KERINCI,JS – Pada tahun 2025, Kabupaten Kerinci mencatatkan peningkatan produktivitas kentang sebesar 8,76 persen. Peningkatan ini berkontribusi pada kenaikan produksi dan pasokan kentang yang semakin melimpah, memenuhi permintaan pasar regional.
Peningkatan Produktivitas Kentang yang Signifikan
Menurut data dari Statistik Hortikultura, produktivitas kentang Kerinci meningkat dari 16,7 ton per hektare pada tahun 2024 menjadi 18,2 ton per hektare pada tahun 2025.
Kerinci, Sentra Utama Produksi Kentang di Jambi
Radium Halis, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kerinci, menegaskan bahwa Kerinci tetap menjadi sentra utama produksi kentang di Provinsi Jambi. Sentra produksi tersebar di beberapa wilayah, seperti Kayu Aro, Kayu Aro Barat, Gunung Tujuh, dan Gunung Kerinci.
“Pada 2025, produksi kentang Kerinci mencapai 131.387 ton dengan luas panen 7.212 hektare. Kami terus mendorong perluasan akses pasar antar daerah untuk menjaga harga jual tetap menguntungkan bagi petani,” ungkap Radium Halis
Kolaborasi Pemerintah dan Sektor Swasta untuk Pengembangan Produksi
Pemerintah Daerah Kerinci juga aktif memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat serta pelaku usaha kentang nasional. Salah satu langkah utama adalah pengembangan benih kentang melalui Balai Benih Induk Kentang Kayu Aro.
Produksi Kentang Nasional Cukupi Kebutuhan Pasar
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menambahkan bahwa produksi kentang nasional pada 2025 mencatatkan total 1.235.939 ton dari luas panen 67.758 hektare. Produksi kentang nasional didominasi oleh varietas granola, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Selain itu, Kementerian Pertanian juga mendorong hilirisasi dan diversifikasi produk olahan kentang.
Hilirisasi: Kunci Peningkatan Kesejahteraan Petani
Menteri Pertanian dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci dalam transformasi sektor pertanian nasional. “Hilirisasi meningkatkan nilai tambah pada produk pertanian dan berkontribusi pada kesejahteraan petani. Ini adalah langkah penting untuk memperkuat sektor pertanian Indonesia ke depan,” ujar Menteri Pertanian.
Peningkatan ini berpotensi membawa dampak positif bagi ekonomi lokal dan kesejahteraan petani, seiring dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang.(TIM)









