JAKARTA,JS– Pernah merasakan sakit gigi yang menjalar hingga kepala? Awalnya hanya denyutan di gigi atau gusi, tapi lama-kelamaan kepala terasa berat dan nyeri. Banyak orang mengira hal ini kebetulan, padahal sakit gigi bisa memicu sakit kepala. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini menandakan masalah kesehatan serius.
Sakit gigi muncul karena berbagai hal, mulai dari infeksi, iritasi saraf, gangguan sendi rahang, hingga kebiasaan menggertakkan gigi tanpa sadar. Nyeri gigi sering menjalar ke kepala, leher, atau telinga. Oleh karena itu, penting memahami penyebabnya agar kamu bisa menanganinya dengan tepat.
1. Infeksi Gigi dan Abses
Bakteri dapat menyebabkan abses gigi, yaitu kantong nanah di sekitar gigi. Infeksi ini muncul karena kebersihan mulut kurang, cedera gigi, atau daya tahan tubuh menurun.
Rasa sakit biasanya tajam dan berdenyut. Nyeri bisa menjalar hingga telinga atau leher. Beberapa orang mengalami migrain akibat abses gigi, berupa sakit kepala hebat di satu sisi kepala dan mual. Jika tidak ditangani, infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Oleh karena itu, periksakan gigi ke dokter segera saat muncul gejala.
2. Saraf Trigeminal
Saraf trigeminal menghantarkan sensasi dari gigi, gusi, dan rahang ke otak. Saat gigi bermasalah, saraf ini ikut terstimulasi.
Akibatnya, nyeri gigi dapat menjalar ke kepala, termasuk sekitar mata atau pelipis. Dengan kata lain, masalah kecil di gigi bisa berkembang menjadi sakit kepala yang mengganggu.
3. Nyeri Alih (Referred Pain)
Otak kadang salah mengenali asal rasa sakit, fenomena ini disebut nyeri alih.
Nyeri yang berasal dari gigi bisa terasa di kepala, telinga, atau mata. Karena itu, banyak orang mengira mereka mengalami sakit kepala atau sakit telinga, padahal sumber nyerinya tetap di gigi.
4. Kebiasaan Menggemeretakkan Gigi
Bruksisme adalah kebiasaan menggertakkan gigi terlalu kuat, terutama saat tidur. Tekanan ini membuat otot dan sendi rahang tegang, sehingga nyeri bisa menjalar ke kepala.
Sakit kepala akibat bruksisme biasanya terasa seperti tekanan di pelipis, belakang mata, atau sekeliling kepala. Gejala lain meliputi:
-
Nyeri gigi atau rahang saat bangun tidur
-
Bunyi “klik” atau “pop” pada sendi rahang
-
Sulit membuka atau menutup mulut
Dokter gigi biasanya menyarankan penggunaan pelindung gigi (night guard). Selain itu, kamu bisa mengurangi gejala dengan teknik relaksasi, manajemen stres, dan fisioterapi otot rahang.
5. Sinus
Infeksi gigi geraham atas dapat memengaruhi sinus karena letaknya yang dekat rongga sinus. Nyeri gigi mudah menjalar ke wajah.
Gejala sinus meliputi tekanan wajah, hidung tersumbat, dan sakit kepala di dahi atau pipi. Kondisi ini sering membuat orang bingung apakah nyeri berasal dari gigi, sinus, atau keduanya.(AN)









