KERINCI,JS– Penyusutan air Danau Kerinci kini semakin terasa oleh masyarakat. Akibatnya, kehidupan warga yang bergantung pada danau sebagai sumber penghidupan terganggu. Nelayan, petani, dan pelaku usaha pariwisata merasakan dampaknya secara langsung.
Penurunan Debit Air Bikin Nelayan dan Petani Terjepit
Seiring waktu, kelompok nelayan melaporkan hasil tangkapan ikan terus menurun. Petani menghadapi kesulitan karena lahan persawahan mengering akibat suplai air dari Sungai Batang Merangin tidak mencukupi.
“Air tetap surut, ekonomi kami tetap terpuruk,” ujar seorang nelayan yang menggantungkan hidup dari danau.
Selain itu, surutnya air danau mengubah wajah destinasi wisata. Jumlah pengunjung menurun drastis. Akibatnya, pendapatan pemilik warung, pedagang kaki lima, dan penyedia jasa wisata menurun tajam. Beberapa pemilik usaha menutup toko lebih cepat untuk menekan kerugian.
Kunjungan Pemerintah Tak Berikan Solusi
Meskipun demikian, anggota DPRD Kabupaten Kerinci dan perwakilan pemerintah daerah meninjau lokasi terdampak, namun masyarakat menilai kunjungan itu hanya simbolis.
“Datang melihat, tapi setelah itu tidak ada kejelasan,” keluh nelayan lainnya.
LSM Soroti Lemahnya Pengawasan Pemerintah
Lebih jauh lagi, LSM Cakrawala menilai pemerintah daerah tidak menjalankan fungsi pengawasan dan perlindungan kepentingan masyarakat secara maksimal.
“Dampaknya sudah nyata, tapi pemerintah daerah seolah memilih diam,” kata Ketua LSM, Ruslan.
Danau Kerinci: Lebih dari Sekadar Lanskap
Di sisi lain, masyarakat memandang Danau Kerinci bukan sekadar lanskap alam. Danau ini menjadi sumber nafkah, identitas budaya, dan kebanggaan daerah. Jika pemerintah tidak bertindak serius, penyusutan air akan memicu krisis ekologis dan sosial jangka panjang.
Legislator dan Ahli Mendesak Tindakan Cepat
Oleh karena itu, anggota DPRD Provinsi Jambi, Afuan Yuza Putra, meminta Pemerintah Kabupaten Kerinci segera membentuk tim ahli. Tim ini harus mengkaji penyebab penyusutan air secara ilmiah.
“Langkah cepat pemerintah penting untuk menjaga kepercayaan publik dan kelestarian danau,” katanya.
PLTA Batang Merangin Angkat Bicara
Sementara itu, pihak PLTA KMH Batang Merangin menjelaskan Danau Kerinci hanya menyumbang sekitar 40 persen pasokan air pembangkit. Sisanya berasal dari sungai-sungai sepanjang Batang Merangin. Humas PT KMH, Aslori, menambahkan anomali cuaca Januari 2026 mengurangi volume air yang masuk ke waduk.
Kajian Hidrologi: Danau Kontributor Utama
Namun, Dosen Universitas Gadjah Mada, Dr.Eng. Ir. Akmaluddin, menilai Danau Kerinci menyumbang lebih banyak, sekitar 60 persen suplai air pembangkit. Ia menekankan bahwa danau sangat penting untuk menjaga stabilitas debit air. Selain itu, kontrak pasokan listrik dengan PLN membuat pengelola PLTA memaksimalkan aliran air, sehingga wilayah hilir merasakan penurunan debit.(AN/*)









