TANJABBAR,JS- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), Jambi. Hingga pertengahan September 2026, ratusan kejadian kebakaran muncul di berbagai wilayah dengan total luasan lahan yang terbakar mencapai 500,25 hektare.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanjung Jabung Barat mencatat 587 kejadian karhutla sepanjang 2026 hingga periode tersebut. Selain itu, pemantauan juga menemukan 1.249 titik panas atau hotspot di wilayah kabupaten tersebut.
Angka itu menunjukkan tantangan besar bagi pemerintah daerah dan seluruh unsur penanggulangan bencana, terutama ketika kondisi cuaca masih mendukung munculnya titik api.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Tanjung Jabung Barat, Samsuhadi, SE, mengatakan kejadian karhutla tersebar di sejumlah wilayah. Namun, kawasan hulu Tanjab Barat menjadi salah satu daerah yang paling banyak menghadapi kebakaran.
“Yang paling banyak itu di wilayah hulu, daerah Kecamatan Batang Asam dan Kecamatan Renah Mendaluh,” kata Samsuhadi.
Karhutla Tanjab Barat Dominasi Lahan Mineral
Samsuhadi menjelaskan bahwa karakter lahan turut memengaruhi penanganan karhutla di Tanjung Jabung Barat. Kebakaran yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir lebih banyak muncul pada kawasan dengan tanah mineral.
Kondisi tersebut berbeda dengan kebakaran pada lahan gambut yang memiliki karakter penanganan tersendiri. Pada lahan mineral, petugas tetap menghadapi tantangan ketika lokasi kebakaran berada jauh dari akses utama dan memiliki medan yang sulit.
Sejumlah titik api di wilayah hulu berada pada kawasan perbukitan. Kondisi medan membuat kendaraan dan personel tidak selalu dapat mencapai lokasi dengan cepat.
Karena itu, petugas perlu menyesuaikan strategi ketika menghadapi kebakaran di kawasan tersebut. Tim tidak hanya mengejar pemadaman api, tetapi juga melakukan pendinginan untuk mengurangi kemungkinan munculnya kembali titik api.
Situasi itu membuat penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas instansi. BPBD bekerja bersama unsur TNI dan Polri serta personel lain yang terlibat dalam penanggulangan kebakaran.
Batang Asam dan Renah Mendaluh Jadi Wilayah Perhatian
Dari seluruh wilayah Tanjab Barat, Kecamatan Batang Asam dan Renah Mendaluh menjadi dua daerah yang mendapat perhatian khusus.
Kedua wilayah tersebut berada di kawasan hulu dan memiliki karakter geografis yang membuat akses menuju lokasi kebakaran tidak selalu mudah. Selain persoalan medan, petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air pada sejumlah lokasi.
“Kesulitan untuk wilayah hulu, di Kecamatan Batang Asam dan Renah Mendaluh, karena akses menuju lokasi terkendala medan yang sulit dan sumber air yang sulit,” ujar Samsuhadi.
Kondisi itu tentu memengaruhi kecepatan penanganan. Ketika titik api muncul jauh dari permukiman atau jalan utama, petugas harus menempuh medan yang lebih berat sebelum mencapai lokasi.
Meski begitu, BPBD bersama unsur terkait tetap melakukan pemantauan dan patroli. Langkah tersebut penting untuk menemukan titik panas lebih awal sehingga petugas dapat mengambil tindakan sebelum api berkembang lebih luas.
Pada September ini, petugas juga menangani sejumlah titik panas di Renah Mendaluh. Polsek Merlung bersama TNI, misalnya, melakukan pengecekan terhadap beberapa hotspot pada 9 September 2026. Petugas kemudian menemukan lahan terbakar sekitar satu hektare di Desa Muara Danau dan melakukan pendinginan untuk mencegah munculnya kembali api.
Petugas Polsek Merlung juga menangani kebakaran sekitar 0,5 hektare di Desa Tanah Tumbuh, Kecamatan Renah Mendaluh, pada 10 September. Pemeriksaan di lokasi menunjukkan karakter tanah berupa tanah mineral.
1.249 Hotspot Terdeteksi di Tanjab Barat
Selain mencatat 587 kejadian karhutla dan 500,25 hektare lahan terbakar, BPBD Tanjung Jabung Barat juga mencatat 1.249 hotspot sepanjang periode pemantauan.
Hotspot menjadi salah satu indikator yang membantu petugas memantau potensi kebakaran dari jarak jauh. Namun, setiap titik panas tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan untuk memastikan apakah benar-benar berkaitan dengan kebakaran.
Karena itu, pemantauan satelit perlu berjalan bersama pengecekan langsung. Petugas dapat mengetahui lokasi yang membutuhkan perhatian, kemudian melakukan verifikasi di lapangan.
Strategi tersebut menjadi penting ketika wilayah yang menghadapi kebakaran memiliki medan yang sulit. Dengan pemantauan secara berkelanjutan, petugas dapat menentukan prioritas penanganan dan mengantisipasi perkembangan api.
BPBD Siagakan Posko Karhutla di Muntialo
Untuk memperkuat respons terhadap kebakaran, BPBD Tanjung Jabung Barat tetap menyiagakan posko karhutla di Desa Muntialo, Kecamatan Betara.
Posko tersebut menjadi salah satu titik pendukung koordinasi penanganan kebakaran. Dari posko, petugas dapat melakukan pemantauan sekaligus berkoordinasi dengan unsur lain ketika muncul laporan kebakaran.
Selain itu, patroli dan pengecekan lapangan terus berjalan. BPBD juga berkoordinasi dengan TNI dan Polri dalam menghadapi potensi kebakaran baru.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena jumlah kejadian karhutla sepanjang 2026 sudah mencapai ratusan kasus.
Pada akhir Agustus, Pemkab Tanjung Jabung Barat bersama TNI, Polri, BPBD Provinsi Jambi, BPBD Tanjab Barat, perangkat daerah, perusahaan, serta unsur terkait juga menggelar rapat koordinasi penanganan karhutla.
Dalam rapat tersebut, pemerintah mencatat 244 kejadian karhutla dengan luas lahan sekitar 232 hektare hingga 24 Agustus. Data itu juga mencatat 828 hotspot pada periode tersebut.
Perkembangan data hingga pertengahan September kemudian menunjukkan kenaikan yang cukup besar. Jumlah kejadian mencapai 587 kasus dengan luas lahan terbakar 500,25 hektare.
Musim Kemarau Masih Jadi Perhatian
Faktor cuaca turut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla. Analisis BMKG pada Dasarian I September 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Jambi masih mengalami musim kemarau. Secara nasional, sekitar 80,7 persen zona musim berada dalam periode kemarau. BMKG juga memperkirakan curah hujan pada periode September II hingga Oktober I 2026 berada pada kategori rendah hingga menengah di banyak wilayah.
BMKG juga mengingatkan bahwa atmosfer kering dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Dalam analisis pertengahan September, BMKG menyebut sekitar 81 persen zona musim Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi kering tersebut turut meningkatkan risiko karhutla di berbagai daerah.
Situasi cuaca tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas yang menghasilkan api di sekitar lahan kering dapat memicu kebakaran apabila masyarakat tidak melakukan pengawasan secara ketat.
Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat Tanjung Jabung Barat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Imbauan tersebut berlaku bagi masyarakat maupun pihak lain yang melakukan aktivitas di kawasan rawan kebakaran. Masyarakat juga perlu segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan karhutla.(*)










