Gen Z Mulai Tinggalkan Telegram dan WA, Ternyata Karena Aplikasi Ini

- Jurnalis

Rabu, 23 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TEKNOLOGI,JS- Generasi Z mulai menunjukkan ketertarikan pada cara berkomunikasi digital yang tidak selalu mengutamakan kecepatan. Di tengah kebiasaan menggunakan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, hingga iMessage, sebagian anak muda justru mencoba pengalaman komunikasi yang membuat mereka harus menunggu.

Tren tersebut menghadirkan pendekatan yang cukup unik. Alih-alih mengirim pesan dalam hitungan detik, sejumlah aplikasi menghadirkan konsep seperti merpati pos dalam bentuk digital.

Pengguna mengirim pesan melalui seekor merpati virtual. Burung tersebut kemudian melakukan perjalanan menuju lokasi penerima sebelum pesan akhirnya tiba.

Konsep itu terlihat sederhana. Namun, justru unsur menunggu menjadi daya tarik utama.
Laporan Yahoo Tech menyoroti kemunculan aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost yang membawa konsep komunikasi digital tersebut kepada pengguna.

Keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda dari aplikasi perpesanan konvensional. Pengguna tidak hanya menekan tombol kirim lalu langsung melihat pesan terkirim.
Sebaliknya, mereka dapat menyaksikan perjalanan pesan menuju penerima.

Ketika Pesan Digital Tidak Lagi Serba Instan

Selama bertahun-tahun, perkembangan teknologi komunikasi terus memangkas waktu pengiriman pesan. Dulu orang harus menunggu surat berhari-hari. Kemudian muncul SMS, email, dan aplikasi pesan instan yang mampu mengirim informasi hampir seketika.
Kini, sebagian pengguna justru tertarik membalik pengalaman tersebut.

Aplikasi dengan konsep merpati virtual menghadirkan kembali unsur penantian dalam komunikasi modern. Pengguna mengetahui bahwa pesan mereka sedang dalam perjalanan dan tidak bisa langsung sampai dalam setiap kondisi.

Perbedaan tersebut membuat aktivitas sederhana seperti berkirim pesan terasa lebih seperti sebuah pengalaman.

Pengguna juga tidak sekadar menunggu layar menampilkan status terkirim. Mereka dapat mengikuti perjalanan merpati melalui peta interaktif.

Dengan begitu, proses menunggu menjadi bagian dari komunikasi.

Fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membuat masyarakat menginginkan sesuatu yang semakin cepat.

Baca Juga :  WhatsApp Penuh Chat Mengganggu? Gunakan 3 Fitur Ini Tanpa Blokir Kontak

Sebagian pengguna justru mencari pengalaman digital yang lebih lambat, santai, dan tidak terlalu menuntut respons seketika.

Cara Kerja Aplikasi Merpati Virtual

Konsep aplikasi seperti Carrier Pidge cukup mudah dipahami. Pengguna terlebih dahulu menulis pesan kepada orang yang dituju. Setelah itu, sistem mengirim pesan tersebut melalui karakter merpati virtual. Merpati kemudian melakukan perjalanan menuju lokasi penerima.

Kecepatan perjalanan merpati dalam aplikasi tersebut rata-rata mencapai sekitar 177 kilometer per jam. Karena sistem memperhitungkan jarak, waktu pengiriman bisa berbeda antara satu pesan dan pesan lainnya.

Untuk penerima yang berada relatif dekat, pesan dapat mencapai tujuan hanya dalam beberapa detik.

Namun, pengguna yang mengirim pesan ke lokasi yang jauh, termasuk lintas benua, harus menunggu lebih lama.

Dalam situasi tertentu, waktu perjalanan bahkan dapat mencapai beberapa jam.
Mekanisme tersebut sengaja menciptakan batasan yang tidak biasa dalam komunikasi digital.

Biasanya, pengguna mengharapkan pesan langsung masuk ke perangkat penerima. Pada aplikasi ini, pengguna justru mengetahui bahwa pesan masih melakukan perjalanan.

Ada Kemungkinan Merpati Digital Tersesat
Pengalaman menggunakan aplikasi tersebut semakin berbeda karena pengembang tidak menjamin setiap perjalanan berakhir sempurna.

Sistem memberikan peluang sekitar 0,2 persen bagi merpati virtual untuk tersesat.
Jika hal itu terjadi, pesan tidak mencapai penerima.

Kemungkinan tersebut memang sangat kecil. Namun, keberadaannya menambah unsur kejutan dalam pengalaman berkirim pesan.
Pengguna tidak lagi mendapatkan kepastian mutlak seperti pada layanan pesan instan pada umumnya.

Dalam konteks komunikasi digital, konsep tersebut tentu terdengar tidak praktis.
Namun, justru ketidakpraktisan itu menjadi bagian dari daya tariknya.

Pengguna dapat merasakan sensasi menunggu tanpa harus kembali menggunakan surat fisik.

Carrier Pidge Dibuat Hanya dalam Waktu Tiga Minggu

Salah satu aplikasi yang ikut menarik perhatian adalah Carrier Pidge.

Pengembangnya, Noah Iarrobino, membuat aplikasi tersebut dalam waktu sekitar tiga minggu.

Menariknya, sang pengembang sendiri menggambarkan aplikasinya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan benar-benar tidak praktis.

Pernyataan tersebut justru memperlihatkan konsep utama Carrier Pidge.

Aplikasi itu tidak berusaha menggantikan WhatsApp atau aplikasi pesan instan lainnya dari sisi kecepatan. Sebaliknya, Carrier Pidge menawarkan sesuatu yang berbeda.

Pengguna mendapatkan pengalaman berkirim pesan yang mengutamakan proses, bukan sekadar hasil.

Dalam dunia digital yang terus bergerak cepat, pendekatan seperti ini justru dapat memberikan sensasi baru.

Baca Juga :  Nonton Film Gratis di Telegram Tanpa Download! Best Free Movie Streaming Hack 2026

Peta Interaktif Membuat Pengguna Mau Menunggu

Salah satu elemen menarik dari aplikasi tersebut terletak pada tampilan perjalanan pesan.

Setelah pengguna mengirim pesan, mereka dapat melihat peta interaktif yang memperlihatkan perjalanan merpati menuju lokasi penerima. Fitur itu membuat waktu tunggu terasa lebih nyata.

Bayangkan seseorang mengirim pesan dari Indonesia kepada teman di negara lain. Alih-alih langsung melihat pesan masuk, pengguna dapat menyaksikan perjalanan digital tersebut menuju lokasi tujuan.

Dengan cara ini, aplikasi mengubah aktivitas menunggu menjadi bagian dari hiburan.
Pengguna tidak hanya memikirkan apakah penerima sudah membaca pesan. Mereka juga dapat mengikuti perjalanan pesan tersebut.

Konsep seperti ini menunjukkan bagaimana sebuah keterbatasan dapat berubah menjadi fitur ketika pengembang mengemasnya dengan pengalaman pengguna yang menarik.

Roost Kumpulkan Sekitar 300.000 Pengguna

Fenomena tersebut tidak hanya muncul melalui Carrier Pidge. Aplikasi bernama Roost juga ikut mendapatkan perhatian.

Menurut laporan yang dikutip dalam informasi mengenai tren tersebut, Roost berhasil mengumpulkan sekitar 300.000 pengguna dalam beberapa minggu setelah peluncuran.
Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa konsep komunikasi yang lebih lambat memiliki daya tarik tersendiri.

Namun, angka pengguna tersebut tidak otomatis berarti masyarakat secara umum ingin meninggalkan aplikasi pesan instan. Sebaliknya, fenomena itu lebih tepat dilihat sebagai munculnya alternatif pengalaman komunikasi.

Sebagian orang tetap membutuhkan WhatsApp, Telegram, iMessage, dan berbagai layanan instan lainnya untuk pekerjaan, keluarga, bisnis, maupun kebutuhan sehari-hari.
Aplikasi merpati virtual hadir untuk kebutuhan yang berbeda.

Pengguna dapat memilihnya ketika mereka ingin mengirim pesan dengan cara yang lebih santai dan tidak terburu-buru.

Mengapa Gen Z Tertarik pada Komunikasi yang Lebih Lambat?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa generasi yang tumbuh bersama internet justru tertarik pada komunikasi yang membutuhkan waktu.

Salah satu penjelasannya berkaitan dengan budaya komunikasi digital yang semakin cepat.
Pesan instan membuat seseorang dapat menghubungi orang lain kapan saja. Namun, kemudahan tersebut juga menciptakan ekspektasi baru.

Ketika seseorang menerima pesan dan langsung melihat status online, pengirim terkadang mengharapkan balasan dalam waktu singkat.
Situasi seperti itu dapat membuat komunikasi terasa seperti kewajiban.

Aplikasi yang memperlambat pesan menawarkan pengalaman berbeda.
Pengirim tahu bahwa pesan tidak akan langsung sampai. Penerima pun tidak mendapatkan dorongan yang sama untuk segera membalas.

Dengan demikian, teknologi tersebut menciptakan jarak waktu yang sebelumnya hilang dari komunikasi digital.

Tren Digital Tidak Selalu Berarti Lebih Cepat
Perkembangan teknologi sering kali identik dengan peningkatan kecepatan.

Internet semakin cepat. Smartphone semakin canggih. Jaringan seluler terus berkembang. Aplikasi juga berlomba menghadirkan respons yang semakin instan.

Namun, tren aplikasi merpati virtual menunjukkan sisi lain dari perkembangan tersebut.

Sebagian pengguna mulai menghargai pengalaman yang memberikan jeda.

Konsep ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang masih menikmati aktivitas yang membutuhkan waktu, seperti menulis jurnal, membaca buku fisik, menggunakan kamera analog, atau mengirim kartu pos.

Perbedaannya, aplikasi seperti Carrier Pidge membawa sensasi tersebut ke dalam ekosistem digital.

Pengguna tetap menggunakan smartphone, tetapi mereka mendapatkan pengalaman komunikasi yang tidak instan.(*)

Berita Terkait

Promo iBox September 2026: Diskon iPhone hingga Rp400 Ribu dan Ekstra Potongan Rp1,5 Juta, Ini Cara Klaimnya
BSI Tambah Fitur Infaq Rutin di BYOND, Bisa Atur Donasi Mulai Rp1.000 Secara Otomatis
Beli iPhone 18 Pro Max dari Luar Negeri, Siapkan Bea Masuk dan Pajak hingga Rp5,4 Juta
Rekening Bansos Terblokir karena Terindikasi Judol? Ini Cara Mengurus, Verifikasi dan Ajukan Sanggahan
Desil Bansos Tidak Sesuai Kondisi Ekonomi? Begini Cara Ajukan Perubahan Data 2026
Jangan Sampai Rekening Dibobol! 11 Tips Keamanan Mobile Banking yang Wajib Diketahui
Itel A300C Resmi Meluncur, HP Murah Tahan Banting dengan Android 16 dan Layar 90 Hz
Tablet di Bawah Rp2 Juta 2026 dengan Layar Tajam, Ada 90Hz dan FHD+: Cek Pilihannya
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 12:01 WIB

Gen Z Mulai Tinggalkan Telegram dan WA, Ternyata Karena Aplikasi Ini

Rabu, 23 September 2026 - 09:01 WIB

Promo iBox September 2026: Diskon iPhone hingga Rp400 Ribu dan Ekstra Potongan Rp1,5 Juta, Ini Cara Klaimnya

Selasa, 22 September 2026 - 17:30 WIB

BSI Tambah Fitur Infaq Rutin di BYOND, Bisa Atur Donasi Mulai Rp1.000 Secara Otomatis

Selasa, 22 September 2026 - 15:01 WIB

Beli iPhone 18 Pro Max dari Luar Negeri, Siapkan Bea Masuk dan Pajak hingga Rp5,4 Juta

Senin, 21 September 2026 - 21:01 WIB

Rekening Bansos Terblokir karena Terindikasi Judol? Ini Cara Mengurus, Verifikasi dan Ajukan Sanggahan

Berita Terbaru