SUNGAIPENUH,JS– Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat Kota Sungai Penuh. Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan mencatat 8.372 kasus hipertensi.
Faktor Gaya Hidup Picu Lonjakan Kasus
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh, Yefrizal, menegaskan bahwa lonjakan kasus hipertensi tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, faktor keturunan memang berperan, namun pola hidup masyarakat memberikan pengaruh yang jauh lebih besar.
“Pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, kebiasaan merokok, serta kurang istirahat menjadi pemicu utama meningkatnya tekanan darah,” ujar Yefrizal, Rabu (21/1/2026).
Hipertensi Kerap Datang Tanpa Gejala
Selain itu, Yefrizal mengingatkan bahwa hipertensi sering dijuluki silent killer. Penyakit ini jarang menimbulkan keluhan pada tahap awal, tetapi dapat memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke apabila masyarakat mengabaikannya.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menunggu hingga muncul gejala berat sebelum memeriksakan diri.
Faringitis dan Gastritis Ikut Mendominasi
Sementara itu, data Dinas Kesehatan juga menunjukkan bahwa faringitis atau radang tenggorokan menempati posisi kedua dengan 6.478 kasus sepanjang 2025. Penyakit ini banyak menyerang masyarakat akibat infeksi dan perubahan cuaca.
Di sisi lain, gastritis atau peradangan dinding lambung berada di peringkat ketiga dengan 4.630 kasus. Pola makan tidak teratur dan konsumsi makanan pedas berlebihan menjadi faktor utama pemicunya.
Dinas Kesehatan Ajak Warga Lakukan Pencegahan Dini
Sebagai langkah pencegahan, Yefrizal mendorong seluruh warga Kota Sungai Penuh untuk rutin memeriksakan kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Ia juga menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
“Masyarakat perlu menjaga pola makan seimbang, mengurangi asupan garam, rutin berolahraga, dan mengelola stres dengan baik,” jelasnya.
Pencegahan Lebih Efektif daripada Pengobatan
Pada akhirnya, Yefrizal menegaskan bahwa upaya pencegahan memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan pengobatan. Dengan kesadaran menjaga kesehatan sejak dini, masyarakat dapat menekan risiko hipertensi dan meningkatkan kualitas hidup.
“Jika masyarakat disiplin menjalani gaya hidup sehat dan rutin memeriksa kesehatan, risiko hipertensi bisa dikendalikan sejak awal,” tutupnya.(AN)









