JAMBI,JS- Program Makan Bergizi (MBG) terus menunjukkan dampak nyata bagi perekonomian daerah. Hingga Januari 2026, pelaksanaan MBG di Provinsi Jambi menyerap anggaran sekitar Rp177 miliar. Program ini langsung menggerakkan sektor pertanian, peternakan, dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Prof. Dr. Ir. Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa BGN menyalurkan dana sekitar Rp19,5 triliun secara nasional sepanjang Januari 2026. BGN menyalurkan dana tersebut langsung ke virtual account Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di setiap daerah.
Belanja MBG Topang Produk Pertanian Lokal
Prof. Dadan menjelaskan bahwa struktur belanja MBG sangat mendukung sektor riil. Program ini menggunakan sekitar 70 persen anggaran untuk membeli bahan baku. Dari jumlah tersebut, produk pertanian menyumbang sekitar 92 persen.
“Dengan komposisi seperti ini, MBG mendorong ekonomi daerah secara langsung,” ujar Prof. Dadan saat Konsolidasi Percepatan Penyelenggaraan Program MBG di Kantor Wali Kota Jambi, Rabu (28/1/2026).
Pemda Pegang Peran Kunci Rantai Pasok
Karena itu, Prof. Dadan menegaskan peran strategis pemerintah daerah. Pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota perlu memastikan seluruh kebutuhan MBG berasal dari produksi lokal. Jika daerah menjaga rantai pasok, dana MBG akan terus berputar di tengah masyarakat.
Satu SPPG Butuh Puluhan Hektare Sawah
Sebagai gambaran, satu SPPG membutuhkan sekitar 5 ton beras setiap bulan. Kebutuhan ini setara dengan 10 ton gabah kering giling dari dua hektare sawah. Dalam satu tahun, satu SPPG membutuhkan hasil panen dari sekitar 24 hektare lahan padi.
Konsumsi Telur dan Jagung Sangat Besar
Selain beras, satu SPPG juga membutuhkan protein hewani dalam jumlah besar. Dalam satu kali makan, satu SPPG menghabiskan sekitar 3.000 butir telur. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, peternak perlu menyediakan sekitar 4.000 ayam petelur.
Sementara itu, peternak ayam membutuhkan pakan jagung dari sekitar 1,5 hektare panen setiap bulan. Dalam satu tahun, kebutuhan tersebut setara dengan 12 hektare luas tanam dan 8 hektare luas panen jagung.
Kebutuhan Buah Capai Ribuan Pohon Pisang
Program MBG juga menyerap produksi buah-buahan dalam jumlah besar. Sekali penyajian menu pisang, satu SPPG membutuhkan sekitar 3.000 buah atau setara hasil dari 15 pohon pisang. Jika dapur MBG menyajikan pisang dua kali setiap pekan, satu SPPG membutuhkan sekitar 1.440 pohon pisang per tahun, atau sekitar 1,5 hektare kebun pisang.
“Kota Jambi mengoperasikan 100 SPPG, maka daerah membutuhkan sekitar 150 hektare kebun pisang. Jika lahan terbatas, daerah dapat bekerja sama dengan wilayah sekitar,” jelas Prof. Dadan.
Perputaran Dana Capai Triliunan Rupiah
Dengan skala kebutuhan tersebut, Prof. Dadan memperkirakan perputaran dana dari 100 SPPG di Kota Jambi mencapai Rp1 triliun per tahun. Pada tingkat Provinsi Jambi, perputaran dana bahkan berpotensi menembus Rp4 triliun per tahun.
MBG Serap Tenaga Kerja dan Tekan Kemiskinan
Selain dampak ekonomi, MBG juga menghadirkan dampak sosial yang kuat. Satu SPPG mempekerjakan sekitar 42 orang. Mayoritas pekerja berasal dari kalangan ibu rumah tangga berusia di atas 40 tahun. Mereka memperoleh penghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp2,4 juta per bulan.
Di sejumlah daerah, MBG berhasil menekan kemiskinan ekstrem dan meningkatkan ketertiban sosial. Banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini bekerja di SPPG.
BGN Terapkan Sertifikasi dan Akreditasi
Saat ini, sekitar 22.000 SPPG beroperasi di seluruh Indonesia. Mitra membangun seluruh fasilitas tersebut tanpa menggunakan APBN untuk pembangunan fisik. Pada 2026, BGN akan menerapkan sertifikasi dan akreditasi SPPG dengan klasifikasi A, B, dan C untuk meningkatkan kualitas layanan.
Prof. Dadan menegaskan bahwa MBG berdiri sebagai program prioritas nasional. Pada 2026, BGN mengelola anggaran sebesar Rp298 triliun dan dana cadangan Rp67 triliun, dengan total Rp335 triliun. Program ini berjalan tanpa mengganggu anggaran pendidikan.
“Program MBG harus kita jalankan bersama. Jika pusat dan daerah menjaga sinergi, program ini akan semakin memperkuat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jambi,” pungkasnya.(*)









