KERINCI,JS- Kerusakan hutan di Kabupaten Kerinci mencuat setelah aktivis lingkungan Randi Vitora mengunggah informasi penting melalui media sosial pribadinya. Ia menyebut puluhan hektare hutan, termasuk di dalam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), diduga rusak akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Unggahan tersebut viral dan langsung memicu perhatian publik, menyoroti kondisi konservasi hutan yang semakin memprihatinkan. Randi menegaskan, aparat dan otoritas terkait tidak boleh membiarkan kepentingan modal mengalahkan hukum.
“Negara tidak boleh kalah oleh cukong. Jika birokrasi di tingkat tapak sudah tumpul, jangan salahkan jika publik mulai bergerak mencari keadilan sendiri,” tulis Randi.
Lemahnya Pengawasan Tambang Ilegal
Randi kemudian mempertanyakan seriusnya pengawasan terhadap aktivitas tambang ilegal di Kerinci. Ia menyoroti masuknya alat berat ke lokasi tambang di wilayah Tamiai. Menurutnya, mobilisasi alat berat yang memakan waktu hingga tiga hari seharusnya memberi petugas kesempatan cukup untuk menghentikan aktivitas ilegal.
“Para penambang dan alat berat tidak turun begitu saja dari langit. Apakah waktu tempuh tiga hari tidak cukup untuk menghentikan? Kita jadi bertanya, seserius apa pengawasan terhadap hutan Kerinci?” ujar Randi.
Dengan kata lain, Randi menekankan bahwa lemahnya pengawasan memperburuk kerusakan hutan yang seharusnya bisa dicegah.
Isu Lain yang Memprihatinkan
Selain PETI, Randi menyoroti beberapa masalah lain yang menimbulkan keresahan masyarakat. Ia menyinggung pengelolaan sampah di jalur pendakian dan dugaan praktik jual beli lahan ilegal di kawasan konservasi. Ia menilai, akumulasi persoalan ini menunjukkan ketidakadilan ekologis yang berpotensi merugikan masyarakat Kerinci secara luas.
“Hutan Kerinci adalah sumber kehidupan, bukan komoditas cukong. Jika pengawasan di tingkat tapak sudah tumpul, maka publik yang harus tajam bersuara,” tegas Randi.
Belum Ada Tanggapan Resmi
Hingga berita ini diterbitkan, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat belum memberikan tanggapan resmi terkait data kerusakan hutan maupun tudingan pembiaran masuknya alat berat yang disampaikan aktivis tersebut. Publik masih menunggu langkah nyata dari pihak berwenang untuk menyelamatkan hutan Kerinci.(*)









