KERINCI,JS– Penyusutan air Danau Kerinci dalam beberapa pekan terakhir memicu keresahan masyarakat. Kondisi ini mengancam keseimbangan lingkungan sekaligus menghantam ekonomi warga yang menggantungkan hidup dari danau.
Seiring turunnya muka air, nelayan, pencari kerang, dan pelaku wisata kehilangan ruang usaha. Aktivitas ekonomi berbasis perairan melambat, bahkan berhenti di sejumlah kawasan.
Warga Soroti Uji Coba PLTA
Di tengah situasi tersebut, warga menyoroti uji coba operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci. Pengelola PLTA baru mengaktifkan satu turbin, namun warga sudah merasakan dampaknya secara luas.
Karena itu, masyarakat menilai persoalan ini bukan sekadar masalah teknis. Penyusutan air danau langsung memengaruhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Penghasilan Nelayan Anjlok
Nelayan tradisional menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan. Salmi (47), nelayan asal Sanggaran Agung, mengaku penghasilannya turun tajam sejak air danau menyusut.
Sebelum kondisi ini muncul, Salmi mampu menangkap 8 hingga 10 kilogram ikan per hari. Hasil tersebut mencukupi kebutuhan keluarga.
Kini, jumlah tangkapan terus menurun.
“Kalau dulu saya bisa dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu sehari. Sekarang paling Rp30 ribu, bahkan sering pulang tanpa hasil,” ujarnya.
Jalur Ikan Berubah, Nelayan Kesulitan Bersandar
Surutnya air mengubah jalur pergerakan ikan di Danau Kerinci. Perubahan ini membuat perangkap ikan kehilangan fungsi.
Selain itu, perahu nelayan tidak lagi bisa bersandar di tepian danau. Nelayan harus menarik perahu lebih jauh ke tengah, sehingga menambah beban kerja dan biaya operasional.
Pencari Kerang Kehilangan Mata Pencaharian
Tekanan ekonomi juga menimpa pencari kerang. Dewi (39), warga yang bertahun-tahun mencari kerang di Danau Kerinci, kini kehilangan sumber penghasilan harian.
Dalam kondisi normal, Dewi mampu mengumpulkan 15 hingga 20 kilogram kerang per hari. Saat ini, lumpur danau mengering dan mengeras, sehingga kerang sulit ditemukan.
“Dulu saya bisa bawa pulang sekitar Rp100 ribu sehari. Sekarang saya pulang dengan tangan kosong,” katanya.
Ahan Tidak Lagi Berfungsi
Warga yang mengandalkan alat tangkap tradisional berupa ahan juga menghadapi kondisi berat. Alat ini biasanya bekerja di perairan dangkal untuk menjebak ikan.
Namun, penurunan ketinggian air membuat ahan tidak lagi berfungsi.
“Kalau air surut seperti ini, ahan mati total. Ikan tidak mau masuk,” kata Yudi, warga setempat.
Yudi menilai kondisi surut kali ini jauh lebih parah dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.
Sektor Wisata Ikut Terpuruk
Dampak penyusutan air Danau Kerinci juga menjalar ke sektor pariwisata. Pelaku wisata menghentikan operasional sejumlah perahu karena air dangkal menyulitkan akses ke dermaga.
Akibatnya, jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis. Pemandangan danau yang surut turut mengurangi minat pengunjung.
“Biasanya akhir pekan ramai. Sekarang sepi karena perahu tidak bisa jalan,” ujar salah seorang pelaku wisata.
Warga Desak Tindakan Nyata Pemerintah
Masyarakat mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengambil langkah nyata. Warga meminta pemerintah menjalankan pembangunan energi secara seimbang dengan perlindungan ekonomi masyarakat.
Mereka juga meminta transparansi, kajian lingkungan yang menyeluruh, serta langkah mitigasi cepat agar dampak tidak terus meluas.
“Kalau energi nasional maju, kami juga ingin kehidupan kami tetap berjalan,” ujar Herman, nelayan setempat.
Selama ini, Danau Kerinci menjadi sumber penghidupan ribuan warga. Ketika air danau menyusut, masyarakat sekitar ikut menanggung ancaman terhadap masa depan ekonomi mereka.(AN)









