JAKARTA,JS– Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menghadapi banyak kekurangan setelah berjalan satu tahun. Kasus keracunan di beberapa daerah muncul karena pengelolaan program belum optimal.
Taruna Dorong Evaluasi Program MBG
Taruna menyebut ada empat aspek utama yang perlu diperbaiki. Pertama, dia menyoroti Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Beberapa produsen belum memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).
“Kami berharap tahun ini semua SPP-IRT sudah memenuhi standar tersebut,” kata Taruna.
Dia juga menekankan pentingnya sertifikat cara pembuatan pangan olahan yang baik. Sertifikat ini menunjukkan dapur MBG siap memproduksi makanan sesuai standar keamanan pangan.
Selain itu, Taruna menegaskan BPOM sudah memeriksa bahan makanan, termasuk protein, karbohidrat, dan serat. Meski begitu, dia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) bekerja sama untuk memastikan kualitas makanan.
“Evaluasi sangat diperlukan, dan badan gizi paling berhak menilai,” tegas Taruna.
Ratusan Siswa Keracunan di Kudus
Ratusan siswa SMAN 2 Kudus mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyebut 112 siswa menjalani perawatan di rumah sakit, sementara 450 siswa merasakan gejala keracunan.
“Polri, TNI, relawan, Dinkes, RSUD, dan rumah sakit swasta bekerja sama untuk menangani kasus ini,” ujar Sam’ani, Kamis (29/1).
Dinas Kesehatan Jawa Tengah Buka Hotline Aduan
Dinas Kesehatan Jawa Tengah membuka hotline di nomor 0811-2622-000 untuk menerima laporan terkait MBG. Mereka meneruskan aduan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menegaskan pihak yang lalai menerima peringatan, dan pihaknya melaporkan kasus tersebut ke BGN.
Pengawasan Ketat Jadi Kunci Keamanan Pangan
Program MBG bertujuan meningkatkan gizi anak-anak, namun pengawasan tetap menjadi tantangan utama. Taruna menekankan semua pihak harus memastikan keamanan pangan, mulai dari sertifikasi hingga bahan baku.
“Perbaikan harus terjadi di semua aspek agar kasus keracunan tidak terulang,” kata Taruna.(*)









