BISNIS,JS – FTSE Russell menunda peninjauan indeks saham Indonesia untuk periode rebalancing Maret 2026. Keputusan tersebut membuat FTSE Russell belum menambah atau menghapus saham Indonesia. Lembaga indeks global itu juga menahan perubahan klasifikasi kapitalisasi besar, menengah, dan kecil.
Keputusan tersebut belum memicu gejolak di pasar saham domestik. Hingga pembukaan perdagangan Selasa (10/2/2026), investor masih mencatat pergerakan harga saham yang relatif stabil.
FTSE All-World Index Menampung 39 Saham Indonesia
Saat ini, FTSE All-World Index memuat 39 saham Indonesia. Sektor basic materials dan consumer staples mendominasi komposisi indeks. Masing-masing sektor menyumbang tujuh emiten.
Sektor telekomunikasi menyumbang enam saham. Sektor keuangan menghadirkan lima emiten. Sementara itu, sektor industri dan energi masing-masing mengisi empat saham.
Kapitalisasi Pasar Tembus US$115,19 Miliar
Hingga 30 Januari 2026, saham Indonesia di FTSE Index mencatat total kapitalisasi pasar US$115,19 miliar. Emiten-emiten tersebut menghasilkan dividend yield 5,31%.
Rata-rata kapitalisasi pasar setiap emiten mencapai US$2,94 miliar. Emiten terbesar membukukan kapitalisasi US$21,64 miliar, sedangkan emiten terkecil mencatat sekitar US$181 juta.
10 Saham Terbesar Menguasai 76% Market Cap
Sebanyak 10 saham berkapitalisasi terbesar menguasai 76,07% total market cap saham Indonesia di FTSE Index.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memimpin dengan kapitalisasi pasar US$21,64 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati posisi kedua dengan US$14,99 miliar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyusul dengan kapitalisasi US$12,45 miliar.
Bank Besar Masih Menjadi Penopang Utama
Setelah tiga bank besar, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mencatat kapitalisasi pasar US$9,34 miliar. PT Astra International Tbk. (ASII) membukukan market cap US$7,63 miliar.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mencatat kapitalisasi US$7,23 miliar. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menyusul dengan kapitalisasi US$5,46 miliar.
Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatat kapitalisasi US$3,22 miliar. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) membukukan US$2,98 miliar. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) melengkapi daftar dengan kapitalisasi US$2,66 miliar.
Harga Saham Bergerak Terbatas
Pada perdagangan pagi ini, pasar menunjukkan respons terbatas. Hingga pukul 09.16 WIB, saham BBCA bertahan di Rp7.500. BBRI turun tipis 0,27% ke Rp3.760. BMRI bertahan di Rp5.000.
Sebaliknya, TLKM naik 1,79% ke Rp3.410. ASII menguat 0,38% ke Rp6.675. AMMN naik 0,67% ke Rp7.475, sedangkan BRPT menguat 0,75% ke Rp2.010.
Di sisi lain, DSSA turun 0,91% ke Rp92.100. BBNI melemah 0,66% ke Rp4.490. GOTO turun 1,67% ke Rp59.
OJK dan BEI Dorong Reformasi Pasar Modal
Sebelumnya, FTSE Russell menyampaikan alasan penundaan rebalancing. Lembaga tersebut menilai reformasi pasar modal Indonesia masih berlangsung. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memimpin proses reformasi tersebut.
Reformasi tersebut mencakup penyesuaian aturan free float dan peningkatan transparansi data investor. Proses tersebut membutuhkan kepastian sebelum FTSE Russell melakukan peninjauan ulang.
FTSE Russell Menunggu Kepastian Free Float
FTSE Russell menilai reformasi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian dalam penentuan persentase free float. Kondisi tersebut juga berisiko mendorong peningkatan turnover pasar.
Atas dasar itu, FTSE Russell memilih menunda peninjauan indeks Indonesia yang semula dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. jambisun.id tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.(*)









