KERINCI,JS – Warga di sekitar Danau Kerinci mendadak terkejut. Permukaan danau yang biasanya penuh kini menyusut drastis. Bahkan, di sejumlah titik, dasar danau terlihat jelas—pemandangan yang jarang terjadi sebelumnya.
Kondisi tersebut memicu keresahan warga. Selain mengganggu aktivitas harian, surutnya air danau mulai mengancam pasokan air bersih dan sektor pertanian di wilayah sekitar.
Di sisi lain, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI Jambi mengungkap adanya hubungan langsung antara penyusutan air dan aktivitas uji coba operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik PT Kerinci Merangin Hidro (KMH).
Kepala BWS Sumatera VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra, menyebut perusahaan mulai mengalirkan air Danau Kerinci ke turbin PLTA sejak 1 hingga 16 Januari 2026. Dari tiga pintu air yang tersedia, perusahaan membuka satu pintu dengan ketinggian sekitar 20 sentimeter.
“Pengaliran ini masih tahap pengujian awal. PT KMH berkomitmen menjadikan seluruh dampak sebagai bahan evaluasi sebelum masuk tahap operasional penuh,” ujar Joni, Selasa (27/1/2026).
Debit Air Terus Menurun Selama 16 Hari
Namun demikian, meski hanya satu pintu air yang dibuka, data BWS menunjukkan volume air Danau Kerinci terus menurun selama 16 hari uji coba berlangsung. Penurunan tersebut terjadi secara konsisten dan cukup signifikan.
Akibatnya, warga mulai merasakan dampak langsung. Beberapa daerah kesulitan mendapatkan air bersih, sementara petani mengkhawatirkan ketersediaan air untuk mengairi sawah mereka.
Warga Mengeluh, Perusahaan Siapkan Solusi Sementara
Merespons keluhan masyarakat, PT KMH berjanji mendata seluruh wilayah terdampak. Selain itu, perusahaan juga menyiapkan tandon-tandon air sebagai langkah antisipasi jika kekurangan air semakin meluas.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan dampak sosial dalam jangka pendek, terutama bagi warga yang sepenuhnya bergantung pada Danau Kerinci sebagai sumber air utama.
Izin Uji Coba Langsung dari Pemerintah Pusat
Sementara itu, terkait legalitas pengaliran air, Joni menegaskan izin uji coba berasal langsung dari pemerintah pusat melalui sistem perizinan online nasional. BWS Sumatera VI Jambi baru terlibat setelah uji coba berjalan.
“Kewenangan ada di pusat. Kami mengikuti agenda pembahasan yang ditetapkan pemerintah pusat setelah proses uji coba dimulai,” jelasnya.
Cuaca Kering Memperparah Kondisi Danau
Selain aktivitas PLTA, faktor cuaca turut mempercepat penyusutan air danau. Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Kerinci hampir tidak diguyur hujan. Suhu udara juga tercatat cukup tinggi.
Kondisi tersebut mengurangi pasokan air alami ke Danau Kerinci secara signifikan. Alhasil, muka air danau turun lebih cepat dari biasanya.
“Cuaca panas dan minim hujan sangat memengaruhi penurunan muka air danau dalam waktu singkat,” kata Joni.
Energi Terbarukan vs Keberlanjutan Lingkungan
Pada akhirnya, fenomena ini kembali memunculkan perdebatan publik. Di satu sisi, PLTA menjadi solusi energi bersih. Namun di sisi lain, pengelolaan debit air harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan setempat.
Danau Kerinci tidak hanya berfungsi sebagai sumber air. Danau ini juga menopang ekonomi warga, mulai dari pertanian, perikanan, hingga pariwisata. Jika penyusutan terus berlanjut tanpa pengelolaan yang sensitif, dampak sosial dan ekonomi jangka panjang sulit dihindari.(AN)









