JAKARTA,JS- Peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi pada Juli 2026 semakin terbuka lebar. Tren penurunan harga minyak mentah dunia dalam beberapa pekan terakhir mulai memberikan sinyal positif terhadap kemungkinan turunnya harga Pertamax Series, Dexlite, hingga Pertamina Dex.
Penurunan harga minyak jenis Brent ke level sekitar US$80 per barel menjadi faktor utama yang mendorong perubahan tersebut. Kondisi pasar energi global juga mulai lebih stabil setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mereda.
Situasi ini membuat masyarakat mulai menantikan kabar baik terkait harga BBM non subsidi yang selama beberapa bulan terakhir masih berada di level tinggi.
Pertamina Buka Peluang Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menegaskan bahwa evaluasi harga BBM non subsidi terus dilakukan secara rutin mengikuti perkembangan pasar energi global.
Menurutnya, perusahaan secara aktif memantau berbagai indikator pembentuk harga minyak mentah yang menjadi dasar perhitungan harga jual eceran BBM di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa penyesuaian harga dapat terjadi apabila tren harga minyak dunia terus bergerak turun dalam periode tertentu.
Kondisi pasar yang lebih kondusif tentu memberi ruang bagi Pertamina untuk melakukan evaluasi harga yang lebih kompetitif bagi konsumen.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa harga Pertamax berpotensi mengalami penurunan pada Juli 2026 apabila harga minyak global tetap stabil.
Harga Minyak Dunia Turun Drastis Setelah Ketegangan AS-Iran Mereda
Pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai meredanya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah langsung mempengaruhi harga minyak dunia.
Sebelumnya, premi geopolitik sempat mendorong harga Brent melonjak hingga menyentuh US$117 per barel pada April 2026. Namun setelah muncul kerangka perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, pasar kembali tenang dan harga minyak terkoreksi tajam.
Saat ini Brent bergerak di kisaran US$78 hingga US$83 per barel. Angka tersebut menjadi level terendah sejak awal Maret 2026.
Pasar global kini memperkirakan pasokan minyak mentah kembali stabil sehingga tekanan harga mulai menurun.
Kondisi ini otomatis memberi dampak langsung terhadap formula harga BBM non subsidi di Indonesia.
Prediksi Harga Pertamax Bisa Turun hingga Rp12.000-an
Yayan memperkirakan harga Pertamax berpotensi turun secara bertahap hingga akhir tahun 2026.
Jika tren harga minyak dunia terus melandai, harga Pertamax yang sebelumnya berada di level Rp16.250 per liter diproyeksikan turun ke kisaran Rp12.100 hingga Rp13.500 per liter pada Desember 2026.
Prediksi tersebut muncul berdasarkan simulasi harga Indonesia Crude Price (ICP) dan perkembangan pasar energi global terbaru.
Masyarakat tentu berharap penyesuaian harga BBM dapat segera terjadi untuk mengurangi beban pengeluaran harian, terutama di tengah biaya hidup yang masih tinggi.
Harga BBM Subsidi Diperkirakan Tetap Aman
Di sisi lain, pemerintah diperkirakan belum akan mengubah harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar dalam waktu dekat.
Pengamat menilai kebijakan mempertahankan harga subsidi sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan daya beli masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan kondisi geopolitik global benar-benar stabil sebelum mengambil keputusan terkait subsidi energi.
Risiko kenaikan harga minyak dunia masih tetap ada apabila konflik internasional kembali memanas sewaktu-waktu.
Karena itu, pemerintah disarankan menunggu tren penurunan harga minyak dunia selama dua hingga tiga bulan ke depan sebelum melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap BBM subsidi.
Asumsi Harga Minyak APBN 2026 Dinilai Sudah Tidak Realistis
Fluktuasi harga minyak sepanjang 2026 juga memunculkan sorotan terhadap asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN.
Hingga akhir Mei 2026, realisasi ICP tercatat mencapai US$91,9 per barel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding asumsi pemerintah yang berada di level US$70 per barel.
Perbedaan yang cukup lebar ini membuat banyak pengamat meminta pemerintah segera menyesuaikan strategi anggaran energi nasional.
Menurut Yayan, pemerintah tidak lagi bisa hanya mengandalkan satu asumsi harga minyak dalam penyusunan APBN.
Ia menyarankan pemerintah menyiapkan beberapa skenario harga minyak, mulai dari ICP US$70, US$80, hingga US$90 per barel.
Dampak Penurunan Harga BBM terhadap Ekonomi Indonesia
Jika harga Pertamax dan BBM non subsidi benar-benar turun pada Juli 2026, dampaknya akan cukup besar terhadap perekonomian nasional.
Penurunan harga BBM biasanya ikut menekan biaya distribusi barang dan logistik. Efek lanjutannya dapat membantu mengendalikan inflasi serta menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Selain itu, sektor transportasi, industri, hingga pelaku usaha kecil juga berpotensi mendapat manfaat langsung dari biaya operasional yang lebih rendah.
Bagi masyarakat kelas menengah, turunnya harga BBM tentu menjadi kabar positif karena dapat mengurangi pengeluaran rutin bulanan.
Kondisi tersebut juga bisa meningkatkan daya beli masyarakat yang selama ini tertekan akibat kenaikan berbagai kebutuhan pokok.
Masyarakat Menunggu Keputusan Resmi Pertamina
Meski peluang penurunan harga BBM non subsidi semakin besar, masyarakat masih menunggu keputusan resmi dari Pertamina terkait harga terbaru pada awal Juli 2026.
Banyak pengamat memprediksi awal semester kedua 2026 menjadi momentum penting bagi penyesuaian harga energi di Indonesia.
Karena itu, perkembangan harga minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga BBM nasional.
Masyarakat kini berharap tren positif tersebut benar-benar berlanjut agar harga BBM dapat lebih terjangkau dan memberi dampak baik bagi ekonomi nasional.(*)









