Tekanan IHSG Meningkat, Investor Beralih ke Saham Dividen Tinggi

- Jurnalis

Minggu, 22 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pergerakan pasar saham

Ilustrasi pergerakan pasar saham

BISNIS,JS- Volatilitas pasar saham dalam sebulan terakhir memaksa investor mengubah strategi. Tekanan yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat pelaku pasar lebih selektif dalam menempatkan dana, terutama di tengah ketidakpastian arah pasar.

Per Jumat (20/2/2026), IHSG ditutup di level 8.271. Angka tersebut menunjukkan koreksi sekitar 8,20% dalam sebulan terakhir dan pelemahan 4,34% sejak awal tahun (year to date/YTD). Situasi ini mendorong investor mulai mencari instrumen defensif yang mampu menjaga stabilitas portofolio.

Sebagai respons, saham berdividen tinggi kembali menjadi incaran karena dinilai mampu memberikan arus kas rutin di tengah fluktuasi harga saham.

Baca Juga :  Bank Mega Siap Bagi Saham Bonus Jumbo, Investor Perlu Tahu Jadwalnya

Strategi Dividen Dinilai Tetap Efektif di 2026

Di tengah tekanan pasar, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai strategi berburu saham berdividen masih relevan untuk tahun 2026. Menurutnya, investor sebaiknya memprioritaskan emiten dengan dividend yield di atas 5%.

Selain itu, Nafan menilai sektor perbankan dan komoditas masih mendominasi daftar saham dengan imbal hasil dividen menarik. Kedua sektor tersebut juga memiliki fundamental yang relatif stabil di tengah gejolak pasar.

Bank Himbara Jadi Andalan Investor

Dari sektor perbankan, Nafan menilai saham bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) lebih atraktif dibandingkan bank lainnya. Salah satu emiten yang menonjol ialah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Bank Mandiri mengindikasikan tetap membagikan dividen dari laba tahun buku 2025 dengan dividend payout ratio (DPR) sekitar 78%, sejalan dengan kebijakan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, emiten ini membukukan laba bersih Rp 56,3 triliun atau tumbuh 0,93% secara tahunan (year on year/yoy).

Dengan asumsi DPR tidak berubah, total dividen yang berpotensi dibagikan Bank Mandiri diperkirakan mencapai Rp 43,9 triliun. Kondisi ini memperkuat daya tarik saham BMRI di mata investor dividen.

Baca Juga :  Freeport Sepakati Nasib Grasberg, Indonesia Dapat Saham

Emiten Komoditas Masih Undervalued

Selain perbankan, Nafan melihat peluang menarik pada saham berbasis komoditas. Ia menilai sejumlah emiten komoditas saat ini masih berada pada valuasi rendah atau undervalued, sehingga berpeluang memberikan kombinasi imbal hasil dividen dan potensi kenaikan harga saham.

Dari sektor ini, perhatian investor tertuju pada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

PTBA mencatat DPR sebesar 75,04% dengan dividend yield sekitar 12,69%. Sementara itu, PGAS membukukan DPR 80,57% dengan dividend yield mencapai 8,31%. Tingginya imbal hasil tersebut membuat kedua saham ini kembali masuk radar investor jangka menengah.

Prospek Sektor 2026: Perbankan dan Energi Masih Menarik

Pandangan serupa datang dari Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer. Ia menilai sektor perbankan masih prospektif pada 2026 seiring pertumbuhan kredit, kualitas aset yang terjaga, serta arah suku bunga yang lebih kondusif.

Di sisi lain, sektor energi sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas dan kebijakan pemerintah. Sementara itu, sektor konsumer tetap bertumpu pada daya beli masyarakat. Karena itu, Miftahul menekankan pentingnya seleksi saham berbasis fundamental, bukan sekadar mengikuti pergerakan jangka pendek.

Indeks HDIV20 Jadi Referensi Awal

Di tengah fluktuasi pasar, investor juga mulai melirik konstituen indeks High Dividend 20 (HDIV20) sebagai acuan awal dalam memilih saham berdividen. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai indeks ini tidak hanya menyaring emiten berdasarkan besaran dividend yield.

Menurut Wafi, HDIV20 juga mempertimbangkan likuiditas dan kapitalisasi pasar, sehingga mampu menghadirkan saham-saham dengan fundamental lebih kuat. Mayoritas konstituennya berasal dari bank besar dan emiten infrastruktur, khususnya subsektor telekomunikasi, yang kinerjanya relatif stabil.

Baca Juga :  Waspada Saham Murah, Investor Perlu Cermat Membaca Peluang

Selain itu, sentimen positif muncul dari normalisasi suku bunga domestik dan stimulus fiskal pemerintah. Meski begitu, Wafi tetap mengingatkan potensi tekanan dari normalisasi harga komoditas global.

Waktu Masuk Pasar Dinilai Masih Terbuka

Wafi menilai investor belum terlambat masuk ke pasar saham. Pasalnya, mayoritas emiten masih akan membagikan dividen pada periode akhir Maret hingga Mei. Dengan kondisi tersebut, investor masih memiliki peluang untuk mengamankan capital gain sekaligus dividend yield.

Namun, ia menekankan pentingnya strategi masuk bertahap agar investor dapat mengelola risiko dengan lebih baik.

Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Dari sisi rekomendasi, Nafan menyarankan beli saham PGAS dengan target harga Rp 2.630 per saham. Ia juga merekomendasikan strategi accumulative buy untuk BMRI dengan target harga Rp 6.200 per saham, serta add untuk PTBA dengan target harga Rp 2.980 per saham.

Sementara itu, Wafi merekomendasikan beli saham BMRI, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PTBA. Target harga masing-masing saham berada di level Rp 6.300, Rp 4.200, Rp 7.800, dan Rp 3.400 per saham.

Baca Juga :  Dividen Bank Mandiri 2025 Diproyeksi Naik, Investor Wajib Tahu!

Adapun Miftahul merekomendasikan strategi akumulasi untuk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan BMRI, dengan target harga masing-masing Rp 4.500 dan Rp 5.950 per saham.

Dengan kondisi pasar yang masih bergejolak, analis sepakat investor perlu disiplin memilih saham berbasis fundamental kuat serta menerapkan strategi akumulasi bertahap untuk menjaga kinerja portofolio sepanjang 2026.

Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)

Berita Terkait

Transaksi Rp28 di Livin’ by Mandiri Bisa Dapat Paket Makanan, Ini Cara dan Jadwal Program Berbagi Jelang HUT ke-28
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 September 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar 24K hingga 12K
SR025 BNI 2026: Investasi Mulai Rp1 Juta, Kupon 6,9%, Ada Cashback Rp15 Juta
El Niño dan MBG Dorong Harga Pangan? Ini Risiko Inflasi Indonesia hingga Akhir 2026
KUR BSI 2026 Rp100 Juta: Cek Cicilan 1-5 Tahun, Syarat dan Cara Pengajuan Terbaru
Harga BBM Pertamina Naik 1 September 2026, Pertamax Turbo Tembus Rp19.600, Ini Daftar Terbarunya
Harga Emas Perhiasan 1 September 2026 Naik atau Turun? Cek Daftarnya Disini
Update Harga Emas Perhiasan Sabtu 29 Agustus 2026: 24K Turun, Cek Harga Semua Karat
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 15:01 WIB

Transaksi Rp28 di Livin’ by Mandiri Bisa Dapat Paket Makanan, Ini Cara dan Jadwal Program Berbagi Jelang HUT ke-28

Kamis, 3 September 2026 - 08:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 September 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar 24K hingga 12K

Rabu, 2 September 2026 - 09:01 WIB

SR025 BNI 2026: Investasi Mulai Rp1 Juta, Kupon 6,9%, Ada Cashback Rp15 Juta

Rabu, 2 September 2026 - 08:01 WIB

El Niño dan MBG Dorong Harga Pangan? Ini Risiko Inflasi Indonesia hingga Akhir 2026

Selasa, 1 September 2026 - 17:00 WIB

KUR BSI 2026 Rp100 Juta: Cek Cicilan 1-5 Tahun, Syarat dan Cara Pengajuan Terbaru

Berita Terbaru