BISNIS,JS – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Pemprov menggandeng Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) untuk menarik investasi dan memperkuat bauran energi bersih di daerah.
Gubernur Sumbar Mahyeldi menegaskan Sumbar memiliki potensi EBT yang besar. Namun, daerah belum memanfaatkan potensi itu secara maksimal. Karena itu, ia menilai investasi menjadi kunci percepatan transisi energi.
“Kami terus memantau capaian EBT. Dalam lima tahun ke depan, kami menargetkan tambahan sekitar 27,7 persen dari capaian saat ini yang sudah berada di angka 30,59 persen,” ujar Mahyeldi, Selasa (10/2/2026).
Kejar Target Lima Tahun
Saat ini, bauran energi terbarukan Sumbar mencapai 30,59 persen. Meski begitu, Pemprov tidak berhenti pada angka tersebut. Pemerintah menargetkan peningkatan bertahap dan terukur dalam lima tahun mendatang.
Mahyeldi mengajak seluruh pemangku kepentingan mempercepat langkah. Ia ingin Sumbar memperkuat posisi EBT dalam sistem energi daerah.
Bidik 58,29 Persen pada 2030
Pemprov memasukkan agenda transisi energi ke dalam RPJMD 2025–2029. Pemerintah mengaitkan agenda ini dengan misi Lumbung Pangan Nasional dan Ekonomi Berkelanjutan.
Melalui rencana itu, Pemprov menargetkan porsi EBT dalam bauran energi primer mencapai 58,29 persen pada 2030. Pemerintah mengarahkan kebijakan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi hijau.
Optimalkan Potensi yang Masih Terbuka
Sumbar menyimpan potensi energi air yang baru tergarap sekitar 33 persen. Daerah ini juga memiliki potensi panas bumi sebesar 1.651 MW, bioenergi 923,1 MW, energi angin 428 MW, serta energi surya setara 5.898 MW.
Angka tersebut menunjukkan peluang besar. Namun, pemerintah perlu mendorong investasi dan mempercepat realisasi proyek agar potensi itu berubah menjadi sumber energi nyata.
“Potensinya besar. Namun kami harus menjawab tantangan investasi bersama,” kata Mahyeldi.
Benahi Perizinan dan Koordinasi
Pemprov menghadapi sejumlah hambatan dalam menarik investor. Pemerintah daerah perlu mempercepat proses perizinan dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
Selain itu, pemerintah harus mengelola isu sosial dan lingkungan agar tidak memicu penolakan masyarakat. Mahyeldi meminta METI membantu menjembatani kepentingan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
“Saya berharap METI menjadi mitra strategis dalam pengembangan energi terbarukan di Sumbar,” tegasnya.
Dukung Komitmen Nasional
Indonesia menargetkan penurunan emisi hingga 43,20 persen pada 2030 dengan dukungan internasional. Pemerintah pusat juga menargetkan pencapaian Net Zero Emission pada 2060.
Sejalan dengan target tersebut, Pemprov Sumbar memperkuat komitmen terhadap energi bersih. Pemerintah menjadikan pengembangan EBT sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Mahyeldi menilai pengembangan EBT tidak hanya menyangkut pasokan energi. Pemerintah ingin sektor ini membuka lapangan kerja, menarik investasi baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Energi terbarukan harus memberi manfaat nyata dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
METI Siap Bergerak Bersama
Ketua Umum METI Pusat Zulfan Zahar menyebut Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari surya, air, angin, panas bumi, hingga bioenergi.
Ia mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat memperkuat kolaborasi. Menurutnya, semua pihak harus bergerak bersama agar target transisi energi tercapai.
“Transisi energi membutuhkan kerja sama semua pihak agar target nasional tercapai,” kata Zulfan.
Ia memastikan METI siap mendukung Pemprov Sumbar dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan yang berkelanjutan dan berkeadilan.(*)









