Proyek Irigasi WIKA di Muara Jaya Sungai Penuh Tuai Sorotan

- Jurnalis

Selasa, 23 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tampak Kondisi beton irigasi yang mudah rusak

Tampak Kondisi beton irigasi yang mudah rusak

SUNGAI PENUH, JS – Masyarakat Desa Muara Jaya, Kecamatan Kumun Debai, Kota Sungai Penuh, mengkritik proyek pembangunan Daerah Irigasi (DI). Mereka menilai bangunan irigasi yang baru selesai sangat buruk. Beton pada dinding saluran terlihat rapuh dan berpori, bahkan mudah hancur saat disentuh.

Beton Saluran Mudah Hancur

Menurut warga, subkontraktor mengerjakan proyek irigasi itu sebagai pekerjaan endors di bawah PT Wijaya Karya (WIKA). Namun, masyarakat menilai WIKA gagal menjaga standar mutu proyek infrastruktur negara yang harus tahan lama.

“Kami pikir bangunannya kuat. Namun kenyataannya, beton hancur hanya dengan disentuh. Kalau baru selesai saja sudah seperti ini, bagaimana nanti jika air terus mengalir?” ungkap warga yang enggan disebutkan namanya.

Baca Juga :  Pemkot Sungai Penuh Segera Serahkan SK 1.752 PPPK

Selain itu, warga lain menegaskan irigasi sangat penting bagi petani sebagai sumber pengairan sawah. Mereka menilai masyarakat harus memperhatikan kualitas bangunan.
“Irigasi ini bukan proyek sementara. Jika cepat rusak, petani yang paling dirugikan,” kata seorang warga.

Baca Juga :  Puluhan Desa di Kerinci & Sungai Penuh Belum Cairkan DD

Kritik dari Lembaga Swadaya Masyarakat

Di sisi lain, Lembaga Swadaya Masyarakat juga mengkritik proyek ini. Ramli menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya pengendalian mutu di lapangan. Ia menegaskan, meskipun subkontraktor mengerjakan proyek, WIKA tetap bertanggung jawab penuh.

Syafri menjelaskan subkontraktor bekerja berdasarkan kontrak dengan WIKA. Oleh karena itu, WIKA memiliki kewenangan memberi sanksi, mulai dari teguran hingga perintah perbaikan.“Jika perlu, WIKA bisa menghentikan pekerjaan subkontraktor,” tegasnya.

Peran Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi

Syafri menyebut BWSS VI Jambi tidak menandatangani kontrak langsung dengan subkontraktor. Meski begitu, BWSS VI tetap mengawasi kualitas pekerjaan WIKA.
“BWSS menilai kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi. Jika WIKA tidak memenuhi standar, BWSS menolak pekerjaan dan menahan pembayaran,” jelasnya.

Tidak Ada Papan Informasi Proyek

Selain itu, Syafri menyoroti ketiadaan papan informasi proyek di lokasi. Ia menilai ketiadaan papan proyek mengurangi transparansi dan melemahkan pengawasan publik.
“Kualitas beton bermasalah dan papan proyek tidak ada. Hal ini menunjukkan pengawasan belum maksimal,” ujarnya.

Rekam Jejak PT Wijaya Karya di Daerah

Dalam beberapa waktu terakhir, PT Wijaya Karya sering mendapat sorotan publik di Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Publik menilai perusahaan gagal menjalankan sejumlah proyek infrastruktur, mulai dari normalisasi sungai hingga pembangunan saluran irigasi.

Harapan Masyarakat

Oleh karena itu, masyarakat Desa Muara Jaya meminta WIKA mengevaluasi dan memperbaiki proyek DI secara menyeluruh. Mereka menuntut WIKA memeriksa ulang kualitas material dan memperbaiki pekerjaan sesuai spesifikasi teknis.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, WIKA dan BWSS VI Jambi belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi proyek Daerah Irigasi di Desa Muara Jaya, Kecamatan Kumun Debai, Kota Sungai Penuh. (AN)

Berita Terkait

Bangunan Milik Warga Tanjung Pauh Hilir Dilalap Sijago Merah, Usaha Pemadaman Masih Dilakukan
Sri Kartini Alfin Bekali 20 Finalis Bujang Gadis Sungai Penuh 2026, Kenalkan Program 3S dan Peran Generasi Muda
PPPK Paruh Waktu Sungai Penuh Diminta Segera Ajukan Perpanjangan Kontrak, Berikut Format Dokumen yang Harus Disiapkan
Peringatan Hari Pancasila, Pemkot Sungai Penuh Berikan Bantuan Alsintan hingga Program Kopi 400 Hektare ke Petani
Sewa Aset Pemkot Tunggak Dua Tahun, Bank Jambi Sungai Penuh Baru Melunasi Setelah Jadi Temuan BPK
DPRD Sungai Penuh Setujui Perubahan APBD 2026, Alfin Minta OPD Percepat Program
Dua Nelayan Tanjab Barat Hilang Saat Melaut, Ditemukan Selamat Setelah Dicari hingga 46 Mil
Ternyata! Bimtek BPD SE Kota Sungai Penuh di Jambi Telan Rp1,46 Miliar, SPPD hingga Biaya Hotel Jadi Dipertanyakan
Berita ini 58 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Bangunan Milik Warga Tanjung Pauh Hilir Dilalap Sijago Merah, Usaha Pemadaman Masih Dilakukan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:01 WIB

Sri Kartini Alfin Bekali 20 Finalis Bujang Gadis Sungai Penuh 2026, Kenalkan Program 3S dan Peran Generasi Muda

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Peringatan Hari Pancasila, Pemkot Sungai Penuh Berikan Bantuan Alsintan hingga Program Kopi 400 Hektare ke Petani

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Sewa Aset Pemkot Tunggak Dua Tahun, Bank Jambi Sungai Penuh Baru Melunasi Setelah Jadi Temuan BPK

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:10 WIB

DPRD Sungai Penuh Setujui Perubahan APBD 2026, Alfin Minta OPD Percepat Program

Berita Terbaru