MUAROJAMBI,JS – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Muaro Jambi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Muaro Jambi mencatat 71 kasus DBD dari Januari hingga Oktober 2023. Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti ini masih mengancam, terutama selama musim hujan yang sedang berlangsung.
Kasus DBD Terbanyak di Kecamatan Kumpeh Ulu
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Muaro Jambi, Ariany Widiastuty, menjelaskan bahwa Kecamatan Kumpeh Ulu menjadi wilayah dengan kasus terbanyak. Sementara itu, Kecamatan Kumpeh dan Taman Rajo tidak melaporkan kasus DBD sepanjang tahun ini.
“Kecamatan Kumpeh Ulu memang tercatat sebagai daerah dengan kasus terbanyak. Kami terus berupaya melakukan penanggulangan, termasuk melakukan fogging di wilayah yang terdeteksi ada kasus,” ujar Ariany.
Puncak Kasus DBD Terjadi pada Januari
Ariany mengungkapkan bahwa puncak kasus DBD terjadi pada bulan Januari. Sebanyak 14 kasus tercatat pada bulan tersebut, yang bertepatan dengan curah hujan tinggi dan genangan air. Genangan air inilah yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pembawa virus DBD.
“Januari merupakan periode rawan karena banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama pada musim hujan seperti sekarang ini,” tambahnya.
Kelompok Usia 15-44 Tahun Paling Rentan Terserang DBD
Ariany juga mencatat bahwa kelompok usia 15 hingga 44 tahun paling banyak terjangkit DBD. Kelompok usia produktif ini lebih rentan karena mereka sering beraktivitas di luar rumah, sehingga lebih mudah terpapar gigitan nyamuk pembawa virus.
Dari 71 kasus yang tercatat, 42 pasien adalah perempuan dan 29 lainnya laki-laki.
Upaya Penanggulangan DBD oleh Dinkes Muaro Jambi
Selain melakukan fogging di daerah yang terdeteksi kasus, petugas kesehatan juga gencar menggalakkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mengubur).Program ini bertujuan untuk mengurangi tempat berkembang biak nyamuk.
“Fogging memang penting untuk membunuh nyamuk dewasa, tetapi pencegahan yang paling efektif tetap melalui PSN. Kami juga mengingatkan warga untuk rutin memeriksa tempat penampungan air dan membersihkan lingkungan sekitar rumah,” kata Ariany.
Edukasi kepada Masyarakat tentang Gejala DBD
Selain itu, petugas kesehatan terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala awal DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, dan munculnya bintik merah di kulit. Ariany juga mengimbau warga untuk segera menghubungi puskesmas terdekat jika mereka merasakan gejala tersebut.
Waspada, Meskipun Beberapa Kecamatan Belum Lapor Kasus DBD
Menjaga kebersihan lingkungan dan memeriksa tempat penampungan air secara rutin menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran DBD lebih lanjut.
“Demi kesehatan bersama, kami mengimbau warga untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan berperan aktif dalam mencegah penyebaran DBD. Pencegahan jauh lebih efektif daripada penanganan setelah seseorang terjangkit,” tutup Ariany.(AN)









