JAKARTA,JS – Istilah “Marriage is Scary” kini populer di kalangan anak muda Indonesia. Ungkapan ini menunjukkan rasa takut dan kekhawatiran terhadap pernikahan yang dianggap penuh risiko.
Fenomena ini muncul karena banyak anak muda menilai pernikahan bukan sekadar soal cinta, melainkan juga tanggung jawab besar. Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 399.921 kasus perceraian di Indonesia, yang membuat generasi muda semakin ragu menikah.
Tekanan Finansial Jadi Alasan Utama
Banyak anak muda menghadapi biaya hidup tinggi, mulai dari utang pendidikan hingga harga sewa tempat tinggal yang mahal. Akibatnya, mereka menilai pernikahan sebagai beban tambahan. Mereka menyadari membangun keluarga memerlukan kesiapan finansial matang. Ketika penghasilan belum stabil, menikah terasa berisiko.
Ketidakpastian Ekonomi dan Karier
Generasi Z memasuki dunia kerja dengan persaingan ketat dan sedikit jaminan pekerjaan jangka panjang. Banyak yang bekerja secara lepas atau kontrak. Oleh sebab itu, mereka lebih fokus pada pengembangan diri dan karier. Dengan demikian, mereka merasa pernikahan dapat membatasi fleksibilitas dan peluang profesional.
Perubahan Sikap Sosial Terhadap Pernikahan
Anak muda tumbuh dengan menyaksikan masalah keluarga dan perceraian. Akibatnya, mereka menilai pernikahan tidak selalu menjamin kebahagiaan. Sehingga, mereka menganggap komitmen jangka panjang berisiko.
Kesehatan Mental Jadi Prioritas
Generasi Z menaruh perhatian besar pada kesehatan mental. Tekanan hidup, kecemasan, dan tuntutan sosial membuat mereka berhati-hati dalam menjalin komitmen serius. Banyak yang memilih memperbaiki kondisi emosional terlebih dahulu, agar hubungan berjalan sehat.
Pengaruh Teknologi dan Media Sosial
Media sosial menampilkan hubungan yang tampak sempurna, sehingga mereka menetapkan standar tinggi yang sulit dicapai. Selain itu, kemudahan bertemu orang baru melalui teknologi membuat mereka memiliki banyak pilihan. Oleh karena itu, mereka merasa keputusan untuk menetap dalam satu hubungan terasa membatasi.
Komitmen Tidak Selalu Melalui Pernikahan
Generasi Z menilai komitmen tidak selalu harus diwujudkan melalui pernikahan. Mereka melihat hubungan sebagai pilihan personal, bukan kewajiban sosial. Dengan kata lain, selama mereka saling menghargai dan berkembang bersama, pernikahan bukan hal mutlak untuk mencapai kebahagiaan.(AN)









