Harga Pinang Tanjabtim Kembali Menguat, Tembus Rp25 Ribu per Kg di Tengah Produksi Menurun

- Jurnalis

Selasa, 29 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Prosesi pengolahan pinang yang menjadi komondity unggulan Kabupaten Tanjab Timur

Prosesi pengolahan pinang yang menjadi komondity unggulan Kabupaten Tanjab Timur

TANJABTIM,JS- Harga komoditas pinang di Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), kembali menunjukkan pergerakan positif. Harga jual yang kini mencapai Rp25.000 per kilogram memberi harapan baru bagi petani yang selama ini menghadapi perubahan harga di tingkat pasar.

Kenaikan tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi petani pinang. Pasalnya, angka Rp25.000 per kilogram mulai mendekati harga tertinggi yang pernah mereka rasakan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada periode sebelumnya, harga pinang bahkan pernah menyentuh sekitar Rp30.000 per kilogram. Karena itu, posisi harga saat ini kembali menumbuhkan optimisme di kalangan petani.

Namun, kenaikan harga belum sepenuhnya memberikan dampak maksimal terhadap pendapatan. Petani menghadapi persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni penurunan produksi akibat kemarau panjang.

Cuaca kering membuat sebagian tanaman pinang mengalami trek buah. Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika tanaman menghasilkan buah lebih sedikit dibandingkan periode panen normal.

Akibatnya, petani memang memperoleh harga jual yang lebih tinggi, tetapi volume pinang yang mereka panen ikut berkurang.

Harga Pinang Tanjabtim Kini Capai Rp25.000 per Kilogram

Pergerakan harga menjadi perhatian petani karena komoditas pinang masih menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat di sejumlah wilayah Tanjung Jabung Timur.

Di Kecamatan Muara Sabak Timur, harga pinang kini berada pada kisaran Rp25.000 per kilogram. Angka tersebut membuat petani kembali memiliki alasan untuk mempertahankan kebun mereka.

Kenaikan harga juga memberi ruang bagi petani untuk menutup berbagai kebutuhan yang muncul selama proses pengelolaan kebun.

Mulai dari biaya membersihkan lahan, merawat tanaman, mengumpulkan buah, hingga biaya tenaga kerja. Seluruh kebutuhan tersebut tetap berjalan meskipun produksi mengalami penurunan.

Bagi petani, harga jual menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan hasil akhir usaha perkebunan.

Ketika harga naik, pendapatan berpotensi meningkat. Namun, manfaat tersebut akan semakin terasa jika produksi kebun juga berada dalam kondisi normal.

Situasi yang terjadi saat ini justru memperlihatkan dua kondisi yang berjalan bersamaan. Harga pinang membaik, sementara hasil panen mengalami penurunan.

Petani Senang Harga Naik, tetapi Produksi Belum Pulih

Salah seorang petani pinang di Kecamatan Muara Sabak Timur, Inam, menyambut baik kenaikan harga tersebut.

Menurutnya, harga Rp25.000 per kilogram cukup membantu petani. Terlebih, petani harus menghadapi kondisi produksi yang belum maksimal akibat cuaca kering.

“Alhamdulillah, harga sekarang sudah Rp25 ribu per kilogram. Tentunya kami sebagai petani merasa senang karena harga seperti ini sangat membantu,” ujar Inam.

Meski begitu, Inam mengatakan kenaikan harga belum otomatis meningkatkan pendapatan secara signifikan.

Ia menjelaskan, jumlah buah yang petani kumpulkan saat ini lebih sedikit dibandingkan kondisi normal. Kemarau panjang membuat sebagian tanaman tidak menghasilkan buah dalam jumlah seperti biasanya.

“Sekarang kendalanya hasil buah yang berkurang. Karena kemarau, banyak pinang yang trek. Jadi harga memang bagus, tapi buah yang dipanen tidak sebanyak biasanya,” katanya.

Kondisi tersebut membuat petani harus menghitung kembali hasil usaha mereka. Harga yang tinggi memang memberikan keuntungan lebih besar untuk setiap kilogram pinang yang terjual.

Akan tetapi, jumlah kilogram yang petani jual ikut menentukan besarnya pendapatan.

Sebagai gambaran sederhana, petani yang biasanya mampu menjual 100 kilogram pinang akan memperoleh Rp2,5 juta jika harga mencapai Rp25.000 per kilogram.

Namun, jika produksi turun menjadi 60 kilogram, nilai penjualannya hanya sekitar Rp1,5 juta pada harga yang sama.

Karena itu, petani tidak hanya membutuhkan harga jual yang bagus. Mereka juga membutuhkan produksi yang kembali normal.

Baca Juga :  Musim Kemarau Bawa Rezeki Bagi Nelayan, Harga Udang Mantis di Tanjab Timur Tembus Rp100 Ribu per Ekor

Kemarau Panjang Tekan Produksi Pinang

Cuaca menjadi salah satu persoalan utama yang saat ini petani hadapi di Muara Sabak Timur.

Kemarau panjang membuat tanaman mengalami tekanan. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi perkembangan buah sehingga hasil panen tidak sebanyak periode sebelumnya.

Petani menyebut kondisi tersebut dengan istilah trek buah.

Fenomena tersebut tentu membuat petani harus lebih berhati-hati dalam mengelola kebun. Mereka tetap perlu melakukan perawatan meskipun hasil panen belum memberikan volume maksimal.

Di sisi lain, petani juga harus mempertimbangkan biaya operasional kebun.

Perawatan tanaman membutuhkan tenaga dan biaya. Karena itu, petani berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga tanaman dapat kembali menghasilkan buah secara normal.

Jika produksi pulih dan harga tetap berada pada level Rp25.000 per kilogram, petani memiliki peluang memperoleh pendapatan yang lebih baik.

Sebaliknya, jika harga kembali turun ketika produksi belum pulih, tekanan terhadap pendapatan petani bisa semakin besar.

Harga Mulai Mendekati Level Tertinggi

Harga Rp25.000 per kilogram juga menarik perhatian karena nilainya mulai mendekati level tertinggi yang pernah petani nikmati.

Dalam beberapa tahun lalu, harga pinang sempat mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram.

Perbedaan Rp5.000 per kilogram dari level tersebut menunjukkan bahwa harga sekarang sudah kembali berada pada kisaran yang cukup tinggi dibandingkan periode harga rendah.

Meski demikian, petani tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan mengenai arah harga berikutnya.

Mereka lebih memilih melihat perkembangan harga dari waktu ke waktu.

Pasalnya, harga komoditas perkebunan dapat berubah mengikuti kondisi pasar, permintaan, pasokan, serta faktor lain yang memengaruhi perdagangan.

Karena itu, petani berharap penguatan harga saat ini tidak berlangsung hanya dalam waktu singkat.

Petani Berharap Harga Bertahan hingga Akhir Tahun

Petani lainnya, Yanto, berharap harga pinang yang kini berada di angka Rp25.000 per kilogram dapat bertahan dalam beberapa bulan mendatang.

Menurutnya, kestabilan harga menjadi hal penting bagi petani karena mereka tetap harus mengeluarkan biaya untuk mengelola kebun.

“Kalau bisa harga seperti ini bertahan, minimal sampai akhir tahun. Kami tentu berharap jangan sampai harga kembali turun drastis,” harap Yanto.

Bagi Yanto, harga yang stabil memberikan kepastian lebih baik ketika petani merencanakan kebutuhan kebun.

Petani dapat memperkirakan pendapatan dari hasil penjualan. Mereka juga bisa mengatur biaya perawatan dan kebutuhan rumah tangga dengan lebih baik.

Sebaliknya, perubahan harga secara drastis membuat petani kesulitan memperkirakan pendapatan.

Situasi tersebut semakin terasa ketika produksi kebun mengalami penurunan akibat faktor cuaca.

Harga Bagus Belum Cukup Tanpa Produksi Normal

Kondisi petani pinang di Muara Sabak Timur menunjukkan bahwa harga komoditas dan produktivitas memiliki hubungan yang erat terhadap pendapatan.

Harga Rp25.000 per kilogram memang memberikan nilai jual yang lebih baik.

Namun, petani tetap membutuhkan hasil panen dalam jumlah cukup agar kenaikan harga memberikan dampak nyata terhadap pendapatan mereka.

Ketika produksi turun, kenaikan harga hanya mampu mengimbangi sebagian dampak penurunan volume panen.

Karena itu, petani berharap cuaca segera kembali mendukung pertumbuhan tanaman.

Pemulihan produksi menjadi harapan berikutnya setelah harga mulai bergerak naik.

Jika kedua faktor tersebut berjalan beriringan, petani dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari kondisi pasar saat ini.

Petani Pertahankan Kebun Pinang

Membaiknya harga juga membuat petani semakin terdorong untuk mempertahankan kebun pinang.

Komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari sektor perkebunan.

Ketika harga mengalami tekanan, petani biasanya menghadapi pilihan yang lebih sulit dalam menentukan biaya perawatan.

Sebaliknya, harga yang lebih baik memberikan tambahan motivasi untuk tetap mengelola tanaman.

Petani berharap kondisi pasar terus memberikan ruang bagi mereka untuk mendapatkan hasil yang layak.

Selain itu, mereka juga berharap tidak muncul penurunan harga secara tiba-tiba ketika produksi mulai kembali normal.

Baca Juga :  ISPU Tembus 226, SMA-SMK dan SLB Jambi Terapkan Belajar Daring

Harapan Petani Menjelang Akhir Tahun

Memasuki penghujung tahun, petani pinang di Muara Sabak Timur kini memiliki dua harapan utama.

Pertama, mereka berharap harga pinang tetap berada di sekitar Rp25.000 per kilogram atau setidaknya tidak mengalami penurunan tajam.

Kedua, petani berharap kondisi cuaca membaik sehingga tanaman kembali menghasilkan buah dalam jumlah normal.

Kedua faktor tersebut akan menentukan seberapa besar dampak kenaikan harga terhadap pendapatan petani.

Untuk sementara, harga Rp25.000 per kilogram memberikan sinyal positif bagi petani. Namun, mereka masih harus menghadapi persoalan produksi yang menurun akibat kemarau.

Bagi masyarakat yang mengandalkan pinang sebagai sumber pendapatan, kestabilan harga dan pemulihan hasil panen menjadi dua hal yang berjalan beriringan.

Jika harga bertahan dan produksi kembali pulih, peluang peningkatan pendapatan petani akan semakin terbuka.

Untuk saat ini, petani Muara Sabak Timur memilih menikmati perbaikan harga sambil menunggu kondisi kebun kembali produktif.

Harga Rp25.000 per kilogram menjadi secercah harapan. Selanjutnya, petani menanti cuaca yang lebih bersahabat agar hasil panen kembali meningkat.(*)

Berita Terkait

8 Desa di Kerinci Belum Cairkan Dana Desa 2026, KPPN Sungai Penuh Desak Pemdes Bergerak
Pemkab Merangin Perketat Pengawasan Dana BOSP, Sekda Minta Setiap Rupiah Anggaran Pendidikan Tepat Sasaran
ISPU Tembus 226, SMA-SMK dan SLB Jambi Terapkan Belajar Daring
Kabar Baik untuk Warga Bungo! Tiket Pesawat ke Jakarta Turun Jadi Segini
Karhutla Tebo Masih Jadi Ancaman, Status Siaga Darurat Berakhir 30 September 2026
Kebakaran Hebat di Pasar Baru Pelompek Kerinci Siang Ini, Satu Rumah Warga Ludes Dilalap Api
Nelayan 23 Tahun Hilang di Perairan Kuala Tungkal, Tim SAR Gabungan Kerahkan RIB untuk Pencarian
Soal Kisruh Bimtek BPD, Walikota Sungai Penuh Diminta Evaluasi Kinerja Kadis PMD
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 08:01 WIB

Harga Pinang Tanjabtim Kembali Menguat, Tembus Rp25 Ribu per Kg di Tengah Produksi Menurun

Senin, 28 September 2026 - 20:01 WIB

8 Desa di Kerinci Belum Cairkan Dana Desa 2026, KPPN Sungai Penuh Desak Pemdes Bergerak

Senin, 28 September 2026 - 16:31 WIB

Pemkab Merangin Perketat Pengawasan Dana BOSP, Sekda Minta Setiap Rupiah Anggaran Pendidikan Tepat Sasaran

Senin, 28 September 2026 - 14:01 WIB

ISPU Tembus 226, SMA-SMK dan SLB Jambi Terapkan Belajar Daring

Senin, 28 September 2026 - 10:30 WIB

Kabar Baik untuk Warga Bungo! Tiket Pesawat ke Jakarta Turun Jadi Segini

Berita Terbaru