitas udara saat ini.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara tidak hanya berkaitan dengan asap yang terlihat secara kasat mata. Partikel berukuran sangat kecil juga ikut meningkatkan tingkat pencemaran udara dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

PM2,5 Jadi Parameter Dominan dalam Penurunan Kualitas Udara

Kepala DLH Kota Jambi, Mahruzar, menjelaskan bahwa PM2,5 menjadi parameter utama yang memengaruhi kondisi udara Kota Jambi.

Menurut Mahruzar, partikel tersebut berkaitan dengan debu, hasil pembakaran, dan asap yang tidak selalu terlihat oleh mata.

“Yang dominan itu PM2,5 dan angka itu pasti naik terus. Itu dilihat dari hasil debu yang diidentifikasi dari pembakaran dan asap yang tidak terlihat dengan kasat mata,” ujar Mahruzar.

PM2,5 memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga partikel tersebut dapat menjadi perhatian serius dalam pemantauan pencemaran udara. Sumbernya dapat berasal dari berbagai aktivitas pembakaran, termasuk kebakaran lahan yang menghasilkan asap dan partikulat.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa kondisi udara tidak selalu bisa dinilai hanya dari seberapa tebal asap yang terlihat.

Udara yang tampak relatif bersih tetap dapat mengandung partikel pencemar berukuran sangat kecil. Sebaliknya, ketika aktivitas pembakaran meningkat dan kondisi cuaca mendukung penyebaran asap, konsentrasi partikulat dapat berubah dengan cepat.

Baca Juga :  Musim Kemarau Memuncak, 8 Kabupaten Jambi Waspadai Karhutla dan Kabut Asap

Warga Kota Jambi Mulai Merasakan Dampak Asap

Mahruzar mengatakan masyarakat mulai merasakan perubahan kualitas udara di Kota Jambi.

“Kita sudah bisa merasakan udara di Kota Jambi ini sudah banyak asap,” ujarnya.

Kondisi tersebut muncul ketika wilayah Jambi menghadapi periode kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Cuaca yang lebih kering membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Pada saat yang sama, angin dapat membawa asap dari lokasi kebakaran menuju wilayah lain.

Situasi itu membuat kualitas udara perkotaan dapat berubah meskipun sumber kebakaran tidak berada tepat di pusat Kota Jambi.

Karena itu, pemantauan air quality atau kualitas udara menjadi semakin penting. Pemerintah dan masyarakat perlu memperhatikan perkembangan ISPU serta sumber pencemaran yang muncul di sekitar wilayah Jambi.

ISPU Kota Jambi Bisa Memburuk Jika Karhutla Terus Meningkat

Angka ISPU 104 pada Senin sore menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

Namun, kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca, arah angin, kelembapan, serta aktivitas kebakaran di berbagai wilayah.

Jika kebakaran terus meluas, konsentrasi partikulat di udara berpotensi meningkat. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk air pollution dan memperluas penyebaran wildfire smoke atau asap kebakaran.

Mahruzar mengatakan Pemerintah Kota Jambi membuka kemungkinan meningkatkan kewaspadaan apabila kualitas udara terus menurun.

Meski demikian, pemerintah tidak dapat menetapkan status siaga secara sepihak. Pemkot Jambi perlu menggelar rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk mengevaluasi perkembangan kualitas udara dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Jika terus mengalami penurunan, bisa saja menetapkan kondisi siaga. Namun untuk penetapan siaga, dilakukan rapat koordinasi terlebih dahulu,” jelasnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah masih memantau situasi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

Luas Karhutla Jambi Tembus 300 Hektare

Penurunan kualitas udara Kota Jambi juga berlangsung bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, luas lahan yang terbakar di sejumlah wilayah Jambi telah mencapai 300,12 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan angka tersebut masih dapat bertambah.

Pasalnya, petugas masih melakukan pendataan di sejumlah wilayah yang mengalami kebakaran. Selain itu, tim juga perlu menunggu proses pendinginan sebelum menghitung luas area yang terbakar secara lebih akurat.

“Kenapa masih 300 hektare, karena ada beberapa daerah yang belum bisa kita hitung,” ujar Bachyuni pada Senin, 10 Agustus 2026.

Dengan demikian, angka 300,12 hektare belum menggambarkan keseluruhan luas lahan yang terbakar di Jambi.

Muaro Jambi Diperkirakan Menambah Luasan Karhutla

Bachyuni menyebut sejumlah lokasi kebakaran berada di Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Tim BPBD masih melakukan pendataan terhadap sejumlah lokasi. Setelah petugas menyelesaikan proses pendinginan, tim dapat melakukan penghitungan luasan lahan secara lebih menyeluruh.

Baca Juga :  Karhutla Sungai Gelam Meluas hingga 50 Hektare, Kapolres Muaro Jambi Turun Tangan dan Pasang Police Line

“Nanti kalau sudah dilakukan pendinginan baru bisa. Tapi angkanya itu di atas 300 hektare lebih, karena Muaro Jambi belum masuk. Muaro Jambi diperkirakan di atas 50 hektare,” jelasnya.

Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa total luas karhutla di Jambi berpotensi melampaui angka 300 hektare.

Kondisi ini sekaligus menjadi salah satu faktor yang perlu pemerintah perhatikan dalam membaca perkembangan kualitas udara di Kota Jambi.

Arah Angin Berpengaruh terhadap Penyebaran Asap

Selain lokasi kebakaran, arah angin juga memainkan peran penting dalam penyebaran asap.

Bachyuni menjelaskan bahwa pergerakan angin saat ini bergerak dari arah tenggara menuju utara.

Pola angin tersebut dapat membawa asap dari wilayah tertentu menuju kawasan lain. Karena itu, pemerintah tidak dapat langsung menyimpulkan satu lokasi sebagai sumber kabut asap yang muncul di Kota Jambi.

Tim harus melihat arah angin, lokasi titik kebakaran, kondisi cuaca, serta perkembangan kebakaran di sejumlah wilayah.

“Faktor arah angin juga bisa, dari tenggara ke utara. Di Medak Sumatera Selatan juga terbakar. Hanya saja kita tidak bisa menjustic, kalau asap itu kita melihat arah anginnya dulu,” jelas Bachyuni.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa analisis kabut asap membutuhkan data yang lebih lengkap. Pemerintah perlu menghubungkan data kebakaran dengan pola pergerakan angin sebelum menentukan sumber asap.

Kebakaran di Sumatera Selatan Ikut Dipantau

Selain titik kebakaran di wilayah Jambi, BPBD juga memantau kebakaran lahan di Desa Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Lokasi tersebut berada di wilayah yang berdekatan dengan Provinsi Jambi. Karena itu, perkembangan kebakaran di wilayah perbatasan juga perlu mendapat perhatian.

Angin yang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain dapat membawa asap dalam jarak tertentu. Namun, pemerintah tetap membutuhkan analisis arah angin untuk memastikan kemungkinan hubungan antara titik kebakaran dengan kabut asap yang muncul di Kota Jambi.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat menghindari kesimpulan terburu-buru mengenai sumber asap.

Mengapa PM2,5 Perlu Mendapat Perhatian?

PM2,5 menjadi salah satu indikator penting dalam membaca pencemaran udara.

Partikel tersebut memiliki ukuran sangat kecil sehingga masyarakat tidak selalu dapat melihat keberadaannya. Aktivitas pembakaran, kebakaran hutan dan lahan, serta berbagai sumber emisi dapat menghasilkan partikulat tersebut.

Ketika konsentrasi PM2,5 meningkat, masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Terlebih lagi, kualitas udara dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Arah angin, aktivitas kebakaran, kondisi atmosfer, dan faktor cuaca dapat memengaruhi konsentrasi partikulat.

Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi pemerintah mengenai perkembangan ISPU dan kondisi karhutla.

Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat Saat ISPU Memburuk?

Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.

Pertama, masyarakat dapat mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak ketika kondisi udara memburuk.

Kedua, masyarakat dapat memantau informasi ISPU melalui kanal resmi pemerintah agar mengetahui perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu.

Ketiga, masyarakat perlu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Jika asap mulai semakin tebal atau jarak pandang menurun, masyarakat sebaiknya mengurangi paparan langsung terhadap udara luar.

Keempat, penggunaan masker yang sesuai dapat menjadi salah satu langkah perlindungan dari paparan partikulat ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara perlu mendapatkan perhatian lebih dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Karhutla dan Kualitas Udara Menjadi Perhatian Utama Jambi

Perkembangan karhutla di Jambi menunjukkan bahwa persoalan lingkungan pada musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan.

Asap hasil pembakaran dapat menyebar mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin. Ketika asap mencapai wilayah perkotaan, kualitas udara dapat ikut mengalami penurunan.

Kota Jambi kini menghadapi kondisi tersebut dengan angka ISPU 104 dan PM2,5 sebagai parameter dominan.

Pada saat yang sama, BPBD Jambi masih menghadapi pekerjaan untuk menyelesaikan pendataan luas kebakaran di sejumlah wilayah.

Situasi ini membuat koordinasi lintas instansi menjadi penting. DLH perlu terus memantau kualitas udara, sedangkan BPBD bersama instansi terkait perlu menangani titik kebakaran dan melakukan pendataan.

Pemerintah juga perlu terus menyampaikan informasi yang mudah dipahami masyarakat agar warga dapat mengambil langkah pencegahan sesuai kondisi udara terkini.

Status Siaga Masih Menunggu Hasil Koordinasi

Pemerintah Kota Jambi belum langsung menetapkan status siaga meskipun kualitas udara sudah masuk kategori tidak sehat.

Pemkot terlebih dahulu melihat perkembangan angka ISPU dan dampak kondisi udara terhadap masyarakat.

Jika kualitas udara terus menurun, pemerintah dapat mempertimbangkan langkah lanjutan melalui rapat koordinasi bersama instansi terkait.

Keputusan tersebut penting karena status siaga membutuhkan pertimbangan berdasarkan data dan kondisi lapangan, bukan hanya satu indikator.

Dengan demikian, perkembangan ISPU, konsentrasi PM2,5, luas karhutla, arah angin, serta kondisi masyarakat perlu menjadi bahan evaluasi secara bersama-sama.

Kesimpulan

Kualitas udara Kota Jambi memburuk dengan ISPU mencapai 104 pada Senin, 10 Agustus 2026 sekitar pukul 15.00 WIB. DLH Kota Jambi mencatat PM2,5 sebagai parameter dominan yang memengaruhi penurunan kualitas udara.

Di sisi lain, BPBD Provinsi Jambi mencatat luas karhutla telah mencapai 300,12 hektare dan angka tersebut masih berpotensi bertambah karena sejumlah wilayah belum menyelesaikan pendataan.

Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi beberapa wilayah yang mendapat perhatian. BPBD juga memantau kebakaran di Desa Medak, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Arah angin dari tenggara menuju utara turut menjadi faktor yang perlu pemerintah perhatikan ketika menganalisis penyebaran asap.

Untuk sementara, Pemerintah Kota Jambi terus memantau perkembangan kualitas udara. Jika kondisi semakin memburuk, pemerintah dapat meningkatkan kewaspadaan melalui koordinasi lintas instansi.

Bagi masyarakat, kondisi ISPU 104, PM2.5, air pollution, dan wildfire smoke menjadi pengingat agar tidak mengabaikan kualitas udara selama musim kemarau. Memantau informasi resmi dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara dapat membantu masyarakat mengurangi paparan polusi.

Perkembangan kualitas udara Kota Jambi selanjutnya akan sangat bergantung pada kondisi karhutla, cuaca, arah angin, serta efektivitas penanganan kebakaran di sejumlah wilayah Jambi dan daerah sekitarnya.(*)

Berita Terkait

Calon Pelanggan Harap Bersabar! Perumda Tirta Khayangan Sungai Penuh Belum Bisa Tambah Sambungan Baru
Bupati Hurmin Temui Mensos Gus Ipul, Bahas Penguatan Bansos dan Perlindungan Sosial untuk Warga Sarolangun
Musim Kemarau Bawa Rezeki Bagi Nelayan, Harga Udang Mantis di Tanjab Timur Tembus Rp100 Ribu per Ekor
Kerinci Raih Terbaik II Program 3 Juta Rumah Regional Sumatera, Bonus 250 Unit Bedah Rumah untuk Warga
Kabar Terbaru Seleksi CPNS Sungai Penuh 2026, Ini Penjelasan BKPSDM Usai Berkoordinasi dengan Kemenpan RB
Diterima Langsung Walikota Alfin, Sungai Penuh Raih Apresiasi Pemerintah Pusat 2026, Dapat Insentif Fiskal Rp1,5 Miliar untuk Akses Pendidikan
Tol Jambi-Rengat Dikebut, Pembebasan Lahan Ditargetkan Tuntas Desember 2026, Konstruksi Mulai 2027
Perubahan KUA-PPAS Sungai Penuh 2026 Dibahas, Pendapatan Daerah Naik Rp5 Miliar
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:20 WIB

Kualitas Udara Kota Jambi Memburuk, ISPU 104 Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diminta Waspada

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:31 WIB

Calon Pelanggan Harap Bersabar! Perumda Tirta Khayangan Sungai Penuh Belum Bisa Tambah Sambungan Baru

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:31 WIB

Bupati Hurmin Temui Mensos Gus Ipul, Bahas Penguatan Bansos dan Perlindungan Sosial untuk Warga Sarolangun

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Musim Kemarau Bawa Rezeki Bagi Nelayan, Harga Udang Mantis di Tanjab Timur Tembus Rp100 Ribu per Ekor

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:30 WIB

Kerinci Raih Terbaik II Program 3 Juta Rumah Regional Sumatera, Bonus 250 Unit Bedah Rumah untuk Warga

Berita Terbaru