BISNIS,JS – PT Krakatau Steel (KRAS) memastikan proyek hilirisasi besi dan baja yang digagas bersama Danantara Indonesia akan mulai tahap groundbreaking tahun ini. Keputusan ini membuat rencana kerja sama sebelumnya dengan investor asal China harus disesuaikan.
Danantara Ambil Peran Utama, China Hanya Mitra Teknologi
Direktur Komersial, Pengembangan Usaha, dan Portofolio KRAS, Hernowo, menjelaskan bahwa sebelumnya perusahaan mempertimbangkan investor China karena keterbatasan finansial. Namun, kini situasinya berbeda.
“Dengan Danantara masuk, proyek bisa berjalan tanpa perlu investor lain. Kemitraan masih memungkinkan, tapi kontrol tetap berada di Indonesia,” kata Hernowo saat ditemui di Ayana Midplaza Jakarta, Kamis (5/2/2026). Ia menambahkan, China masih bisa berkontribusi sebagai mitra teknologi, tetapi tidak memegang kendali mayoritas.
Latar Belakang Kerja Sama Sebelumnya dengan China
Sebelumnya, KRAS dan Delong Steel Group, produsen baja asal China peringkat ke-11 dunia, menjajaki pembangunan pabrik baja berkapasitas 3 juta ton per tahun di Kawasan Industri Cilegon, Banten, di atas lahan seluas 500 hektare. Tujuannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mentransfer teknologi melalui konsep green steel.
“China tetap bisa berperan di belakang layar atau dalam hal teknologi, bisa juga Korea, tapi mereka tidak akan mengendalikan proyek,” jelas Hernowo.
Fokus Proyek: Hilirisasi Bahan Tambang Nasional
Proyek ini menjadi bagian dari agenda hilirisasi KRAS, yang mengubah bahan tambang seperti iron ore dan iron sand menjadi baja karbon.
Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia telah menjadwalkan groundbreaking pabrik baja terpadu pada Maret 2026, dengan kapasitas produksi sekitar 3 juta ton per tahun.
Mengurangi Dominasi Baja Impor
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menekankan bahwa pengembangan kapasitas di sektor hulu menjadi prioritas. Tujuannya untuk mengurangi dominasi baja impor yang selama ini menguasai pasar domestik.
“Kapasitas produksinya mencapai 3 juta ton per tahun. Langkah ini menguatkan kemandirian industri baja nasional,” ujar Dony dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (4/2/2026).
Proyek Jadi Investasi Prioritas
Dengan dukungan Danantara, KRAS menegaskan proyek hilirisasi ini menjadi investasi prioritas. Kontrol tetap di tangan Indonesia, sambil membuka peluang kerja sama teknologi dengan mitra asing. Proyek ini juga menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok baja nasional.(*)









