ETF Naik Daun di Pasar Modal, Begini Cara Kerjanya

- Jurnalis

Senin, 2 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

ETF

ETF

BISNIS,JS- Pasar modal Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi. Untuk memenuhi kebutuhan diversifikasi portofolio, pelaku pasar kini memiliki semakin banyak pilihan instrumen. Salah satu yang menonjol adalah Exchange Traded Fund (ETF).

ETF hadir sebagai produk investasi yang menggabungkan konsep reksa dana dengan fleksibilitas saham. Mengacu pada penjelasan Bursa Efek Indonesia, ETF merupakan kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya tercatat dan diperdagangkan langsung di bursa.

Dengan mekanisme tersebut, investor dapat membeli dan menjual ETF melalui perusahaan sekuritas selama jam perdagangan berlangsung. Berbeda dari reksa dana konvensional, ETF menampilkan harga secara real-time sehingga investor bisa memantau pergerakan nilai investasinya setiap saat.

Sekilas Mirip Reksa Dana, Namun Mekanismenya Berbeda

Sekilas, ETF memang tampak serupa dengan reksa dana. Namun, perbedaan mekanisme membuat kedua instrumen ini memiliki karakteristik yang tidak sama. Oleh karena itu, investor perlu memahami perbedaannya sebelum mengalokasikan dana.

Baca Juga :  Investor Domestik Menguat, Saham Bank Jumbo Tetap Solid

Menurut penjelasan BNI Sekuritas, perbedaan utama terletak pada tempat transaksi dan struktur biaya.

Selain itu, beberapa perbedaan penting lainnya meliputi:

  • Waktu transaksi: Investor dapat memperdagangkan ETF kapan saja selama jam bursa, sementara reksa dana hanya menggunakan harga akhir hari.
  • Biaya transaksi: Transaksi ETF dikenakan komisi broker, sedangkan reksa dana menerapkan biaya pembelian atau penjualan kembali.
  • Minimum investasi: Reksa dana menetapkan nominal rupiah tertentu, sedangkan ETF menggunakan satuan lot.
  • Transparansi portofolio: ETF secara rutin mempublikasikan komposisi asetnya.

Dengan membeli satu produk ETF berbasis indeks, investor langsung memperoleh eksposur ke seluruh saham dalam indeks tersebut.

Berdasarkan ulasan Maybank, strategi ini membantu investor menekan risiko karena kinerja portofolio tidak bergantung pada satu emiten saja. Selain itu, ETF umumnya mengenakan biaya pengelolaan yang lebih rendah karena mayoritas dikelola secara pasif dan hanya mengikuti indeks acuan.

Memahami Pasar Primer dan Pasar Sekunder

Selain mekanisme transaksi, investor juga perlu memahami struktur pasar ETF. Perdagangan ETF terbagi menjadi pasar primer dan pasar sekunder.

Pasar primer melayani transaksi berskala besar yang melibatkan Dealer Partisipan. Sementara itu, investor ritel bertransaksi di pasar sekunder dengan membeli ETF dalam satuan lot melalui aplikasi trading saham.

Baca Juga :  Jangan Asal Investasi! Ini Bedanya Saham, Obligasi, dan Reksadana

Kehadiran Dealer Partisipan berperan penting dalam menjaga likuiditas serta memastikan harga ETF tetap bergerak mendekati nilai wajarnya.

Langkah Awal Memulai Investasi ETF

Agar investasi berjalan optimal, investor sebaiknya menerapkan strategi sejak awal. Pertama, pahami indeks acuan yang diikuti ETF dan sesuaikan dengan profil risiko. Kedua, pilih ETF dengan likuiditas tinggi agar proses jual beli lebih lancar.

Selain itu, investor perlu memeriksa tracking error untuk menilai seberapa akurat ETF mengikuti indeksnya. Terakhir, investor dapat menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dengan berinvestasi secara rutin guna meredam dampak volatilitas pasar.

Investor tetap perlu mencermati kondisi pasar karena kinerja ETF akan selalu mengikuti pergerakan aset dasarnya.

Dengan pemahaman yang tepat dan strategi yang disiplin, ETF berpotensi menjadi instrumen andalan dalam membangun portofolio jangka panjang di pasar modal Indonesia.

Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)

Berita Terkait

Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok atau Bakal Rebound? BTC Masih di Bawah US$65.000, Ini 5 Pemicu Utamanya
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 8 Agustus 2026: 24 Karat Tembus Rp2,18 Juta per Gram
Tabel KUR Mandiri Agustus 2026 Terbaru: Pinjaman Rp100 Juta Cicilan Mulai Rp1,9 Jutaan, Simak Syarat dan Cara Pengajuannya
BNI Kantongi Dana Rp18,5 Triliun dari Pemerintah, Peluang Kredit Usaha Makin Besar? Simak Dampaknya bagi Nasabah dan Ekonomi
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 6 Agustus 2026: Cek Harga 24 Karat hingga 12 Karat
Freelancer Wajib Tahu! Ini Asuransi Terbaik untuk Lindungi Penghasilan, Kesehatan, dan Masa Depan Finansial 2026
KUR BRI Rp150 Juta 2026: Simulasi Cicilan Mulai Rp3,25 Juta, Syarat Lengkap dan Cara Ajukan Modal Usaha Peternakan, Perikanan hingga Pertanian
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 5 Agustus 2026 Turun, Cek Harga Terbarunya Disini
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:01 WIB

Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok atau Bakal Rebound? BTC Masih di Bawah US$65.000, Ini 5 Pemicu Utamanya

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 8 Agustus 2026: 24 Karat Tembus Rp2,18 Juta per Gram

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Tabel KUR Mandiri Agustus 2026 Terbaru: Pinjaman Rp100 Juta Cicilan Mulai Rp1,9 Jutaan, Simak Syarat dan Cara Pengajuannya

Jumat, 7 Agustus 2026 - 12:01 WIB

BNI Kantongi Dana Rp18,5 Triliun dari Pemerintah, Peluang Kredit Usaha Makin Besar? Simak Dampaknya bagi Nasabah dan Ekonomi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 6 Agustus 2026: Cek Harga 24 Karat hingga 12 Karat

Berita Terbaru