JAKARTA,JS– Setiap musim hujan, kondisi jalan di berbagai wilayah Indonesia sering berubah drastis. Jalan yang sebelumnya mulus tiba-tiba dipenuhi lubang, retak, atau bergelombang. Bahkan jalan yang baru beberapa hari lalu mulus bisa berubah menjadi kubangan air. Akibatnya, pengendara harus ekstra hati-hati.
Dosen Teknik Sipil Universitas Tangerang Raya (Untara), Riski Wahyudi, mengatakan salah satu penyebab klasik jalan rusak adalah drainase yang buruk. “Air merupakan musuh utama jalan beraspal. Jika hujan tidak mengalir dengan baik, genangan muncul dan merusak struktur jalan,” ujarnya.
Selain itu, air meresap ke pori-pori aspal atau terperangkap di lapisan bawah. Kondisi ini membuat aspal mengembang, retak, dan terangkat saat kendaraan berat melintas. Akibatnya, jalan menjadi bergelombang bahkan berlubang dengan kedalaman berbahaya.
Meski kualitas hotmix (aspal dan agregat) tinggi dan sesuai standar, jalan tetap cepat rusak bila air menggenang. “Walaupun aspal kedap air, air yang masuk melalui retakan merusak lapisan bawah. Berbeda dengan beton, yang lebih tahan genangan,” jelas Riski.
Kerusakan biasanya muncul dari retakan kecil. Sayangnya, petugas sering menunda perbaikan hingga kerusakan meluas. Dengan demikian, biaya perbaikan semakin membengkak setiap hujan turun.
Selain drainase, faktor lain yang mempercepat kerusakan jalan adalah truk ODOL, pengerjaan tidak sesuai standar, dan pengawasan yang lemah.
Dengan curah hujan tinggi di Indonesia, pihak berwenang harus segera memperbaiki drainase agar jalan lebih awet. “Dengan kata lain, perhatian pada drainase sama pentingnya dengan kualitas material dan pengawasan pembangunan jalan,” ujar Riski.(AN)









