Kualitas Udara Jambi Memburuk, AQI 187 dan PM2.5 Capai 106,4 µg/m³ pada Senin Pagi

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI,JS- Kabut asap dan kualitas udara kembali menjadi perhatian masyarakat Kota Jambi. Pemantauan IQAir pada Senin, 14 September 2026 pukul 07.00 WIB menunjukkan Air Quality Index (AQI) Jambi mencapai 187.

Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena masyarakat masih menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Jambi.

Pada waktu yang sama, IQAir mencatat PM2.5 sebagai polutan utama di udara Jambi. Konsentrasinya mencapai 106,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kondisi tersebut membuat kualitas udara menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan masyarakat, khususnya kelompok yang sensitif terhadap polusi udara. Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara sebaiknya mengurangi paparan udara luar ketika indeks polusi meningkat.

AQI Jambi Masuk Tiga Besar Kota dengan Polusi Tertinggi

Data IQAir pada Senin pagi menunjukkan posisi Jambi cukup mencolok dalam daftar kota di Indonesia berdasarkan indeks kualitas udara.

Dengan AQI 187, Jambi menempati peringkat ketiga ketika data diperbarui pada pukul 07.00 WIB.

Pontianak, Kalimantan Barat, berada di posisi pertama dengan AQI 790. Sementara itu, Serpong, Jawa Barat, berada di posisi kedua dengan AQI 197.

Jambi kemudian menyusul dengan AQI 187.

Angka tersebut juga menempatkan Jambi di atas sejumlah kota besar lain yang masuk dalam pemantauan kualitas udara nasional pada waktu tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan air pollution atau polusi udara masih perlu mendapat perhatian, terutama ketika aktivitas masyarakat mulai meningkat pada pagi hari.

PM2.5 Menjadi Polutan yang Paling Disorot

Selain mencatat AQI, IQAir juga menunjukkan jenis polutan yang mendominasi udara Jambi.

PM2.5 menjadi perhatian utama dengan konsentrasi 106,4 µg/m³.

PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena ukurannya kecil, partikel ini menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan kualitas udara.

IQAir menampilkan konsentrasi PM2.5 Jambi pada level yang sangat tinggi dibandingkan nilai panduan tahunan PM2.5 yang digunakan sebagai pembanding.

Dalam indikator yang ditampilkan IQAir, konsentrasi tersebut mencapai 21,3 kali nilai panduan tahunan PM2.5 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

Baca Juga :  Kabut Asap Makin Pekat, Kemenag Tebo Alihkan KBM ke Daring 10–12 September 2026

Polutan Lain Juga Terdeteksi di Udara Jambi

PM2.5 bukan satu-satunya polutan yang tercatat dalam pemantauan.

IQAir juga mencatat beberapa parameter kualitas udara lainnya. Pada pemantauan tersebut, konsentrasi PM10 mencapai 109,6 µg/m³.

Kemudian, konsentrasi ozon tercatat 35,4 µg/m³, nitrogen dioksida atau NO2 sebesar 18,3 µg/m³, serta sulfur dioksida atau SO2 mencapai 50,3 µg/m³.

Kehadiran sejumlah polutan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu memperhatikan kualitas udara secara berkala.

Terlebih lagi, kondisi atmosfer dapat berubah dalam waktu singkat. Arah dan kecepatan angin, kelembapan, aktivitas pembakaran, serta kondisi cuaca dapat memengaruhi penyebaran polutan di suatu wilayah.

Kondisi Cuaca Jambi pada Senin Pagi

Saat IQAir melakukan pemantauan pada pukul 07.00 WIB, suhu udara Jambi berada di sekitar 27 derajat Celsius.

Kecepatan angin tercatat sekitar 9 kilometer per jam, sedangkan kelembapan berada pada angka 68 persen.

Data cuaca tersebut memberikan gambaran kondisi atmosfer ketika kualitas udara berada pada level tidak sehat.

Namun, kualitas udara tidak hanya bergantung pada satu parameter cuaca. Pergerakan angin dan perubahan kondisi atmosfer sepanjang hari juga dapat memengaruhi konsentrasi polutan.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat kondisi udara pada pagi hari. Pemantauan secara berkala dapat membantu menentukan waktu yang lebih aman untuk melakukan aktivitas di luar ruangan.

Stasiun Pemantauan di Sekitar Jambi Juga Menunjukkan Angka Tinggi

Selain data utama Kota Jambi, IQAir juga menampilkan sejumlah stasiun pemantauan di sekitar wilayah tersebut.

Stasiun Jambi tercatat memiliki AQI 239. Sementara itu, Jambi Paal Lima mencatat AQI 191.

Adapun stasiun MUARO_JAMBI menunjukkan AQI 191.

Perbedaan angka antarstasiun menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara dapat berbeda berdasarkan lokasi pemantauan.

Masyarakat yang berada di wilayah dengan indeks lebih tinggi perlu lebih berhati-hati, terutama ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Apa Arti AQI 187 bagi Masyarakat?

AQI atau Air Quality Index membantu masyarakat memahami tingkat kualitas udara berdasarkan konsentrasi polutan yang terukur.

Ketika indeks berada pada kategori tidak sehat, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan polusi udara.

Artinya, aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak sebaiknya masyarakat kurangi ketika kualitas udara memburuk.

Selain itu, masyarakat dapat mempertimbangkan penggunaan masker ketika harus keluar rumah. Menutup pintu dan jendela juga dapat membantu mengurangi masuknya udara luar ke dalam rumah ketika kondisi udara di luar memburuk.

Bagi masyarakat yang menggunakan ruang tertutup dalam waktu lama, penggunaan air purifier atau pembersih udara juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengelola kualitas udara dalam ruangan.

Baca Juga :  Puntung Rokok Diduga Jadi Pemicu Karhutla di Bungo, Kebun Sawit Terbakar Tengah Malam

Rekomendasi IQAir Saat Polusi Udara Meningkat

IQAir memberikan sejumlah rekomendasi ketika kualitas udara berada dalam kondisi tidak sehat.

Masyarakat antara lain disarankan menghindari olahraga atau aktivitas fisik berat di luar ruangan. Aktivitas seperti berlari, bersepeda, atau olahraga lainnya dapat meningkatkan frekuensi pernapasan sehingga tubuh menghirup lebih banyak udara.

Selanjutnya, masyarakat dapat menutup jendela untuk mengurangi masuknya udara luar ke dalam ruangan.

Ketika harus bepergian ke luar rumah, masyarakat juga dapat menggunakan masker.

Untuk ruangan tertutup, masyarakat dapat menggunakan pembersih udara apabila tersedia.

Langkah-langkah tersebut tidak berarti masyarakat harus menghentikan seluruh aktivitas. Namun, masyarakat perlu menyesuaikan kegiatan dengan kondisi kualitas udara yang terus berubah.

AQI Jambi Diperkirakan Turun pada Siang Hari

Meskipun AQI Jambi mencapai 187 pada pukul 07.00 WIB, prakiraan per jam IQAir menunjukkan indeks tersebut berpotensi menurun sepanjang hari.

IQAir memperkirakan AQI berada pada angka 177 sekitar pukul 09.00 WIB.

Kemudian, indeks diperkirakan turun menjadi 169 pada pukul 10.00 WIB dan 162 pada pukul 11.00 WIB.

Pada pukul 12.00 WIB, IQAir memperkirakan AQI Jambi berada di angka 155.

Selanjutnya, indeks diperkirakan turun menjadi 130 sekitar pukul 15.00 WIB dan mencapai 111 pada pukul 17.00 WIB.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa angka tersebut merupakan prakiraan per jam, bukan hasil pengukuran aktual pada jam tersebut.

Karena itu, kondisi nyata di lapangan dapat berbeda dari angka prakiraan.

Prakiraan Kualitas Udara Jambi hingga Rabu

Selain prakiraan per jam, IQAir juga menampilkan perkiraan kualitas udara harian.

  • Untuk Senin, 14 September 2026, IQAir memperkirakan AQI Jambi berada di angka 107.
  • Pada Selasa, 15 September, indeks harian diperkirakan berada pada angka 87.
  • Kemudian, pada Rabu, 16 September, AQI harian Jambi diperkirakan mencapai 93.

Perkiraan tersebut menunjukkan potensi perbaikan dibandingkan kondisi pada Senin pagi. Meski demikian, masyarakat tetap perlu mengikuti pembaruan kualitas udara karena perubahan cuaca dan kondisi karhutla dapat memengaruhi konsentrasi polutan.

Karhutla Masih Menjadi Perhatian di Jambi

Tingginya perhatian terhadap kualitas udara Jambi juga tidak terlepas dari persoalan karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Asap dari kebakaran lahan dapat memengaruhi kualitas udara ketika partikel hasil pembakaran menyebar ke wilayah permukiman.

Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat merasakan udara yang lebih berasap atau berbau. Selain itu, konsentrasi partikulat di udara juga dapat meningkat.

Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi penting selama periode ketika kebakaran hutan dan lahan masih terjadi.

Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang dapat menambah polusi udara, termasuk pembakaran sampah secara terbuka.(*)

Berita Terkait

Heboh Isu Pengangkatan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu? Ini Penjelasan BKPSDM Sungai Penuh
Pimpin Apel Gabungan, Sekda Alpian Tekankan Disiplin ASN dan Beri Apresiasi Peserta Didik Berprestasi
Cuci Motor di Sungai Penuh: GEN Autocare Andalkan Air Mata Air dan Tim Berpengalaman 10 Tahun
Kekeringan Jambi 2026: Padi di Kerinci dan Sungai Penuh Ikut Terdampak, Puluhan Hektare Terancam Puso
Puntung Rokok Diduga Jadi Pemicu Karhutla di Bungo, Kebun Sawit Terbakar Tengah Malam
Wako Alfin Salurkan 219 Ribu Bibit Kopi ke 11 Kelompok Tani Renah Kayu Embun, Dorong Ekonomi Petani Sungai Penuh
Kabar Penting untuk ASN! Begini Aturan Anggota Keluarga Tambahan BPJS dengan Iuran 1 Persen
Catat Tanggalnya! Festival Kopi Kerinci 2026 Hadir di Kayu Aro, Kopi Tanah Surga Dibawa ke Panggung Dunia
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:01 WIB

Kualitas Udara Jambi Memburuk, AQI 187 dan PM2.5 Capai 106,4 µg/m³ pada Senin Pagi

Senin, 14 September 2026 - 12:01 WIB

Heboh Isu Pengangkatan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu? Ini Penjelasan BKPSDM Sungai Penuh

Senin, 14 September 2026 - 10:31 WIB

Pimpin Apel Gabungan, Sekda Alpian Tekankan Disiplin ASN dan Beri Apresiasi Peserta Didik Berprestasi

Senin, 14 September 2026 - 07:00 WIB

Cuci Motor di Sungai Penuh: GEN Autocare Andalkan Air Mata Air dan Tim Berpengalaman 10 Tahun

Sabtu, 12 September 2026 - 13:23 WIB

Kekeringan Jambi 2026: Padi di Kerinci dan Sungai Penuh Ikut Terdampak, Puluhan Hektare Terancam Puso

Berita Terbaru