JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beras dan rokok kretek filter masih menjadi dua komoditas terbesar yang membebani pengeluaran penduduk miskin. Keduanya menjadi penentu utama Garis Kemiskinan (GK) pada September 2025 yang tercatat sebesar Rp 641.443 per kapita per bulan.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, GK naik 5,30 persen dibandingkan Maret 2025 dan meningkat 7,76 persen dibandingkan September 2024. Kenaikan ini tidak lepas dari tingginya kontribusi komoditas kebutuhan harian, terutama beras dan rokok.
“Garis Kemiskinan menunjukkan batas minimum pengeluaran agar seseorang tidak dikategorikan miskin,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta.
Beras Jadi Beban Terbesar Rumah Tangga Miskin
BPS mencatat beras menjadi penyumbang terbesar Garis Kemiskinan dari sisi makanan. Di wilayah perkotaan, kontribusi beras mencapai 21,10 persen. Sementara di perdesaan, angkanya lebih tinggi, yakni 24,62 persen.
Besarnya peran beras menunjukkan kuatnya ketergantungan rumah tangga miskin terhadap satu komoditas pangan utama. Setiap kenaikan harga beras langsung memengaruhi daya beli dan risiko jatuh ke bawah garis kemiskinan.
Amalia menegaskan, dominasi beras membuat struktur pengeluaran masyarakat miskin sangat rentan terhadap gejolak harga pangan.
Rokok Ikut Menggerus Pengeluaran
Selain beras, rokok kretek filter muncul sebagai persoalan serius dalam struktur pengeluaran penduduk miskin. Rokok menjadi penyumbang terbesar kedua Garis Kemiskinan, bahkan melampaui sejumlah kebutuhan dasar non-makanan.
Di perkotaan, rokok menyumbang 10,41 persen terhadap GK. Di perdesaan, angkanya mencapai 9,11 persen.
Amalia menyebut, meskipun rokok bukan kebutuhan dasar, konsumsinya tetap tinggi di kelompok rumah tangga miskin. Akibatnya, rokok ikut menekan kemampuan mereka memenuhi kebutuhan lain yang lebih esensial.
Makanan Masih Dominan Dibanding Non-Makanan
Secara keseluruhan, komoditas makanan masih mendominasi Garis Kemiskinan. Pada September 2025, kontribusi Garis Kemiskinan Makanan mencapai 73,81 persen di perkotaan dan 76,11 persen di perdesaan.
Komoditas lain seperti telur ayam ras, daging ayam ras, kopi, dan mi instan turut berkontribusi. Namun, pengaruhnya jauh lebih kecil dibandingkan beras dan rokok.
Kemiskinan Turun, Tantangan Tetap Ada
Di tengah tekanan pengeluaran tersebut, BPS mencatat jumlah penduduk miskin menurun. Persentasenya turun menjadi 8,25 persen pada September 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat 23,36 juta orang.
Namun, Amalia menilai data ini tetap menyisakan tantangan. Selama beras dan rokok mendominasi pengeluaran, rumah tangga miskin masih berada dalam posisi rentan.
“Struktur pengeluaran ini perlu menjadi perhatian bersama,” kata Amalia.









