Sebelum Kirim Motor Listrik Antar Pulau, Pastikan Baterai Hanya 30 Persen, Ini Alasannya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi pengiriman kendaraan listrik

ilustrasi pengiriman kendaraan listrik

OTOMOTIF,JS- Meningkatnya penggunaan motor listrik di Indonesia membuat kebutuhan pengiriman kendaraan listrik antar kota maupun antar pulau terus bertambah. Banyak konsumen kini membeli motor listrik secara online atau memindahkan kendaraan mereka ke daerah lain untuk keperluan pekerjaan, pendidikan, maupun relokasi tempat tinggal.

Namun, masih banyak pemilik kendaraan yang belum memahami bahwa pengiriman motor listrik memiliki standar keselamatan berbeda dibandingkan motor konvensional. Salah satu aturan paling penting berkaitan dengan kondisi baterai sebelum kendaraan dikirim.

Para pelaku industri kendaraan listrik mengingatkan bahwa baterai motor listrik tidak boleh berada dalam kondisi penuh saat proses pengiriman berlangsung.

Mengapa Baterai Motor Listrik Tidak Boleh Penuh Saat Dikirim?

Owner DyVolt EV Shop, Adi Siswanto, menjelaskan bahwa baterai kendaraan listrik sebaiknya berada pada kapasitas sekitar 30 persen sebelum memasuki proses distribusi jarak jauh.

Menurutnya, prosedur tersebut menjadi bagian penting dari mitigasi risiko selama pengangkutan menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari truk, kereta api, hingga kapal laut.

Baterai lithium pada kendaraan listrik menyimpan energi dalam jumlah besar. Saat terjadi kondisi ekstrem seperti benturan keras, tekanan tinggi, kerusakan fisik, atau peningkatan suhu yang tidak terkendali, energi yang tersimpan dapat memicu gangguan serius.

Karena itu, menurunkan kapasitas daya sebelum pengiriman menjadi langkah preventif yang dinilai paling efektif untuk meningkatkan keamanan.

“Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama perjalanan, baterai dengan kapasitas lebih rendah akan memiliki tingkat risiko yang lebih kecil dibandingkan baterai yang terisi penuh,” jelas Adi.

Risiko Kebakaran dan Ledakan Jadi Perhatian Utama

Meski kasus kebakaran baterai kendaraan listrik selama pengiriman tergolong jarang terjadi, industri logistik tetap menerapkan prinsip kehati-hatian yang ketat.

Baterai lithium-ion memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tangki bahan bakar kendaraan konvensional. Ketika mengalami thermal runaway atau peningkatan suhu secara ekstrem, reaksi berantai dapat memicu kebakaran yang sulit dipadamkan.

Kondisi tersebut menjadi alasan utama mengapa perusahaan logistik, operator kapal, hingga penyedia jasa ekspedisi mulai menerapkan standar pengiriman khusus untuk kendaraan listrik.

Dengan mengurangi kapasitas baterai hingga sekitar 30 persen, jumlah energi yang tersimpan menjadi lebih rendah sehingga potensi risiko dapat ditekan secara signifikan.

Baca Juga :  Banyak yang Keliru, Pengendara Motor Listrik Harus Pakai SIM Apa? Ini Penjelasan Lengkap Polri

Praktik ini bahkan tidak hanya berlaku untuk kendaraan utuh. Banyak bengkel dan distributor kendaraan listrik juga menerapkan prosedur serupa ketika mengirim baterai pengganti kepada pelanggan di berbagai daerah.

Standar Keselamatan Baterai Kini Semakin Ketat

Perkembangan industri electric vehicle (EV) membuat aspek keselamatan menjadi perhatian utama seluruh pemangku kepentingan.

Seiring meningkatnya penjualan motor listrik nasional, jumlah pengiriman kendaraan antar wilayah ikut mengalami pertumbuhan. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai regulasi dan standar keamanan baru.

Para pelaku usaha kini tidak hanya fokus pada kecepatan distribusi, tetapi juga memastikan setiap unit kendaraan tiba dengan aman di tangan konsumen.

Baterai menjadi komponen yang mendapatkan pengawasan paling ketat karena merupakan pusat penyimpanan energi kendaraan listrik.

Pengaturan kapasitas daya sebelum pengiriman menjadi salah satu langkah sederhana yang mampu mengurangi berbagai potensi bahaya selama perjalanan.

ASDP Rekomendasikan Baterai Berada di Kisaran 30-50 Persen

Anjuran untuk tidak mengisi baterai secara penuh ternyata sejalan dengan pedoman keselamatan yang diterapkan operator penyeberangan nasional.

Pihak ASDP merekomendasikan agar pengguna kendaraan listrik menjaga tingkat pengisian baterai atau State of Charge (SoC) pada kisaran 30 hingga 50 persen ketika kendaraan akan melakukan perjalanan menggunakan kapal feri.

Kebijakan tersebut mengacu pada prinsip keselamatan transportasi yang bertujuan meminimalkan risiko selama pelayaran.

Dengan kapasitas baterai yang lebih rendah, kemungkinan terjadinya gangguan akibat panas berlebih atau kondisi tak terduga dapat ditekan semaksimal mungkin.

Pedoman tersebut semakin relevan mengingat jumlah kendaraan listrik yang menggunakan jalur penyeberangan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kendaraan Listrik Ditempatkan di Area Khusus Saat Naik Kapal

Selain mengatur kapasitas baterai, operator transportasi juga menerapkan sistem penempatan khusus untuk kendaraan listrik.

Pada kapal penyeberangan, motor maupun mobil listrik biasanya ditempatkan di designated storage area atau area khusus yang memudahkan proses pemantauan.

Lokasi tersebut umumnya berada pada area terbuka atau dek atas kapal yang memiliki sirkulasi udara lebih baik dibandingkan ruang tertutup.

Ventilasi yang optimal membantu menjaga suhu lingkungan tetap stabil sehingga risiko panas berlebih dapat diminimalkan.

Selain itu, petugas juga lebih mudah melakukan pengawasan secara langsung apabila terjadi kondisi yang memerlukan penanganan cepat.

Langkah ini menunjukkan bahwa keamanan kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada teknologi baterai, tetapi juga pada prosedur operasional selama proses transportasi berlangsung.

Tips Aman Sebelum Mengirim Motor Listrik

Bagi pemilik kendaraan listrik yang berencana mengirim motor ke luar kota atau luar pulau, terdapat beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan.

1. Turunkan Kapasitas Baterai

Pastikan daya baterai berada pada kisaran 30 hingga 50 persen sebelum kendaraan diserahkan kepada jasa pengiriman.

2. Periksa Kondisi Baterai

Pastikan tidak terdapat kerusakan fisik, retakan, deformasi, atau tanda-tanda overheating pada baterai.

3. Gunakan Jasa Pengiriman Berpengalaman

Pilih perusahaan logistik yang telah memiliki pengalaman menangani kendaraan listrik dan memahami prosedur keselamatan baterai lithium.

4. Matikan Sistem Kendaraan

Pastikan kendaraan dalam kondisi mati dan tidak terhubung dengan perangkat pengisian daya saat proses pengiriman berlangsung.

5. Simpan Dokumen Kendaraan dengan Baik

Lengkapi seluruh dokumen yang dibutuhkan untuk mempermudah proses pengiriman dan penerimaan kendaraan di lokasi tujuan.

Baca Juga :  Fenomena Baru di Indonesia, Motor Listrik Bekas Melimpah dan Dijual Murah

Industri Kendaraan Listrik Memasuki Era Keselamatan Baru

Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk logistik dan transportasi.

Jika sebelumnya perhatian hanya tertuju pada performa, jarak tempuh, dan efisiensi energi, kini aspek keselamatan distribusi mulai menjadi fokus utama.

Pengiriman motor listrik tidak lagi sekadar memindahkan kendaraan dari satu lokasi ke lokasi lain. Proses tersebut membutuhkan standar keamanan yang lebih detail, terutama terkait penanganan baterai lithium.

Karena itu, pemilik kendaraan listrik perlu memahami bahwa menjaga kapasitas baterai pada level aman bukan sekadar rekomendasi teknis, melainkan bagian penting dari sistem keselamatan modern.

Dengan mengikuti prosedur yang tepat, risiko kebakaran, kerusakan baterai, hingga penolakan oleh jasa pengiriman dapat dihindari. Langkah sederhana seperti menurunkan kapasitas baterai sebelum pengiriman terbukti menjadi salah satu cara paling efektif untuk menjaga keamanan kendaraan listrik selama perjalanan jarak jauh.(*)

Berita Terkait

Mobil Listrik Meledak di 2026! China Kuasai Pasar Global, Harga EV Makin Murah dan Ancam Mobil Bensin
SIM Mati 1 Hari Langsung Hangus, Begini Aturan Baru Korlantas
Honda Super Cub C125 2026: Motor Bebek Premium Bergaya Klasik yang Bikin Kolektor Tergoda, Simak Harga dan Keunggulannya
Isuzu Traga Kini Bisa Disulap Jadi Bus Penumpang, Peluang Baru Bisnis Travel dan Shuttle
Motor Listrik vs Motor Bensin 2026: Selisih Biaya Bisa Hemat Rp5,5 Juta per Tahun, Mana Lebih Untung?
Suzuki UY125 ABS Resmi Hadir, Skutik Murah dengan Fitur Keselamatan Premium
Cara Membersihkan Filter Udara Aftermarket yang Benar, Performa Mobil Tetap Optimal
BBM B50 Meluncur 1 Juli 2026, Ini Daftar Mobil Diesel yang Bisa Pakai
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:03 WIB

Sebelum Kirim Motor Listrik Antar Pulau, Pastikan Baterai Hanya 30 Persen, Ini Alasannya

Selasa, 23 Juni 2026 - 17:01 WIB

Mobil Listrik Meledak di 2026! China Kuasai Pasar Global, Harga EV Makin Murah dan Ancam Mobil Bensin

Senin, 22 Juni 2026 - 21:02 WIB

SIM Mati 1 Hari Langsung Hangus, Begini Aturan Baru Korlantas

Minggu, 21 Juni 2026 - 21:02 WIB

Honda Super Cub C125 2026: Motor Bebek Premium Bergaya Klasik yang Bikin Kolektor Tergoda, Simak Harga dan Keunggulannya

Minggu, 21 Juni 2026 - 17:02 WIB

Isuzu Traga Kini Bisa Disulap Jadi Bus Penumpang, Peluang Baru Bisnis Travel dan Shuttle

Berita Terbaru