IHSG Dibayangi Dana Asing Rp1,07 Triliun, MNC Sekuritas Ungkap 3 Saham Potensial: AMRT, ASII, dan INCO

- Jurnalis

Minggu, 8 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tantangan memasuki perdagangan pekan kedua November 2026. Tekanan arus keluar dana asing atau foreign outflow menjadi salah satu faktor yang perlu investor cermati di tengah kondisi pasar saham Indonesia yang belum sepenuhnya stabil.

Meskipun IHSG sempat mencatatkan penguatan pada akhir perdagangan pekan lalu, tekanan jual investor asing masih membayangi pergerakan indeks secara mingguan. Situasi tersebut membuat pelaku pasar perlu lebih selektif dalam menentukan saham untuk transaksi jangka pendek maupun investasi jangka menengah.

Data perdagangan menunjukkan IHSG menutup perdagangan Jumat, 6 November 2026, pada posisi 5.050,42. Indeks menguat 0,40 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Namun, secara akumulasi mingguan IHSG masih terkoreksi 0,13 persen.

Di sisi lain, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sekitar Rp1,07 triliun sepanjang pekan tersebut. Angka ini memperlihatkan bahwa minat jual investor asing masih cukup besar meskipun indeks sempat bergerak ke zona hijau.

Di tengah kondisi tersebut, MNC Sekuritas menyoroti tiga saham yang menarik untuk dicermati investor, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Ketiga emiten tersebut berasal dari sektor bisnis yang berbeda. AMRT bergerak di bidang perdagangan ritel, ASII memiliki portofolio bisnis yang beragam, sedangkan INCO bergerak di sektor pertambangan nikel.
Perbedaan karakter bisnis tersebut memberikan sejumlah pilihan bagi investor yang ingin mencermati peluang di tengah volatilitas pasar saham.

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas, Ini Level Support dan Resistance

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada pekan depan. Namun, potensi kenaikan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko tekanan jual.
Dalam proyeksinya, IHSG berpeluang bergerak pada rentang support 4.824 dan resistance 5.247.

Level support menjadi area penting yang perlu investor perhatikan karena dapat menunjukkan kekuatan permintaan ketika indeks mengalami koreksi. Sebaliknya, resistance menjadi batas harga yang perlu IHSG lewati untuk memperkuat momentum kenaikan.

Apabila indeks mampu bertahan di atas area support, peluang pemulihan masih terbuka. Akan tetapi, jika tekanan jual meningkat dan IHSG menembus batas support, investor perlu mewaspadai kemungkinan koreksi lanjutan.

Karena itu, pelaku pasar sebaiknya tidak hanya mengandalkan penguatan satu hari perdagangan. Investor juga perlu memperhatikan volume transaksi, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta aktivitas transaksi investor asing.

Tiga Saham Pilihan MNC Sekuritas untuk Pekan Depan

Di tengah ketidakpastian pasar, MNC Sekuritas menyarankan investor mencermati tiga emiten dari sektor berbeda. Ketiganya memiliki karakter bisnis yang dapat memberikan alternatif strategi investasi.

Berikut rincian saham yang masuk dalam radar rekomendasi MNC Sekuritas.

Baca Juga :  Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi: PGAS Menguat, SMGR Punya PBV Paling Murah

1. Saham AMRT, Peluang dari Sektor Ritel

Saham AMRT menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk dicermati. Perusahaan ini menjalankan bisnis perdagangan ritel melalui jaringan minimarket Alfamart yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sektor ritel memiliki keterkaitan erat dengan daya beli masyarakat. Ketika konsumsi rumah tangga tetap terjaga, kebutuhan terhadap produk makanan, minuman, perlengkapan rumah tangga, dan kebutuhan sehari-hari dapat menopang aktivitas bisnis perusahaan.

Selain itu, jaringan gerai yang luas memberikan peluang bagi AMRT untuk menjangkau konsumen di berbagai daerah.
MNC Sekuritas merekomendasikan investor mencermati saham AMRT pada kisaran harga Rp1.010 hingga Rp1.115.

Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan kinerja keuangan perusahaan, pertumbuhan penjualan, ekspansi gerai, serta persaingan bisnis ritel sebelum mengambil keputusan.

2. Saham ASII, Emiten dengan Diversifikasi Bisnis

Saham berikutnya adalah ASII atau Astra International. Emiten ini memiliki portofolio bisnis yang beragam, mulai dari otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, agribisnis, hingga infrastruktur.

Diversifikasi tersebut menjadi salah satu karakter utama Astra dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

Ketika salah satu sektor usaha menghadapi perlambatan, kontribusi dari lini bisnis lainnya dapat membantu menjaga sumber pendapatan perusahaan.

Namun demikian, investor tetap perlu memperhatikan kondisi industri otomotif, penjualan kendaraan, pembiayaan konsumen, serta perkembangan bisnis alat berat.
MNC Sekuritas menyarankan investor mencermati saham ASII pada rentang Rp5.125 hingga Rp5.275.

Pergerakan saham ini juga menarik untuk diperhatikan karena investor asing masih melakukan transaksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Dengan demikian, perubahan arus dana asing dan volume perdagangan dapat menjadi indikator tambahan untuk membaca arah pergerakan ASII.

3. Saham INCO, Potensi dari Industri Nikel

Saham ketiga yang masuk dalam daftar pilihan MNC Sekuritas adalah INCO.
PT Vale Indonesia bergerak dalam industri pertambangan dan pengolahan nikel.

Komoditas ini memiliki peran penting dalam rantai pasok industri baja tahan karat serta bahan baku baterai kendaraan listrik.
Prospek industri nikel sangat berkaitan dengan perkembangan permintaan global, kapasitas produksi, kebijakan pemerintah, dan pergerakan harga komoditas.

Di satu sisi, kebutuhan bahan baku untuk industri kendaraan listrik memberikan peluang bagi industri nikel. Namun, di sisi lain, peningkatan pasokan global juga dapat menimbulkan tekanan terhadap harga jual.
MNC Sekuritas menyarankan investor mencermati saham INCO pada kisaran Rp3.490 hingga Rp3.700.

Investor sebaiknya memperhatikan perkembangan harga nikel dunia, biaya produksi, realisasi produksi perusahaan, serta prospek permintaan industri sebelum menentukan strategi transaksi.

Outflow Asing Masih Menjadi Perhatian Investor

Tekanan arus dana asing menjadi salah satu persoalan utama yang memengaruhi sentimen pasar saham Indonesia

Ketika investor asing melepas saham dalam jumlah besar, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan jual, terutama pada emiten dengan kapitalisasi pasar besar.

Namun, outflow tidak selalu berarti seluruh saham mengalami penurunan. Pergerakan masing-masing emiten tetap bergantung pada kondisi fundamental, valuasi, likuiditas, dan minat beli investor domestik.
Data perdagangan akhir pekan juga menunjukkan dinamika yang berbeda.

Pada Jumat, 6 November 2026, investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp109,30 miliar di pasar reguler. Meskipun demikian, akumulasi transaksi selama sepekan masih menunjukkan net sell sekitar Rp1,07 triliun.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa satu hari pembelian belum cukup untuk memastikan investor asing telah kembali mengakumulasi saham Indonesia.

Oleh sebab itu, investor perlu memantau konsistensi transaksi asing dalam beberapa hari perdagangan berikutnya.

MSCI, Inflasi China, dan Amerika Serikat Jadi Sentimen Berikutnya

Selain pergerakan dana asing, terdapat sejumlah agenda ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah IHSG pada pekan kedua November 2026.

Salah satunya adalah MSCI November Index Review yang menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi komposisi dan bobot saham dalam indeks acuan global.

Perubahan tersebut berpotensi mendorong penyesuaian portofolio oleh manajer investasi yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Selanjutnya, investor juga mencermati perkembangan ekonomi China, khususnya data inflasi dan neraca perdagangan.

China memiliki hubungan erat dengan industri komoditas dunia. Perubahan aktivitas ekonomi negara tersebut dapat memengaruhi permintaan bahan baku, termasuk nikel yang berkaitan dengan bisnis INCO.

Dari Amerika Serikat, pasar turut menantikan perkembangan inflasi dan data ketenagakerjaan, termasuk Nonfarm Payrolls (NFP).

Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat sekaligus memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Selain faktor global, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga perlu investor perhatikan. Pelemahan rupiah dapat memengaruhi biaya impor, sentimen pasar, serta keputusan investasi investor asing.

Strategi Investor Menghadapi IHSG yang Masih Fluktuatif

Menghadapi kondisi pasar yang belum stabil, investor sebaiknya menerapkan strategi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi.

Pertama, jangan terburu-buru membeli saham hanya karena indeks mengalami penguatan. Perhatikan apakah kenaikan tersebut mendapat dukungan volume transaksi dan aktivitas pembelian yang konsisten.

Kedua, lakukan analisis terhadap fundamental perusahaan. Pertumbuhan pendapatan, laba bersih, arus kas, tingkat utang, dan prospek bisnis perlu menjadi pertimbangan sebelum membeli saham.

Ketiga, tentukan batas risiko sejak awal. Investor perlu menyesuaikan ukuran transaksi dengan kemampuan finansial dan menghindari penggunaan dana kebutuhan sehari-hari untuk aktivitas perdagangan saham.

Keempat, investor dapat mempertimbangkan pembelian secara bertahap apabila valuasi dan prospek perusahaan sesuai dengan tujuan investasi. Strategi ini membantu mengurangi risiko mengambil seluruh posisi pada satu tingkat harga.

Dengan demikian, rekomendasi AMRT, ASII, dan INCO dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun daftar pantauan saham pekan depan. Namun, ketiganya tetap membutuhkan analisis lanjutan sebelum investor mengambil keputusan.(*)

Berita Terkait

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Minggu 8 November 2026, Cek Daftar Harga Berdasarkan Karat
Harga Emas Antam 8 November 2026 Turun, Cek Harga Buyback dan Selisihnya Hari Ini
Harga Emas Antam 7 November 2026 Naik Lagi, Buyback Tembus Rp2,37 Juta! Ini Selisih Harga Jual dan Beli
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 7 November 2026 Naik, 24 Karat Tembus Rp2,1 Juta per Gram
Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi: PGAS Menguat, SMGR Punya PBV Paling Murah
Bunga Deposito Bank Digital Terbaru: Tembus 8%, Ini Daftar Bank dengan Imbal Hasil Tertinggi
Dolar AS Masih Perkasa di Rp18.000, Rupiah Kembali Tertekan! Ini Pergerakan Kurs Terbaru 6 November 2026
Asuransi Swasta Mulai Kaji Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan, Begini Skema Urun Biaya yang Disiapkan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 18:01 WIB

IHSG Dibayangi Dana Asing Rp1,07 Triliun, MNC Sekuritas Ungkap 3 Saham Potensial: AMRT, ASII, dan INCO

Minggu, 8 November 2026 - 11:00 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Minggu 8 November 2026, Cek Daftar Harga Berdasarkan Karat

Minggu, 8 November 2026 - 08:01 WIB

Harga Emas Antam 8 November 2026 Turun, Cek Harga Buyback dan Selisihnya Hari Ini

Sabtu, 7 November 2026 - 14:15 WIB

Harga Emas Antam 7 November 2026 Naik Lagi, Buyback Tembus Rp2,37 Juta! Ini Selisih Harga Jual dan Beli

Sabtu, 7 November 2026 - 11:31 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 7 November 2026 Naik, 24 Karat Tembus Rp2,1 Juta per Gram

Berita Terbaru