BISNIS,JS- Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian investor cryptocurrency setelah pergerakannya masih tertahan di bawah US$65.000 pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Bitcoin bergerak di sekitar US$64.900 dan relatif tidak mengalami perubahan berarti dalam 24 jam terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan pasar crypto masih menghadapi tekanan dari berbagai faktor makroekonomi dan geopolitik global.
Situasi ini menarik perhatian karena Bitcoin selama ini dikenal sebagai salah satu aset dengan volatilitas tinggi. Ketika investor meningkatkan minat terhadap aset berisiko, harga BTC dapat bergerak cepat. Sebaliknya, ketika pasar mulai menghindari risiko, tekanan jual dapat muncul dalam waktu singkat.
Karena itu, pergerakan Bitcoin di bawah US$65.000 bukan hanya persoalan teknikal. Investor juga perlu memperhatikan perkembangan suku bunga, imbal hasil obligasi, harga minyak, inflasi, kondisi ekonomi Amerika Serikat, hingga konflik geopolitik.
Bitcoin Masih Bergerak di Sekitar US$64.900
Data perdagangan yang menjadi rujukan pada Sabtu (8/8/2026) menunjukkan harga Bitcoin berada di kisaran US$64.900.
Pergerakan tersebut membuat BTC belum mampu menunjukkan momentum kenaikan yang kuat. Dalam 24 jam terakhir, harga relatif bergerak terbatas sehingga pasar masih menunggu katalis baru.
Investor crypto biasanya memperhatikan level harga psikologis seperti US$65.000. Jika Bitcoin mampu menembus dan mempertahankan posisi di atas level tersebut, pasar dapat membaca kondisi itu sebagai sinyal meningkatnya minat beli.
Namun, jika BTC terus gagal mempertahankan momentum di sekitar US$65.000, tekanan jual dapat kembali meningkat.
Karena itu, trader dan investor perlu membedakan antara kenaikan harga sesaat dan perubahan tren yang benar-benar kuat.
Harga Minyak Dunia Ikut Menjadi Perhatian
Salah satu faktor yang ikut memengaruhi sentimen pasar global datang dari pergerakan harga minyak mentah.
Harga minyak Brent tercatat naik hingga menembus US$83 per barel. Kenaikan tersebut berlangsung ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat.
Situasi geopolitik dapat memberikan efek berantai terhadap pasar keuangan. Ketika konflik mengancam pasokan energi global, investor biasanya mulai memperhitungkan potensi kenaikan harga komoditas energi.
Harga minyak yang lebih tinggi kemudian dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Kondisi tersebut menjadi penting bagi Bitcoin karena pasar tidak melihat BTC secara terpisah dari perekonomian global. Investor institusi yang memiliki eksposur terhadap saham, obligasi, emas, dan cryptocurrency dapat mengubah alokasi aset ketika risiko makroekonomi meningkat.
Dengan demikian, perkembangan harga minyak menjadi salah satu indikator yang patut diperhatikan investor Bitcoin.
Yield Obligasi AS Masih Tinggi
Selain minyak, investor juga mencermati imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 4,67%. Level tersebut menunjukkan bahwa instrumen pendapatan tetap masih menawarkan imbal hasil yang cukup menarik bagi investor.
Ketika yield obligasi meningkat, aset berisiko seperti cryptocurrency dapat menghadapi tantangan.
Mengapa?
Investor akan membandingkan potensi keuntungan dan risiko. Jika instrumen obligasi memberikan imbal hasil menarik dengan risiko yang relatif lebih rendah, sebagian modal dapat berpindah dari aset berisiko menuju instrumen pendapatan tetap.
Dampaknya, aset seperti Bitcoin, saham teknologi, dan cryptocurrency lainnya dapat menghadapi tekanan.
Sebaliknya, apabila yield obligasi turun secara signifikan dan pasar mulai memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter, aset berisiko berpotensi mendapatkan sentimen positif.
Harapan Penurunan Suku Bunga Bisa Menjadi Kunci
Salah satu alasan investor memperhatikan yield Treasury adalah hubungannya dengan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Inflasi yang kembali mendapatkan tekanan dari kenaikan harga energi dapat membuat pasar lebih berhati-hati dalam memperkirakan penurunan suku bunga.
Bagi pasar crypto, kondisi tersebut sangat penting.
Lingkungan suku bunga tinggi biasanya membuat biaya modal meningkat dan likuiditas menjadi lebih ketat. Sebaliknya, penurunan suku bunga dapat mendorong investor mencari instrumen yang menawarkan potensi return lebih tinggi.
Bitcoin sering mendapatkan perhatian besar ketika likuiditas global meningkat.
Namun, investor tidak boleh menganggap penurunan suku bunga sebagai jaminan kenaikan Bitcoin. Pasar tetap mempertimbangkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebijakan bank sentral, kondisi pasar tenaga kerja, dan sentimen risiko global.
Karena itu, arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi salah satu faktor fundamental yang perlu investor pantau.
Konflik Geopolitik Membuat Investor Lebih Hati-Hati
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga ikut membentuk sentimen pasar.
Serangan kelompok Houthi yang terkait dengan Iran terhadap Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung meningkatkan perhatian terhadap aset safe haven.
Pada perdagangan yang sama, harga emas tercatat mengalami pemulihan sekitar 1,5% hingga US$4.300 per ons. Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya minat terhadap aset yang investor anggap lebih defensif ketika ketidakpastian meningkat.
Situasi ini menjadi menarik bagi Bitcoin.
Selama bertahun-tahun, sebagian pelaku pasar menyebut Bitcoin sebagai “digital gold”. Namun, perilaku harga BTC tidak selalu mengikuti emas.
Ketika terjadi tekanan pasar, emas dapat memperoleh aliran dana sebagai aset safe haven, sementara Bitcoin justru dapat ikut terkoreksi karena investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Dengan demikian, investor sebaiknya tidak menganggap Bitcoin dan emas selalu bergerak searah.
Mengapa Bitcoin Sulit Naik di Atas US$65.000?
Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan mengapa Bitcoin masih kesulitan bergerak lebih tinggi.
- Pertama, pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai arah suku bunga.
- Kedua, yield obligasi AS tetap tinggi.
- Ketiga, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kembali kekhawatiran inflasi.
- Keempat, ketegangan geopolitik membuat investor lebih berhati-hati.
- Kelima, investor dapat mengalihkan sebagian modal menuju aset yang lebih defensif ketika volatilitas meningkat.
Kombinasi faktor tersebut menciptakan lingkungan yang kurang ideal bagi aset berisiko.
Karena itu, Bitcoin membutuhkan katalis baru untuk membangun momentum bullish yang lebih kuat.
Investor Perlu Memperhatikan Data Ekonomi AS
Selain geopolitik dan pasar obligasi, data ekonomi Amerika Serikat juga dapat memberikan pengaruh besar terhadap harga BTC.
Investor global biasanya mencermati data inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, penjualan ritel, serta berbagai indikator lain untuk memperkirakan kebijakan Federal Reserve.
Jika data ekonomi menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi, pasar dapat mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga.
Sebaliknya, data ekonomi yang menunjukkan pelemahan pertumbuhan atau penurunan tekanan inflasi dapat meningkatkan harapan pelonggaran kebijakan moneter.
Oleh sebab itu, investor Bitcoin perlu melihat kalender ekonomi global, bukan hanya grafik BTC.
Bitcoin Bisa Naik Lagi, Tetapi Risiko Tetap Tinggi
Pergerakan Bitcoin di sekitar US$64.900 tidak otomatis berarti tren bearish akan berlangsung panjang.
Pasar cryptocurrency dapat berubah dengan sangat cepat.
Jika muncul katalis positif, seperti meningkatnya likuiditas, membaiknya sentimen terhadap aset berisiko, penurunan yield obligasi, atau meningkatnya permintaan institusional, Bitcoin dapat kembali mendapatkan tekanan beli.
Namun, skenario sebaliknya juga mungkin terjadi.
Jika inflasi kembali meningkat, harga minyak terus naik, yield obligasi tetap tinggi, dan ketegangan geopolitik semakin parah, investor dapat mempertahankan posisi defensif.
Dalam kondisi tersebut, BTC berpotensi kembali mengalami volatilitas tinggi.
Karena itu, investor perlu menempatkan manajemen risiko sebagai prioritas.
Apa Artinya bagi Investor Bitcoin di Indonesia?
Investor cryptocurrency di Indonesia juga perlu memperhatikan faktor global karena harga Bitcoin terbentuk dari perdagangan pasar internasional.
Selain harga BTC dalam dolar AS, investor domestik juga menghadapi pengaruh nilai tukar rupiah.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, nilai Bitcoin dalam rupiah dapat bergerak berbeda dibandingkan harga BTC dalam dolar.
Sebagai contoh, Bitcoin yang bergerak relatif datar dalam dolar belum tentu menghasilkan pergerakan yang sama dalam rupiah jika nilai tukar mengalami perubahan besar.
Karena itu, investor Indonesia sebaiknya melihat dua indikator sekaligus, yakni harga BTC/USD dan BTC/IDR.
Selain itu, investor perlu memperhitungkan biaya transaksi, spread, pajak sesuai ketentuan yang berlaku, serta risiko platform perdagangan.
Jangan Mengambil Keputusan Hanya karena FOMO
Volatilitas Bitcoin sering membuat investor pemula mengambil keputusan secara emosional.
Ketika harga naik dengan cepat, muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Investor kemudian membeli karena takut kehilangan peluang.
Sebaliknya, ketika harga turun tajam, sebagian investor langsung menjual karena panik.
Kedua keputusan tersebut dapat meningkatkan risiko kerugian.
Strategi yang lebih disiplin membutuhkan rencana sejak awal. Investor perlu menentukan tujuan investasi, batas risiko, horizon waktu, serta jumlah dana yang sanggup mereka tanggung jika terjadi penurunan harga.
Investor juga sebaiknya tidak menggunakan dana kebutuhan sehari-hari untuk membeli aset cryptocurrency.
Bitcoin dan Arah Pasar Crypto Selanjutnya
Pergerakan BTC sering menjadi indikator penting bagi pasar cryptocurrency secara keseluruhan.
Ketika Bitcoin menguat, aset crypto lain sering ikut mendapatkan sentimen positif. Sebaliknya, ketika BTC mengalami tekanan, altcoin juga dapat menghadapi volatilitas yang lebih besar.
Karena itu, level US$65.000 menjadi area yang menarik untuk investor pantau dalam jangka pendek.
Namun, satu level harga tidak cukup untuk menentukan arah pasar.
Investor perlu melihat volume perdagangan, momentum, sentimen makroekonomi, arus dana institusional, kondisi pasar saham, yield obligasi, indeks dolar AS, serta perkembangan geopolitik.
Dengan pendekatan tersebut, investor dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Kesimpulan
Harga Bitcoin pada Sabtu, 8 Agustus 2026, masih bergerak di sekitar US$64.900 atau berada di bawah level US$65.000.
Pergerakan BTC menghadapi sejumlah tekanan dari kondisi pasar global. Kenaikan harga minyak Brent di atas US$83 per barel, yield Treasury AS 10 tahun sekitar 4,67%, ketidakpastian inflasi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi faktor yang perlu investor perhatikan.
Pada saat yang sama, emas justru mengalami penguatan sekitar 1,5% hingga US$4.300 per ons. Pergerakan tersebut menunjukkan sebagian investor memilih aset yang lebih defensif ketika ketidakpastian meningkat.
Meski demikian, kondisi Bitcoin masih dapat berubah dengan cepat. Investor perlu menunggu konfirmasi dari data ekonomi dan perkembangan pasar global sebelum mengambil keputusan.
Yang paling penting, jangan menjadikan satu berita atau satu level harga sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi. Bitcoin tetap merupakan aset dengan volatilitas tinggi sehingga strategi manajemen risiko menjadi bagian penting dalam setiap keputusan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual Bitcoin maupun cryptocurrency lainnya. Harga aset crypto dapat berubah sangat cepat dan investor dapat mengalami keuntungan maupun kerugian.(*)










