Ironis! Permukiman Warga Hanya 2,5 Km dari Jaringan PLN, Bertahun-tahun Masih Pakai Genset

- Jurnalis

Sabtu, 19 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi warga Dusun Suka Jaya yang masih memanfaatkan genset untuk penerangan

Ilustrasi warga Dusun Suka Jaya yang masih memanfaatkan genset untuk penerangan

TANJABTIM,JS- Akses listrik masih menjadi persoalan bagi warga Dusun Suka Jaya. Bertahun-tahun, masyarakat di kawasan tersebut belum menikmati jaringan listrik PLN untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi itu terasa semakin berat karena permukiman warga sebenarnya tidak berada terlalu jauh dari jaringan listrik yang sudah tersedia. Menurut warga, jarak kawasan permukiman dengan jaringan listrik terdekat hanya sekitar 2,5 kilometer.

Jarak tersebut membuat masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera memperluas jaringan hingga masuk ke permukiman mereka. Apalagi, kebutuhan listrik terus meningkat seiring perkembangan teknologi, pendidikan, komunikasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun, sampai sekarang warga masih mengandalkan genset sebagai sumber listrik utama. Penggunaan genset pun tidak berlangsung sepanjang hari karena masyarakat harus memperhitungkan biaya bahan bakar.

Warga Sudah Mengajukan Permohonan Sejak 2020

Kepala Dusun Suka Jaya, Samsiah, S.Pd., mengatakan masyarakat sudah beberapa kali menyampaikan usulan perluasan jaringan listrik.

Warga pertama kali mengajukan permohonan pada 2020. Karena belum memperoleh realisasi pembangunan, masyarakat kembali menyampaikan usulan pada 2025.

Upaya tersebut kemudian berlanjut pada Februari 2026. Pemerintah dusun dan warga kembali menyampaikan kebutuhan elektrifikasi kepada pihak terkait.

“Pada Februari 2026 kami kembali menyampaikan usulan. Pihak PLN juga sudah pernah turun melakukan survei ke lokasi,” kata Samsiah.

Menurut Samsiah, kedatangan petugas untuk melakukan survei sempat memberikan harapan kepada masyarakat. Warga berharap survei tersebut menjadi tahap awal menuju pembangunan jaringan listrik.

Akan tetapi, sampai sekarang pembangunan jaringan belum berjalan.

Kondisi itu membuat masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama. Mereka tetap harus mencari sumber energi sendiri agar rumah-rumah warga memperoleh penerangan pada malam hari.

Genset Hanya Menyala Tiga Jam

Untuk memenuhi kebutuhan penerangan, warga menggunakan genset secara bergantian sesuai kemampuan masing-masing.

Masyarakat biasanya menyalakan genset mulai sekitar pukul 18.00 WIB. Mesin kemudian mereka matikan sekitar pukul 21.00 WIB.

Warga memilih pola tersebut untuk menghemat bahan bakar. Harga bahan bakar yang tinggi membuat masyarakat tidak mampu menjalankan genset sepanjang malam.

Selain persoalan harga, warga juga mengeluhkan ketersediaan bahan bakar. Dalam kondisi tertentu, masyarakat kesulitan mendapatkan bahan bakar sehingga mereka harus mengurangi penggunaan genset.

“Biasanya mulai jam 6 sore dan mati sekitar jam 9 malam. Bahan bakarnya sekarang sulit didapat, selain mahal juga langka,” ujar warga bernama Samsul.

Keterbatasan waktu operasional genset tentu memengaruhi aktivitas masyarakat. Setelah mesin berhenti, warga harus kembali mengandalkan sumber penerangan sederhana.

Situasi tersebut menjadi semakin sulit ketika warga membutuhkan listrik untuk kegiatan yang berlangsung lebih lama pada malam hari.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina Hari Ini Resmi Berlaku, Cek Daftar Lengkap per Liter di Seluruh Indonesia

Anak Sekolah Belajar dengan Senter dan Lilin

Persoalan akses listrik juga berdampak langsung terhadap kegiatan belajar anak-anak.

Pada saat genset tidak dapat menyala atau bahan bakar tidak tersedia, anak-anak harus mencari alternatif penerangan. Sebagian warga menggunakan senter, sedangkan sebagian lainnya masih memanfaatkan lilin.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas belajar membutuhkan penerangan yang cukup. Anak-anak juga semakin membutuhkan perangkat elektronik untuk mendukung kegiatan pendidikan.

Perkembangan sistem pembelajaran saat ini membuat kebutuhan listrik tidak lagi sebatas untuk menyalakan lampu. Anak sekolah membutuhkan energi untuk mengisi daya telepon seluler, mengakses informasi, mengerjakan tugas, hingga berkomunikasi dengan guru dan teman.

Karena itu, akses listrik berkaitan langsung dengan kesempatan masyarakat memperoleh layanan pendidikan dan informasi.

Bagi warga Suka Jaya, listrik bukan sekadar fasilitas tambahan. Mereka melihat listrik sebagai bagian penting dari kebutuhan dasar masyarakat.

Kebutuhan Listrik Makin Penting di Era Digital

Warga lainnya, Sirajuddin, mengatakan kebutuhan listrik di wilayah tersebut terus berkembang.

Menurut dia, masyarakat sekarang hidup dalam lingkungan yang semakin bergantung pada teknologi digital. Hampir semua aktivitas komunikasi membutuhkan telepon seluler, sedangkan perangkat tersebut membutuhkan listrik untuk mengisi baterai.

“Di era digital seperti sekarang, anak sekolah membutuhkan ponsel dan energi listrik. Tetapi untuk mendapatkan penerangan saja kami masih kesulitan,” keluhnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan energy access tidak hanya berkaitan dengan penerangan rumah.

Akses energi juga memiliki hubungan dengan pendidikan, komunikasi, produktivitas masyarakat, dan perkembangan ekonomi lokal.

Ketika masyarakat memiliki akses listrik yang stabil, mereka dapat menggunakan berbagai perangkat untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, ketika warga hanya mengandalkan genset dengan waktu terbatas, banyak kegiatan harus menyesuaikan dengan jadwal penggunaan mesin.

Jarak Jaringan Listrik Menjadi Sorotan

Jarak sekitar 2,5 kilometer dari jaringan listrik menjadi salah satu hal yang paling banyak diperbincangkan warga.

Masyarakat mempertanyakan kapan jaringan tersebut dapat diperluas hingga mencapai permukiman mereka. Mereka berharap hasil survei yang pernah dilakukan PLN dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah pembangunan berikutnya.

Warga memahami bahwa pembangunan jaringan listrik membutuhkan perencanaan, kajian teknis, anggaran, dan berbagai proses administrasi.

Namun, mereka berharap kondisi lapangan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas pembangunan.

Bagi masyarakat yang sudah bertahun-tahun menunggu, tambahan jaringan sepanjang beberapa kilometer memiliki arti besar. Infrastruktur tersebut dapat mengubah aktivitas masyarakat secara signifikan.

Selain penerangan rumah, listrik dapat mendukung kegiatan ekonomi kecil, pendidikan, komunikasi, dan berbagai kebutuhan rumah tangga.

Elektrifikasi Pedesaan dan Kebutuhan Infrastruktur

Persoalan yang dialami warga Suka Jaya juga menggambarkan pentingnya rural electrification atau elektrifikasi pedesaan.

Baca Juga :  PLN Wajib Bayar Ganti Rugi? Fakta Blackout Sumatera 2026 yang Bikin Publik Geram

Pembangunan listrik di wilayah permukiman bukan hanya berkaitan dengan penyediaan kabel dan tiang listrik. Infrastruktur energi dapat menjadi bagian dari pembangunan kawasan secara lebih luas.

Ketika listrik tersedia secara stabil, masyarakat mempunyai peluang lebih besar untuk mengembangkan berbagai aktivitas produktif.

Pelaku usaha kecil, misalnya, dapat menggunakan peralatan elektronik untuk mendukung kegiatan mereka. Warga juga dapat mengakses internet dengan lebih mudah melalui perangkat yang membutuhkan pengisian daya.

Sementara itu, anak-anak dapat belajar pada malam hari tanpa harus menunggu genset menyala.

Karena itu, warga berharap pemerintah dapat mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan perencanaan pembangunan infrastruktur energi.

Warga Minta Pemerintah dan PLN Perhatikan Kondisi Lapangan

Samsiah berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat, PLN, serta pihak lain yang mempunyai aktivitas di sekitar kawasan tersebut dapat memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Warga juga berharap komunikasi antara masyarakat dan pihak terkait terus berjalan sehingga mereka memperoleh informasi mengenai perkembangan usulan jaringan listrik.

“Harapan besar kami, mudah-mudahan pihak PLN dan pemerintah bisa masuk ke sini dan melihat masih ada warga yang belum mendapatkan penerangan,” kata Samsiah.

Menurut warga, kedatangan pihak terkait ke lapangan juga penting agar kondisi sebenarnya dapat terlihat secara langsung.

Masyarakat ingin menunjukkan bahwa kebutuhan listrik bukan sekadar permintaan fasilitas. Mereka membutuhkan akses energi untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, mendukung pendidikan anak, serta mengikuti perkembangan teknologi.

Harapan terhadap Pembangunan Jaringan Listrik

Warga Suka Jaya berharap usulan yang mereka sampaikan sejak 2020 tidak berhenti pada tahap pengajuan dan survei.

Masyarakat menginginkan adanya tindak lanjut yang jelas mengenai rencana pembangunan jaringan listrik menuju permukiman mereka.

Jika pembangunan dapat terealisasi, warga berharap jaringan tersebut mampu memberikan akses listrik yang lebih stabil dan terjangkau.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi mengandalkan genset selama beberapa jam setiap malam. Anak-anak juga dapat belajar dengan penerangan yang lebih baik tanpa harus bergantung pada senter atau lilin.

Pada akhirnya, kebutuhan listrik bagi warga Suka Jaya berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Electricity access, konektivitas digital, pendidikan, dan pembangunan pedesaan saling berhubungan.

Bagi warga yang selama bertahun-tahun menunggu, hadirnya jaringan listrik akan menjadi perubahan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat kini berharap pemerintah dan PLN dapat menindaklanjuti hasil survei serta melihat langsung kondisi permukiman warga. Mereka ingin mendapatkan kepastian mengenai langkah berikutnya agar kebutuhan listrik yang sudah lama mereka perjuangkan tidak kembali tertunda.(TIM)

Berita Terkait

Festival Kopi Kerinci 2026 Jadi Momentum Angkat Kopi Lokal, Alfin Dorong Nilai Tambah dan Kesejahteraan Petani
Kemarau Panjang Melanda Sarolangun, 7 Desa di Pauh Darurat Air Bersih
Karhutla Bukit Telasih Merangin Meluas, Bupati M Syukur Minta Warga Hentikan Bakar Lahan
Sejumlah Sekolah Dipimpin PLT, BKPSDM Sungai Penuh: Sudah Sesuai Aturan
Safari Jumat Wako Alfin: Serahkan Bantuan Masjid Rp5 Juta hingga Himbauan Kabut Asap
Kerinci Mau Tambah OPD Saat Anggaran Diperketat, Publik Soroti Beban APBD
Pendaftaran Lelang 5 Jabatan Kepala OPD Sungai Penuh Ditutup Hari Ini, Ini Pesan Kepala BKPSDM
Bupati Muaro Jambi Larang Lahan Bekas Karhutla Ditanami Selama 2 Tahun, Pelanggar Terancam Pidana
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 17:01 WIB

Festival Kopi Kerinci 2026 Jadi Momentum Angkat Kopi Lokal, Alfin Dorong Nilai Tambah dan Kesejahteraan Petani

Sabtu, 19 September 2026 - 13:01 WIB

Kemarau Panjang Melanda Sarolangun, 7 Desa di Pauh Darurat Air Bersih

Sabtu, 19 September 2026 - 10:01 WIB

Karhutla Bukit Telasih Merangin Meluas, Bupati M Syukur Minta Warga Hentikan Bakar Lahan

Jumat, 18 September 2026 - 23:28 WIB

Sejumlah Sekolah Dipimpin PLT, BKPSDM Sungai Penuh: Sudah Sesuai Aturan

Jumat, 18 September 2026 - 15:31 WIB

Safari Jumat Wako Alfin: Serahkan Bantuan Masjid Rp5 Juta hingga Himbauan Kabut Asap

Berita Terbaru