BISNIS, JS— Sejumlah bank besar mencatat perbaikan laba sepanjang 2025. Namun, pertumbuhan laba masih terbatas. PT Bank Mandiri Tbk mencatat laba Rp 56,29 triliun. Angka ini naik hanya 0,92% dibanding tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba Mandiri tertahan karena pendapatan bunga bersih hanya naik 4,38% menjadi Rp 106,21 triliun. Beban bunga meningkat tajam, sebesar 17,63% menjadi Rp 58,20 triliun. Di sisi intermediasi, Mandiri berhasil meningkatkan penyaluran kredit sebesar 13,4% menjadi Rp 1.895 triliun.
Direktur Utama Mandiri, Riduan, menekankan tantangan global dan domestik masih membayangi. Volatilitas geopolitik dan kebijakan moneter yang belum sepenuhnya terasa di sektor riil menjadi perhatian. “Kami akan fokus menyalurkan kredit pada usaha produktif, khususnya UMKM, dan sektor bernilai tambah. Kami juga memanfaatkan sinergi anak perusahaan serta penguatan ekosistem bisnis,” jelas Riduan. Mandiri menargetkan sektor perdagangan, jasa, manufaktur, infrastruktur, dan energi sebagai prioritas pengembangan portofolio.
BCA Catat Pertumbuhan Stabil
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan anak usahanya membukukan laba Rp 57,5 triliun, naik 4,9% YoY. Pendapatan bunga bersih BCA meningkat 4,1% menjadi Rp 85,4 triliun. Pendapatan non-bunga melonjak 18,9% menjadi Rp 25,6 triliun. Kenaikan ini terutama berasal dari pendapatan komisi dan fee, yang naik 10,7% menjadi Rp 20,8 triliun. Hal ini menunjukkan kekuatan bisnis transaksi dan layanan perbankan.
BCA menyalurkan kredit Rp 993 triliun. Angka ini tumbuh 7,7% dibanding tahun sebelumnya. Direktur BCA, Vera Eve Lim, memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 mencapai 8%-10%. Meski NIM diperkirakan menurun menjadi 5,4%-5,6% akibat penurunan suku bunga acuan, Vera menegaskan BCA akan menjaga rasio kredit bermasalah di kisaran 1,8%-2%.
BNI Masih Tertekan, Kredit Tetap Tumbuh
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat penurunan laba 6,6% menjadi Rp 20,04 triliun. Pendapatan bunga bersih sedikit turun menjadi Rp 40,33 triliun. Beban pencadangan meningkat menjadi Rp 9,7 triliun.
Meski demikian, BNI tetap meningkatkan penyaluran kredit sebesar 15,9% menjadi Rp 899,53 triliun. Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengatakan bank terus memperkuat teknologi, organisasi, dan produktivitas. “Kami fokus pada penguatan fundamental, efisiensi, dan ekspansi kredit ke sektor produktif,” ujar Putrama.
Pergerakan Saham dan Prospek Sektor
Pada penutupan 5 Februari 2026, saham BBCA stabil di Rp 7.800 per lembar. BMRI naik 1% menjadi Rp 5.050, sementara BBNI turun 1,3% menjadi Rp 4.570 per saham. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyebut penurunan ini sebagai fenomena sell on news. Investor mengambil keuntungan setelah laporan keuangan dirilis. Penurunan harga terbatas karena masih ada akumulasi beli dari investor domestik.
Secara fundamental, prospek sektor perbankan tetap solid. Penurunan suku bunga berpotensi menurunkan biaya dana, meningkatkan margin bunga bersih, dan mendorong pertumbuhan kredit. Dari sisi valuasi, BBNI relatif murah, sedangkan BBCA tetap premium dan defensif. KISI Sekuritas menetapkan target harga BBRI Rp 5.800, BMRI Rp 7.600, BBNI Rp 6.200, dan BBCA Rp 11.200 per saham.(*)









