Bunda PAUD Sri Kartini Alfin Ajak Anak Cintai Buku Sejak Dini, Perpustakaan Jadi Ruang Belajar Ceria

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUNGAIPENUH,JS- Bunda PAUD Kota Sungai Penuh, Sri Kartini Alfin, S.Kep., Ns., terus mendorong tumbuhnya budaya membaca di kalangan anak usia dini. Menurutnya, kebiasaan mengenal buku tidak harus menunggu anak memasuki jenjang sekolah dasar.

Justru, orang tua dan sekolah dapat memperkenalkan buku sejak anak berada di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).

Pesan tersebut Sri Kartini sampaikan saat mendampingi kunjungan murid PAUD dan TK se-Kota Sungai Penuh ke Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh, Kamis, 3 September 2026.

Kegiatan itu berlangsung dalam suasana penuh keceriaan. Anak-anak tidak hanya melihat koleksi buku, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar melalui kegiatan membaca, mendengarkan cerita, menjawab pertanyaan, dan berinteraksi secara langsung.

Bagi Sri Kartini, pengalaman seperti itu penting karena anak membutuhkan metode belajar yang sesuai dengan dunia mereka.

Sri Kartini Alfin Kenalkan Perpustakaan dengan Cara Menyenangkan

Kunjungan ke perpustakaan menjadi salah satu cara untuk mendekatkan anak dengan buku sekaligus mengenalkan lingkungan belajar di luar ruang kelas.

Anak-anak PAUD dan TK yang mengikuti kegiatan tampak menikmati suasana perpustakaan. Mereka mendapatkan kesempatan untuk melihat buku dan mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang secara menyenangkan.

Sri Kartini Alfin pun mengambil bagian secara langsung dalam kegiatan tersebut.

Ia mengajak anak-anak berinteraksi melalui kegiatan membaca dan bercerita. Dengan suasana santai, ia membacakan cerita yang mudah dipahami anak.

Cara tersebut membuat anak lebih mudah mengikuti kegiatan. Mereka tampak antusias ketika mendengarkan cerita yang disampaikan.

Setelah sesi membaca selesai, kegiatan berlanjut dengan tanya jawab.

Sri Kartini memberikan sejumlah pertanyaan sederhana berdasarkan cerita yang telah mereka dengarkan. Anak-anak kemudian mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Keberanian anak untuk menjawab menjadi salah satu hal menarik dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga belajar mengingat informasi, memahami cerita, serta menyampaikan jawaban.

Baca Juga :  Ujian Dinas dan Kenaikan Pangkat PNS 2026 Sungai Penuh Dibuka, Cek Syarat, Jadwal CAT BKN dan Cara Daftar

Membaca Sejak Dini Bantu Bangun Rasa Ingin Tahu Anak

Menurut Sri Kartini Alfin, kebiasaan membaca dapat memberikan banyak manfaat bagi perkembangan anak.

Buku dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai pengetahuan dengan cara yang sederhana. Melalui cerita, anak juga dapat mengenal karakter, lingkungan, nilai-nilai kebaikan, serta berbagai pengalaman baru.

Karena itu, orang tua tidak perlu menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang terasa berat.

Sebaliknya, orang tua dapat menghadirkan buku sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Misalnya, orang tua dapat mengajak anak memilih buku cerita sebelum tidur. Mereka juga dapat membacakan cerita bersama saat waktu senggang.

Dengan cara sederhana tersebut, anak perlahan mengenal membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan.

Pendekatan semacam ini juga sejalan dengan konsep early childhood education yang menempatkan pengalaman belajar sesuai perkembangan dan kebutuhan anak.

Anak membutuhkan suasana belajar yang nyaman agar mereka dapat mengembangkan rasa ingin tahu secara alami.

Bunda PAUD Dorong Anak Lebih Dekat dengan Buku

Sri Kartini Alfin mengapresiasi Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh dan seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut.

Ia menilai perpustakaan memiliki peran penting dalam membangun ekosistem literasi di tengah masyarakat.

“Anak-anak perlu mengenal perpustakaan sejak dini. Dengan begitu, mereka terbiasa membaca dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Semoga kegiatan seperti ini terus berlangsung dan semakin banyak anak yang tertarik datang ke perpustakaan,” ujar Sri Kartini Alfin.

Menurutnya, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku.

Lebih dari itu, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar yang mempertemukan anak dengan berbagai sumber pengetahuan.

Ketika anak datang ke perpustakaan sejak usia dini, mereka mendapatkan pengalaman positif terhadap aktivitas membaca.

Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk membangun kebiasaan membaca ketika mereka tumbuh lebih besar.

Peran Orang Tua Sangat Penting dalam Membentuk Kebiasaan Membaca

Selain sekolah dan pemerintah, keluarga memiliki peran besar dalam membangun kebiasaan membaca anak.

Orang tua dapat menciptakan lingkungan rumah yang mendukung aktivitas literasi. Mereka tidak harus menyediakan banyak buku sekaligus.

Beberapa buku cerita yang sesuai dengan usia anak sudah dapat menjadi awal yang baik.

Yang paling penting, orang tua memberikan contoh.

Ketika anak melihat orang tua membaca, mereka memiliki kesempatan untuk memahami bahwa membaca merupakan aktivitas sehari-hari yang bermanfaat.

Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi setelah membaca cerita.

Pertanyaan sederhana seperti “Siapa tokoh dalam cerita?” atau “Apa yang terjadi dalam cerita?” dapat membantu anak memahami isi bacaan.

Selain meningkatkan pemahaman, aktivitas tersebut juga melatih kemampuan anak berkomunikasi.

Dengan demikian, kegiatan membaca tidak berhenti pada membuka halaman buku. Anak juga belajar berpikir, mengingat, berbicara, dan menyampaikan pendapat.

Guru PAUD dan TK Punya Peran dalam Literasi Anak

Sekolah juga memegang peranan penting dalam membangun budaya membaca.

Guru PAUD dan TK dapat menggunakan cerita sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran. Guru dapat memilih buku dengan gambar menarik, bahasa sederhana, dan tema yang dekat dengan kehidupan anak.

Selanjutnya, guru dapat mengajak anak berdiskusi mengenai cerita tersebut.

Metode ini membuat proses pembelajaran terasa lebih interaktif.

Anak tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memberikan respons.

Dalam konteks children literacy, kemampuan membaca memang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali huruf.

Literasi anak juga mencakup kemampuan memahami informasi, berkomunikasi, mendengarkan, mengenali makna, dan mengembangkan rasa ingin tahu.

Karena itu, kegiatan membaca bersama dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan dalam pendidikan anak usia dini.

Perpustakaan Bisa Menjadi Destinasi Edukasi Anak

Kunjungan murid PAUD dan TK se-Kota Sungai Penuh menunjukkan bahwa perpustakaan dapat menjadi salah satu pilihan kegiatan edukasi bagi anak.

Anak mendapatkan pengalaman baru ketika belajar di luar lingkungan sekolah.

Mereka dapat mengenal berbagai jenis buku sekaligus memahami fungsi perpustakaan.

Jika pengelola perpustakaan terus menghadirkan kegiatan yang menarik, anak memiliki alasan untuk kembali berkunjung.

Kegiatan membaca cerita, permainan edukatif, kelas literasi, hingga aktivitas kreatif dapat menjadi bagian dari program perpustakaan ramah anak.

Dengan demikian, perpustakaan dapat membangun citra sebagai ruang belajar yang menyenangkan.

Literasi Anak Tidak Harus Selalu Menggunakan Metode Konvensional

Perkembangan teknologi juga memberikan pilihan baru dalam pendidikan.

Saat ini, anak dapat menemukan berbagai sumber pembelajaran digital. Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pendampingan orang tua dan guru.

Buku fisik tetap memiliki tempat penting dalam kegiatan literasi anak.

Karena itu, keluarga dan sekolah dapat menggabungkan buku dengan teknologi pendidikan secara proporsional.

Konsep education technology dapat membantu memperkaya pengalaman belajar, sementara buku dan kegiatan membaca bersama tetap memberikan pengalaman interaksi yang berbeda.

Yang terpenting, orang dewasa perlu memastikan anak mendapatkan konten yang sesuai dengan usia.

Baca Juga :  Musim Kemarau Mencekam, 1 Ton Garam Ditebar di Langit Jambi untuk Memicu Hujan

Sri Kartini Alfin Tekankan Kolaborasi Pemerintah, Sekolah dan Keluarga

Sri Kartini Alfin menilai upaya membangun budaya membaca membutuhkan kolaborasi banyak pihak.

Pemerintah dapat menyediakan fasilitas perpustakaan dan program literasi.

Sekolah dapat memperkuat kegiatan membaca dalam proses pembelajaran.

Sementara itu, orang tua dapat melanjutkan kebiasaan tersebut di rumah.

Kolaborasi ketiga unsur tersebut dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak.

Jika anak mendapatkan pengalaman membaca di sekolah, kemudian melanjutkannya di rumah dan perpustakaan, kebiasaan tersebut berpotensi tumbuh lebih kuat.

Karena itu, gerakan mencintai buku tidak cukup hanya melalui kegiatan sesekali.

Perlu ada kesinambungan agar anak benar-benar menganggap membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Membaca Dapat Melatih Kepercayaan Diri Anak

Salah satu manfaat yang terlihat dalam kegiatan di Dinas Perpustakaan Kota Sungai Penuh yaitu keberanian anak untuk menjawab pertanyaan.

Aktivitas sederhana tersebut dapat membantu anak berlatih menyampaikan pendapat.

Guru atau orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap setiap jawaban tanpa langsung menilai benar atau salah.

Dengan pendekatan tersebut, anak merasa lebih nyaman untuk berbicara.

Dalam jangka panjang, pengalaman seperti ini dapat membantu membangun kepercayaan diri.

Selain itu, kegiatan bercerita juga dapat memperkaya kosakata anak.

Semakin banyak cerita yang anak dengarkan, semakin banyak pula kata dan konsep yang mereka kenal.

Karena itu, kegiatan membaca bersama memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar memperkenalkan buku.

Bangun Generasi Kreatif dan Gemar Belajar

Pemerintah Kota Sungai Penuh berharap kegiatan literasi anak dapat terus berkembang.

Kebiasaan membaca sejak dini dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun generasi yang memiliki rasa ingin tahu, kreatif, dan terbuka terhadap pengetahuan.

Anak yang terbiasa berinteraksi dengan buku memiliki kesempatan untuk mengenal berbagai cerita dan informasi.

Selanjutnya, pengalaman tersebut dapat mendorong mereka bertanya, berdiskusi, serta mengeksplorasi hal-hal baru.

Karena itu, kegiatan kunjungan ke perpustakaan memiliki nilai edukasi yang cukup penting.

Anak tidak hanya datang untuk melihat buku. Mereka juga mendapatkan pengalaman belajar yang melibatkan komunikasi, imajinasi, dan interaksi sosial.

Kunjungan PAUD dan TK Jadi Momentum Perkuat Budaya Literasi Sungai Penuh

Kegiatan kunjungan murid PAUD dan TK se-Kota Sungai Penuh ke Dinas Perpustakaan menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi sejak usia dini.

Kehadiran Sri Kartini Alfin bersama Ketua DWP Kota Sungai Penuh, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), dinas terkait, serta para guru dan murid menunjukkan dukungan berbagai pihak terhadap pengembangan literasi anak.

Suasana kegiatan yang ceria juga memberikan pesan bahwa belajar tidak harus berlangsung dengan cara yang kaku.

Anak dapat belajar melalui cerita, permainan, percakapan, gambar, dan pengalaman langsung.

Pendekatan tersebut membuat proses belajar lebih dekat dengan kehidupan anak.

Pada akhirnya, ajakan Sri Kartini Alfin untuk mencintai buku sejak dini bukan hanya tentang meningkatkan jumlah buku yang dibaca anak.

Lebih jauh, pesan tersebut menyangkut upaya membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Ketika anak mengenal buku sebagai sesuatu yang menyenangkan, perpustakaan sebagai tempat yang ramah, dan membaca sebagai aktivitas yang menarik, budaya literasi memiliki peluang tumbuh lebih kuat.

Karena itu, dukungan pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan pengelola perpustakaan tetap menjadi kunci.

Dengan kolaborasi yang konsisten, perpustakaan dapat terus berkembang sebagai ruang edukasi ramah anak sekaligus menjadi tempat yang mempertemukan anak dengan dunia pengetahuan.

Di Sungai Penuh, langkah sederhana seperti membacakan cerita dan mengajak anak berkunjung ke perpustakaan dapat menjadi awal untuk menumbuhkan generasi yang gemar membaca, berani bertanya, kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu tinggi.(*)

Berita Terkait

Wako Alfin Sambangi BNPB, Bawa Usulan Rehabilitasi Infrastruktur dan Strategi Penanganan Bencana Sungai Penuh
Setelah 37 Tahun Gelap, 86 KK di Merangin Segera Nikmati Listrik PLN, Jaringan 3 Km Mulai Dibangun
Sekolah Kembali Dibuka, SD-SMP di Muaro Jambi Wajib Pakai Masker, PAUD dan TK Masih Belajar dari Rumah
Tebo Dihantui Karhutla, Api Muncul di Sejumlah Lokasi dalam Beberapa Hari Terakhir
Ujian Dinas dan Kenaikan Pangkat PNS 2026 Sungai Penuh Dibuka, Cek Syarat, Jadwal CAT BKN dan Cara Daftar
Karhutla Mengancam, BBTNKS Tutup Jalur Pendakian Gunung Kerinci Sejak 1 September
Sri Kartini Alfin Turun Langsung Salurkan Program 3S Sungai Penuh, Sasar Keluarga Berisiko Stunting
Mutasi Gaji CPNS Jadi PNS di Sungai Penuh Kini Pakai Aplikasi, Begini Caranya
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 18:45 WIB

Wako Alfin Sambangi BNPB, Bawa Usulan Rehabilitasi Infrastruktur dan Strategi Penanganan Bencana Sungai Penuh

Kamis, 3 September 2026 - 16:01 WIB

Setelah 37 Tahun Gelap, 86 KK di Merangin Segera Nikmati Listrik PLN, Jaringan 3 Km Mulai Dibangun

Kamis, 3 September 2026 - 14:01 WIB

Sekolah Kembali Dibuka, SD-SMP di Muaro Jambi Wajib Pakai Masker, PAUD dan TK Masih Belajar dari Rumah

Kamis, 3 September 2026 - 13:01 WIB

Tebo Dihantui Karhutla, Api Muncul di Sejumlah Lokasi dalam Beberapa Hari Terakhir

Kamis, 3 September 2026 - 09:01 WIB

Ujian Dinas dan Kenaikan Pangkat PNS 2026 Sungai Penuh Dibuka, Cek Syarat, Jadwal CAT BKN dan Cara Daftar

Berita Terbaru