MUAROJAMBI,JS- Kebakaran lahan gambut di Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, belum juga terkendali hingga Jumat (7/8/2026). Api terus membakar kawasan gambut yang berada di sekitar hutan produksi sejak kebakaran muncul pada Rabu (5/8/2026).
Kondisi lapangan semakin menantang karena angin bertiup cukup kencang. Tiupan angin membuat api bergerak cepat dari satu titik ke titik lain, sementara tim pemadam juga menghadapi keterbatasan sumber air di sekitar lokasi.
Hingga Jumat sore, perkiraan sementara menunjukkan kebakaran telah menghanguskan sekitar 15 hektare lahan gambut.
Tim gabungan kini memperkuat operasi pemadaman. Manggala Agni Daops Sumatera IX Kota Jambi bersama Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus menyisir titik api dan melakukan pendinginan untuk mencegah bara kembali menyala.
Kebakaran Lahan Gambut Sungai Gelam Belum Padam Total
Kebakaran yang berlangsung selama beberapa hari membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan ekstra. Karakter gambut menjadi salah satu faktor yang membuat api sulit dikendalikan.
Api tidak hanya menyebar di permukaan. Bara juga dapat menjalar ke lapisan gambut sehingga petugas harus memastikan titik panas benar-benar dingin sebelum meninggalkan lokasi.
Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman tidak cukup hanya dengan menyiram permukaan lahan. Petugas perlu melakukan penyisiran, mencari titik panas, mengarahkan air ke area yang masih berasap, kemudian melakukan pendinginan secara berulang.
Selain faktor karakter lahan gambut, angin juga memperbesar tantangan di lapangan.
Angin Kencang Mempercepat Pergerakan Api
Kepala Daops Manggala Agni Kota Jambi, Rinaldi, menjelaskan bahwa kondisi angin menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman.
Menurut Rinaldi, tiupan angin yang cukup kuat membuat api lebih cepat merambat. Kondisi tersebut memaksa personel melakukan pemadaman secara lebih intensif agar kobaran tidak bergerak semakin jauh.
Selain angin, tim juga menghadapi persoalan lain, yakni sulitnya menemukan sumber air yang memadai di sekitar lokasi kebakaran.
Keterbatasan sumber air membuat petugas harus mengatur strategi pemadaman secara lebih efektif. Tim perlu memastikan pasokan air dapat menjangkau titik-titik kebakaran yang membutuhkan penanganan segera.
Situasi ini sekaligus menunjukkan mengapa kebakaran lahan gambut membutuhkan respons cepat, terutama ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api.
Tiga Pesawat Water Bombing Dikerahkan
Untuk mempercepat pemadaman, Satgas Karhutla mengerahkan tiga unit pesawat water bombing pada Jumat siang.
Pesawat tersebut melakukan penyiraman dari udara secara berulang ke area yang masih terbakar. Strategi ini membantu tim menjangkau lokasi yang sulit dilalui kendaraan atau personel di darat.
Operasi water bombing menjadi salah satu langkah penting ketika luas area kebakaran terus bertambah atau kondisi medan menyulitkan petugas.
Pesawat menyiramkan air ke titik yang menjadi sasaran pemadaman. Setelah itu, tim darat kembali melakukan pengecekan untuk melihat perkembangan api dan mencari titik panas yang masih bertahan.
Namun, operasi udara tersebut belum membuat seluruh api padam.
Tim gabungan masih harus melanjutkan pemadaman di darat sekaligus melakukan pendinginan untuk mengurangi kemungkinan munculnya kembali kobaran api.
Luas Kebakaran Diperkirakan Capai 15 Hektare
Berdasarkan perkiraan sementara hingga Jumat sore, luas lahan gambut yang terbakar mencapai sekitar 15 hektare.
Angka tersebut masih dapat berubah mengikuti hasil pendataan dan pemantauan tim di lapangan. Petugas juga terus memantau perkembangan titik api untuk mengetahui apakah masih terdapat area lain yang mengalami penyebaran.
Besarnya area yang terbakar membuat penanganan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Terlebih, lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lahan biasa.
Api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi mendukung.
Karena itu, setelah petugas mengendalikan kobaran utama, mereka tetap harus melakukan proses pendinginan secara menyeluruh.
Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?
Lahan gambut menyimpan material organik dalam jumlah besar. Ketika kondisi lahan mengering, material tersebut dapat menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Berbeda dengan kebakaran vegetasi di permukaan, api pada lahan gambut dapat bergerak melalui lapisan tanah organik. Kondisi itu membuat petugas harus bekerja lebih lama untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Selain itu, asap tebal sering muncul ketika kebakaran gambut berlangsung. Asap dapat mengganggu jarak pandang dan membuat proses mobilisasi personel menjadi lebih sulit.
Karena itu, penanganan karhutla di Jambi membutuhkan kombinasi strategi darat dan udara.
Tim harus mengendalikan api dari permukaan sekaligus memantau area yang berpotensi menyimpan bara di dalam tanah.
Asap Tebal Masih Terlihat di Sekitar Lokasi
Kobaran api di kawasan Sungai Gelam juga menghasilkan asap tebal yang terlihat dari sekitar lokasi kebakaran.
Asap menjadi salah satu indikator bahwa proses pembakaran masih berlangsung di sejumlah titik. Karena itu, petugas tidak hanya berfokus pada kobaran api yang terlihat, tetapi juga mencari lokasi yang mengeluarkan asap atau memiliki indikasi panas.
Pemantauan seperti ini penting karena titik api yang terlihat kecil tetap berpotensi berkembang ketika angin kembali menguat.
Tim gabungan juga perlu menjaga agar api tidak bergerak menuju area vegetasi lain yang masih memiliki bahan bakar.
Tim Gabungan Masih Bertahan di Lokasi
Personel gabungan masih bersiaga di lokasi hingga Jumat. Mereka akan melanjutkan operasi pemadaman pada hari berikutnya.
Setelah api terkendali, petugas akan memperkuat proses pendinginan. Tahap tersebut memiliki peran penting untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Pendinginan juga memungkinkan petugas menemukan lokasi yang masih menyimpan bara.
Dengan demikian, tim tidak hanya mengejar kobaran yang terlihat, tetapi juga memastikan area bekas terbakar benar-benar aman.
Risiko Karhutla Jambi Perlu Diwaspadai
Kebakaran di Sungai Gelam kembali menyoroti ancaman kebakaran hutan dan lahan di Jambi.
Kondisi lahan yang mengering, angin, serta ketersediaan sumber air menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi proses penanganan kebakaran.
Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan rawan karhutla perlu meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas yang melibatkan pembakaran lahan dapat meningkatkan risiko ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Selain pemadaman, pencegahan juga menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak karhutla.
Pemantauan titik rawan, deteksi dini, kesiapan personel, serta respons cepat dapat membantu mengurangi potensi perluasan kebakaran.
Dampak Asap Kebakaran Lahan yang Perlu Diantisipasi
Kebakaran lahan gambut tidak hanya mengancam kawasan yang terbakar. Asap yang muncul juga dapat menyebar mengikuti arah angin.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara di sekitar tempat tinggal masing-masing.
Ketika asap semakin pekat, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara juga perlu mendapatkan perhatian lebih.
Selain itu, pengendara yang melintasi kawasan terdampak harus meningkatkan kewaspadaan karena asap tebal dapat mengurangi jarak pandang.
Strategi Pemadaman Terus Diperkuat
Penggunaan tiga pesawat water bombing menunjukkan bahwa Satgas Karhutla berupaya mempercepat penanganan dari udara.
Namun, pemadaman udara tetap membutuhkan dukungan personel di darat.
Tim darat berperan dalam memeriksa titik api, melakukan penyisiran, mengatasi bara yang tersisa, serta menjalankan pendinginan setelah kobaran utama berhasil dikendalikan.
Kombinasi tersebut menjadi penting dalam menangani kebakaran lahan gambut yang memiliki medan sulit dan potensi munculnya kembali titik api.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Api Padam?
Pemadaman api bukan akhir dari operasi karhutla. Setelah kobaran utama menghilang, petugas masih perlu melakukan pemantauan.
Area bekas terbakar harus diperiksa kembali untuk menemukan titik panas. Petugas juga perlu memastikan tidak ada asap yang muncul dari lapisan gambut.
Jika masih terdapat titik panas, tim harus segera melakukan penyiraman dan pendinginan.
Langkah tersebut dapat mencegah bara kembali berkembang menjadi kebakaran baru.
Selain itu, pemantauan beberapa waktu setelah pemadaman menjadi penting, terutama ketika angin kembali bertiup kencang atau kondisi lahan tetap kering.
Perkembangan Kebakaran Sungai Gelam Terus Dipantau
Hingga Jumat (7/8/2026), tim gabungan masih melanjutkan operasi di kawasan Sungai Gelam.
Kondisi kebakaran belum sepenuhnya terkendali sehingga personel tetap bersiaga. Tim juga akan melanjutkan pemadaman dan pendinginan pada hari berikutnya.
Sementara itu, luas area yang terbakar mencapai perkiraan sekitar 15 hektare sejak kebakaran mulai muncul pada Rabu (5/8/2026).
Dengan pengerahan tiga pesawat water bombing serta dukungan personel darat, Satgas Karhutla terus berupaya mencegah api meluas.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kebakaran, kondisi kualitas udara, serta potensi gangguan akibat asap.
Kesimpulan
Kebakaran lahan gambut di Kecamatan Sungai Gelam, Muaro Jambi, menjadi perhatian karena api belum sepenuhnya padam setelah berlangsung selama beberapa hari.
Angin kencang dan keterbatasan sumber air membuat proses pemadaman semakin menantang. Untuk mempercepat penanganan, Satgas Karhutla mengerahkan tiga pesawat water bombing yang melakukan penyiraman udara secara berulang.
Hingga Jumat sore, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 15 hektare.
Tim gabungan masih berada di lokasi untuk melanjutkan pemadaman, penyisiran, dan pendinginan. Langkah tersebut penting untuk mengendalikan kebakaran sekaligus mencegah bara kembali memicu api.
Perkembangan karhutla Muaro Jambi, kondisi asap, dan hasil operasi pemadaman selanjutnya masih menjadi informasi yang perlu masyarakat pantau.(*)










