Meta Patenkan AI “Akun Abadi”, Netizen: Ini Terlalu Menyeramkan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meta Ajukan Paten AI Simulasi ‘Hidupkan’ akun pengguna yang telah meninggal dunia.

Meta Ajukan Paten AI Simulasi ‘Hidupkan’ akun pengguna yang telah meninggal dunia.

TEKNOLOGI,JS- Raksasa teknologi Meta kembali memicu perdebatan global. Kali ini, sorotan tertuju pada paten sistem kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan akun media sosial tetap aktif meski pemiliknya telah meninggal dunia atau lama tidak berinteraksi.

Paten tersebut Meta ajukan pada 2023 dan resmi mendapat persetujuan pada akhir 2025. Meski perusahaan menegaskan belum berniat menerapkannya, dokumen ini langsung menyulut kritik luas di ruang publik digital.

Baca Juga :  Huawei MetaPad 12 X, Tablet Premium untuk Kerja dan Hiburan

Dari Arsip Digital ke “Kehidupan Kedua” Akun Media Sosial

Dalam dokumen paten, Meta menjelaskan penggunaan large language model (LLM) untuk mempelajari jejak digital pengguna secara menyeluruh. Sistem ini menganalisis unggahan, komentar, pesan pribadi, hingga pola interaksi sosial.

Berdasarkan data tersebut, AI meniru gaya bahasa, kebiasaan komunikasi, dan preferensi pengguna. Dengan kemampuan itu, sistem dapat membalas pesan, menanggapi komentar, bahkan membangun percakapan secara mandiri dengan pengguna lain.

Akibatnya, interaksi di akun tersebut tetap terlihat hidup dan autentik, seolah pemiliknya masih aktif.

Bukan Sekadar Teks: Suara dan Wajah Ikut Disimulasikan

Lebih jauh, paten ini juga mencantumkan kemampuan simulasi suara, video, hingga panggilan telepon berbasis teknologi deepfake. Artinya, avatar digital seseorang dapat berbicara, tampil, dan berinteraksi menyerupai sosok aslinya.

Jika diterapkan, teknologi ini memungkinkan “kehadiran digital” seseorang berlanjut bahkan setelah kematian. Di titik inilah banyak pihak mulai mempertanyakan batas etika yang seharusnya dijaga.

Baca Juga :  Lupa Password Facebook? Begini Trik Rahasia Melihat Sandi yang Tersimpan di HP!

Tidak Hanya untuk Pengguna yang Wafat

Menariknya, Meta tidak membatasi penggunaan sistem ini hanya untuk kasus kematian. Perusahaan juga menggambarkan skenario di mana pengguna—seperti influencer atau kreator konten—berhenti sementara dari aktivitas daring.

Dalam kondisi tersebut, AI dapat menjaga konsistensi konten dan mempertahankan interaksi dengan audiens. Dengan kata lain, akun tetap aktif tanpa keterlibatan langsung pemiliknya.

Namun, justru skenario ini menimbulkan kekhawatiran baru. Publik menilai teknologi tersebut berpotensi memanipulasi persepsi, terutama ketika audiens tidak menyadari bahwa mereka berinteraksi dengan AI, bukan manusia.

Klarifikasi Meta: Masih Sebatas Paten

Menanggapi polemik, Meta menegaskan bahwa paten tersebut belum mengarah pada produk atau fitur yang siap diluncurkan. Dalam praktik industri teknologi, perusahaan sering mengajukan paten untuk melindungi kemungkinan inovasi di masa depan.

Baca Juga :  Instagram Uji Fitur Baru: Pengguna Bisa Keluar Daftar Close Friends

Meski begitu, keberadaan paten ini tetap memunculkan pertanyaan mendasar:

  • Siapa yang berhak atas identitas digital setelah seseorang meninggal?
  • Bagaimana hukum melindungi hak kepribadian pascakematian?
  • Apa dampak psikologis bagi keluarga atau teman yang berinteraksi dengan simulasi digital orang terdekat?

Reddit Bereaksi Keras: “Dystopian” dan Tidak Bermoral

Di komunitas Reddit, reaksi publik tergolong keras. Banyak pengguna menyebut konsep ini “dystopian,” “tidak bermoral,” dan “melampaui batas kemanusiaan.”

Sebagian membandingkannya dengan serial Black Mirror, khususnya episode “Be Right Back,” yang menggambarkan hubungan emosional dengan AI tiruan orang yang telah meninggal.

Kini, apa yang dulu terasa seperti fiksi kelam justru tampak semakin dekat dengan realitas teknologi.

Keabadian Digital: Solusi Memorial atau Ancaman Baru?

Konsep digital immortality sebenarnya bukan hal baru. Namun kemajuan AI generatif membuat gagasan ini semakin realistis. Di satu sisi, teknologi ini dapat berfungsi sebagai memorial interaktif atau arsip keluarga.

Di sisi lain, risiko penyalahgunaan identitas, manipulasi emosi, dan trauma psikologis tidak bisa diabaikan. Tanpa regulasi yang jelas, batas antara penghormatan dan eksploitasi menjadi semakin kabur.

Media Sosial dan Tantangan Netizen Indonesia

Kontroversi ini juga relevan bagi Indonesia, negara dengan jumlah pengguna media sosial yang sangat besar. Sayangnya, besarnya populasi digital belum selalu sejalan dengan kualitas komunikasi dan kedalaman berpikir.

Di tengah arus konten instan, banyak orang terjebak menjadi konsumen pasif. Algoritma menentukan arah perhatian, sementara kemampuan berpikir kritis perlahan tumpul.

Baca Juga :  Internet Rakyat Rp 100 Ribu Masuk Tahap Distribusi dan Aktivasi

Scrolling terasa ringan. Namun membaca buku serius atau berdiskusi mendalam justru terasa berat.

Perspektif Gita Wirjawan: Naik Kelas Secara Intelektual

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Gita Wirjawan, yang kerap menekankan pentingnya membangun manusia multidimensi.

Menurutnya, peningkatan kualitas berpikir menuntut disiplin nyata:

  • Membatasi screen time secara sadar
  • Membiasakan membaca buku secara rutin
  • Melatih kemampuan berpikir dan berbicara secara konsisten

Langkah-langkah tersebut bukan soal produktivitas semata, melainkan upaya membangun struktur berpikir yang matang.(*)

Berita Terkait

Cara Aman Menggunakan BRImo agar Rekening Tidak Dibobol, Nasabah Wajib Tahu Trik Anti Penipuan Digital 2026
Teror Telepon Pinjol Makin Brutal, Ini Cara Ampuh Blokir Debt Collector Tanpa Ganti Nomor
Terbaru, 5 HP Gaming dengan Haptic Feedback Premium Terbaik 2026
Cara Bayar Shopee Pakai OVO 2026, Praktis Tanpa Ribet! Begini Langkah Lengkap dan Biaya Terbarunya
Cara Menjadi YouTuber Pemula Sukses dari Nol, Rahasia Channel Cepat Monetisasi dan Tembus Google Discover
Transfer Uang Pakai BRImo Kini Lebih Murah, Begini Caranya
Microsoft Bongkar Kelemahan AI: GPT, Claude, dan Gemini Ternyata Masih Sering Rusak Saat Kerja Panjang
OJK Bongkar Modus Baru Penipuan Pinjol 2026, Korban Diminta Bayar di Awal untuk Pelunasan Utang
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:05 WIB

Cara Aman Menggunakan BRImo agar Rekening Tidak Dibobol, Nasabah Wajib Tahu Trik Anti Penipuan Digital 2026

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:03 WIB

Teror Telepon Pinjol Makin Brutal, Ini Cara Ampuh Blokir Debt Collector Tanpa Ganti Nomor

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:02 WIB

Terbaru, 5 HP Gaming dengan Haptic Feedback Premium Terbaik 2026

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:02 WIB

Cara Bayar Shopee Pakai OVO 2026, Praktis Tanpa Ribet! Begini Langkah Lengkap dan Biaya Terbarunya

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:04 WIB

Cara Menjadi YouTuber Pemula Sukses dari Nol, Rahasia Channel Cepat Monetisasi dan Tembus Google Discover

Berita Terbaru

5 HP Gaming dengan Haptic Feedback Premium

Teknologi

Terbaru, 5 HP Gaming dengan Haptic Feedback Premium Terbaik 2026

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:02 WIB