Tol Jambi-Rengat Dikebut, Pembebasan Lahan Ditargetkan Tuntas Desember 2026, Konstruksi Mulai 2027

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tol Jambi-Rengat

Tol Jambi-Rengat

JAMBI,JS- Pemerintah Provinsi Jambi kembali mempercepat pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Jambi-Rengat Fase I. Gubernur Jambi Al Haris kini memasang target tegas agar seluruh persoalan lahan yang masuk dalam jalur pembangunan tol tersebut selesai pada akhir 2026.

Al Haris menyampaikan target tersebut saat memimpin rapat koordinasi percepatan pembangunan Tol Jambi-Rengat Fase I di Aula Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Jambi.

Pemerintah Provinsi Jambi ingin proses pengadaan lahan bergerak lebih cepat. Setelah itu, pemerintah berharap kontraktor dapat langsung memulai pekerjaan fisik pada awal 2027.

Target tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Jambi. Kehadiran jalan tol nantinya tidak hanya memperbaiki konektivitas antardaerah, tetapi juga membuka peluang investasi, mempercepat distribusi barang, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah yang masuk dalam koridor tol.

Al Haris Targetkan Penlok Rampung 5 September 2026

Dalam rapat tersebut, Al Haris meminta seluruh pihak mempercepat penyelesaian administrasi dan pendataan lahan.

Ia menargetkan penetapan lokasi atau penlok pembangunan Tol Jambi-Rengat Fase I rampung paling lambat 5 September 2026.

Setelah penlok selesai, pemerintah akan melanjutkan proses pengadaan dan pembayaran ganti untung kepada masyarakat yang lahannya masuk dalam jalur pembangunan.

“Penetapan lokasi ditargetkan harus rampung paling lambat 5 September 2026, disusul penyelesaian pembebasan lahan secara menyeluruh pada bulan Desember,” kata Al Haris, Selasa (11/8/2026).

Pemerintah Provinsi Jambi saat ini kembali melakukan pendataan terhadap bidang tanah masyarakat yang terdampak pembangunan.

Langkah tersebut penting karena pemerintah ingin memastikan seluruh data lahan sesuai dengan kondisi terbaru di lapangan.

Selain tanah milik masyarakat, tim juga mendata sejumlah fasilitas umum yang berada di sekitar jalur tol.

Sekolah dan Fasilitas Umum Ikut Masuk Pendataan

Pembangunan jalan tol dalam skala besar membutuhkan data lahan yang akurat. Karena itu, pemerintah tidak hanya mendata bidang tanah milik masyarakat.

Tim juga mencatat keberadaan fasilitas umum, sekolah, bangunan, serta aset lain yang berada pada area pembangunan.

“Pendataan ulang ini juga mencakup fasum yang terdampak. Mungkin ada sekolah, ada bangunan, dan semuanya sudah terdata oleh teman-teman,” ujar Al Haris.

Data tersebut kemudian menjadi dasar pemerintah dalam menyiapkan penlok dan proses pembayaran ganti untung.

Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap persoalan administrasi tidak menghambat pekerjaan pembangunan ketika kontraktor mulai masuk ke lapangan.

Proses pendataan juga menjadi bagian penting untuk memberikan kepastian kepada masyarakat yang lahannya terdampak.

Baca Juga :  Target Pembangunan 2027, Tol Jambi–Rengat Masuk Prioritas

Dana Ganti Untung Sudah Disiapkan

Salah satu faktor yang dapat mempercepat pengadaan lahan adalah kesiapan anggaran.

Menurut Al Haris, pemerintah sudah menyiapkan dana untuk pembayaran ganti untung kepada masyarakat.

Karena itu, ia meminta seluruh tahapan administrasi berjalan cepat sehingga masyarakat dapat segera memperoleh haknya sesuai ketentuan.

“Kami langsung menyiapkan penlok dan ganti rugi lahannya, ganti untung lahannya,” kata Al Haris.

Ia menambahkan bahwa dana untuk pembayaran kepada masyarakat sudah tersedia.

“Dana sudah siap untuk dibayarkan ke masyarakat, kami cepat prosesnya. Karena cukup lama juga waktunya nanti itu,” ujarnya.

Kesiapan anggaran tersebut menjadi modal penting dalam mempercepat proyek strategis ini.

Bagi masyarakat, kepastian mengenai proses pembayaran juga menjadi hal penting sebelum pemerintah dan kontraktor melanjutkan pekerjaan di lapangan.

Pembebasan Lahan Ditargetkan Clear and Clean

Pemerintah Provinsi Jambi ingin menyelesaikan seluruh persoalan lahan pada Desember 2026.

Al Haris bahkan menegaskan target clear and clean untuk seluruh lahan yang berada di jalur Tol Jambi-Rengat Fase I.

“Kami sudah sampaikan akhir Desember semua sudah clear and clean. Semua lahan, ruas yang akan dilalui oleh jalan tol Jambi-Rengat itu sudah clear semuanya,” kata Al Haris.

Target tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin menghindari persoalan lahan ketika pekerjaan konstruksi mulai berjalan.

Pengadaan lahan memang menjadi salah satu tahapan penting dalam proyek infrastruktur jalan tol. Pemerintah perlu memastikan status bidang tanah, pemilik, batas lahan, hingga pembayaran kompensasi sebelum pekerjaan konstruksi berlangsung.

Karena itu, percepatan pada 2026 menjadi sangat penting agar proyek dapat masuk ke tahap fisik sesuai jadwal.

Konstruksi Ditargetkan Mulai Januari 2027

Jika proses pengadaan lahan selesai pada Desember 2026, pemerintah menargetkan pekerjaan fisik dapat berjalan pada Januari 2027.

Al Haris menyebut pemerintah ingin seluruh persoalan lahan selesai terlebih dahulu agar kontraktor dapat langsung bergerak ketika memasuki tahun anggaran berikutnya.

“Desember selesainya semua. Supaya nanti Januari sudah mulai mereka action di lapangan,” kata Al Haris.

Target tersebut menjadi kabar penting bagi perkembangan infrastruktur Jambi.

Pasalnya, pembangunan jalan tol dapat memberikan dampak lebih luas terhadap konektivitas, mobilitas masyarakat, distribusi logistik, hingga aktivitas bisnis.

Selain itu, akses jalan tol juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi kawasan yang berada di sekitar jalur pembangunan.

Tol Jambi-Rengat Fase I Memiliki Panjang 67,45 Kilometer

Tol Jambi-Rengat Fase I memiliki panjang sekitar 67,45 kilometer.

Jalur tersebut membentang dari Simpang Ness hingga Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Pemerintah merancang dua simpang susun pada ruas tersebut, yaitu Simpang Susun Cinto Kenang dan Simpang Susun Merlung.

Kehadiran simpang susun akan mempermudah akses masyarakat menuju jalur tol sekaligus menghubungkan jaringan jalan tol dengan kawasan di sekitarnya.

Ruas Tol Jambi-Rengat Fase I juga memiliki posisi strategis dalam pengembangan konektivitas wilayah Jambi.

Jalur ini akan melewati tiga kabupaten, yakni Muaro Jambi, Batang Hari, dan Tanjung Jabung Barat.

Dengan lintasan tersebut, pembangunan tol berpotensi memperkuat konektivitas antara pusat kegiatan ekonomi, kawasan permukiman, sentra produksi, hingga jalur distribusi barang.

Empat Paket Pekerjaan Siapkan Pembangunan Tol

Pembangunan Tol Jambi-Rengat Fase I terbagi dalam empat paket pekerjaan.

Keempat paket tersebut terdiri dari Paket 1A, Paket 1B, Paket 2A, dan Paket 2B.

Pembagian paket pekerjaan bertujuan mempercepat pelaksanaan pembangunan pada sejumlah segmen.

Salah satu pekerjaan penting dalam proyek tersebut mencakup pembangunan Jembatan Batanghari.

Jembatan tersebut menjadi salah satu struktur utama yang mendukung jalur tol.

Karena itu, pekerjaan pada bagian ini membutuhkan perencanaan teknis yang matang, pengawasan konstruksi, serta koordinasi lintas instansi.

Progres Pengadaan Lahan Baru Sekitar 9 Persen

Meskipun pemerintah terus mempercepat proses, pengadaan lahan Tol Jambi-Rengat Fase I masih berada pada tahap awal.

Hingga saat ini, proses pengadaan lahan baru mencapai sekitar 9 persen dan mencakup sembilan desa.

Dari jumlah tersebut, dua desa berada di Kabupaten Batang Hari.

Kemudian, enam desa berada di Kabupaten Muaro Jambi.

Sementara itu, satu desa berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Angka tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan yang masih harus pemerintah selesaikan sebelum pembangunan fisik berjalan secara penuh.

Karena itu, pemerintah memasang target yang cukup agresif hingga akhir 2026.

Tiga Kabupaten Bersiap Menyambut Dampak Tol

Pembangunan Tol Jambi-Rengat akan membawa perubahan bagi tiga kabupaten yang masuk dalam jalur Fase I.

Muaro Jambi, Batang Hari, dan Tanjung Jabung Barat akan menjadi wilayah yang mendapat pengaruh langsung dari pembangunan infrastruktur tersebut.

Dalam jangka panjang, keberadaan jalan tol dapat mempercepat waktu perjalanan dan meningkatkan efisiensi transportasi.

Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan akses tersebut untuk memperlancar distribusi barang.

Dari sisi ekonomi, konektivitas yang lebih baik dapat menarik investasi baru ke kawasan sekitar jalan tol.

Kawasan yang sebelumnya membutuhkan waktu tempuh lebih panjang berpotensi berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi baru.

Selain itu, sektor properti, pergudangan, perdagangan, jasa transportasi, hingga usaha lokal dapat memperoleh peluang dari peningkatan aktivitas ekonomi.

Infrastruktur Tol Bisa Dorong Investasi dan Ekonomi Jambi

Pembangunan jalan tol tidak hanya berkaitan dengan transportasi.

Dalam perspektif ekonomi, jalan tol juga menjadi bagian penting dari pembangunan infrastruktur yang mendukung investasi dan kegiatan bisnis.

Akses transportasi yang lebih efisien dapat menekan waktu distribusi dan meningkatkan daya saing wilayah.

Bagi Jambi, pembangunan Tol Jambi-Rengat juga memiliki arti strategis karena membuka konektivitas yang lebih baik menuju jaringan Jalan Tol Trans Sumatera.

Perusahaan yang mempertimbangkan ekspansi bisnis dapat melihat akses transportasi sebagai salah satu faktor penting dalam menentukan lokasi investasi.

Begitu pula dengan sektor logistik. Infrastruktur yang lebih baik dapat membantu perusahaan mengatur distribusi produk secara lebih efisien.

Dampak tersebut tentu membutuhkan waktu. Namun, pembangunan jalan tol sejak awal dapat menjadi fondasi untuk pertumbuhan ekonomi kawasan dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Goa Tiangko Masuk Evaluasi UNESCO, Ini Masukan Penting untuk Geopark Merangin Jambi

Pemerintah Kembali Revisi Penetapan Lokasi

Dalam proses percepatan tersebut, pemerintah juga akan melakukan revisi terhadap penetapan lokasi.

Revisi tersebut berkaitan dengan hasil pendataan terbaru di lapangan.

Pemerintah ingin memastikan jalur yang masuk dalam penlok benar-benar sesuai dengan kondisi terkini.

Langkah ini juga dapat membantu pemerintah menghitung kebutuhan lahan secara lebih akurat.

Dengan data yang lebih lengkap, pemerintah dapat mempersiapkan proses pembayaran ganti untung kepada masyarakat secara lebih terarah.

Pendataan ulang juga memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengidentifikasi fasilitas umum yang terdampak sejak awal.

Rapat Libatkan Sejumlah Instansi

Rapat koordinasi percepatan pembangunan Tol Jambi-Rengat Fase I melibatkan berbagai pihak.

Sejumlah pejabat dan instansi yang hadir antara lain Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Plt Kepala BPJN Jambi, Kepala Dinas PUTR, Kepala Dinas Kominfo, serta Asisten II Setda Provinsi Jambi.

Kehadiran berbagai instansi tersebut menunjukkan bahwa proyek Tol Jambi-Rengat membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Pemerintah daerah perlu berkoordinasi dengan pemerintah pusat, lembaga teknis, hingga pihak yang menangani pengadaan lahan dan pembangunan fisik.

Koordinasi yang solid akan membantu pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan secara lebih cepat.

Target Besar Tol Jambi-Rengat Memasuki 2027

Pemerintah Provinsi Jambi kini menghadapi pekerjaan besar untuk memenuhi target pembangunan Tol Jambi-Rengat Fase I.

Dengan progres pengadaan lahan yang baru mencapai sekitar 9 persen, pemerintah harus mempercepat pendataan, penlok, penyelesaian administrasi, serta pembayaran ganti untung dalam waktu yang relatif singkat.

Pemerintah menargetkan penlok selesai pada 5 September 2026.

Selanjutnya, pemerintah menargetkan seluruh proses pembebasan lahan selesai pada Desember 2026.

Jika target tersebut tercapai, pekerjaan konstruksi dapat mulai berjalan pada Januari 2027.

Bagi Jambi, percepatan tersebut menjadi momentum penting dalam pembangunan infrastruktur jangka panjang.

Tol Jambi-Rengat Fase I bukan hanya menghadirkan jalur transportasi baru. Proyek ini juga berpotensi memperkuat konektivitas, membuka peluang investasi, memperlancar distribusi logistik, serta meningkatkan aktivitas ekonomi di kawasan yang dilewati.

Kini, masyarakat menunggu realisasi target pemerintah tersebut. Jika proses pembebasan lahan berjalan sesuai rencana, awal 2027 akan menjadi fase baru bagi pembangunan Tol Jambi-Rengat dan pengembangan konektivitas Provinsi Jambi.(TIM)

Berita Terkait

Perubahan KUA-PPAS Sungai Penuh 2026 Dibahas, Pendapatan Daerah Naik Rp5 Miliar
Harga BBM Pertamina di Jambi 12 Agustus 2026: Pertamax Turun, Cek Daftar Lengkap di SPBU
Harga Sawit Jambi Hari Ini 12 Agustus 2026 Turun Jadi Rp3.911 per Kg, Cek Harga TBS Petani dan Daftar Lengkapnya
Posyandu Aur Duri Mulai Terapkan Enam SPM, TP PKK Sungai Penuh Dorong Layanan Dasar Terintegrasi
Musim Kemarau Memuncak, 8 Kabupaten Jambi Waspadai Karhutla dan Kabut Asap
Penataan Tanjung Bajure Dimulai, Pemkot Sungai Penuh Dorong Pasar Lebih Tertib dan Transparan
Soal Kontrak! PPPK Sungai Penuh Bisa Tersenyum, Ini Penjelasan BKPSDM Sungai Penuh
Gaji ke-13 PNS dan PPPK Sarolangun Segera Masuk Rekening, Ini Penjelasan Bupati Hurmin
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 22:01 WIB

Tol Jambi-Rengat Dikebut, Pembebasan Lahan Ditargetkan Tuntas Desember 2026, Konstruksi Mulai 2027

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Perubahan KUA-PPAS Sungai Penuh 2026 Dibahas, Pendapatan Daerah Naik Rp5 Miliar

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:01 WIB

Harga Sawit Jambi Hari Ini 12 Agustus 2026 Turun Jadi Rp3.911 per Kg, Cek Harga TBS Petani dan Daftar Lengkapnya

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Posyandu Aur Duri Mulai Terapkan Enam SPM, TP PKK Sungai Penuh Dorong Layanan Dasar Terintegrasi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Musim Kemarau Memuncak, 8 Kabupaten Jambi Waspadai Karhutla dan Kabut Asap

Berita Terbaru