MUAROJAMBI,JS- Kawasan Mendalo dan Jambi Luar Kota (Jaluko) dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru paling strategis di Provinsi Jambi. Perkembangan kawasan pendidikan, pembangunan perumahan modern, pertumbuhan sektor perdagangan, hingga masuknya berbagai investasi baru terus mendorong aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Namun di balik pesatnya pembangunan itu, muncul persoalan mendasar yang berpotensi menghambat laju pertumbuhan kawasan, yakni keterbatasan pasokan air bersih.
Kebutuhan air minum masyarakat kini meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kapasitas layanan yang tersedia. Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, kawasan yang diproyeksikan menjadi pusat pendidikan dan ekonomi masa depan Jambi berisiko menghadapi krisis pasokan air dalam beberapa tahun mendatang.
DPRD Jambi Soroti Ancaman Defisit Air Bersih
Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata menegaskan bahwa persoalan air bersih di kawasan Mendalo dan Jaluko tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah operasional perusahaan daerah air minum semata.
Menurutnya, isu tersebut telah berkembang menjadi tantangan strategis pembangunan daerah yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Ivan menilai pemerintah harus bergerak cepat menyusun solusi jangka panjang karena kebutuhan air terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, pembangunan kawasan perumahan, pertumbuhan kampus, serta ekspansi kawasan ekonomi baru.
“Ketersediaan air bersih harus menjadi prioritas pembangunan karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menentukan keberlanjutan investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Kebutuhan Air Diproyeksikan Mencapai 300 Liter per Detik
Berdasarkan perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Mendalo-Jaluko, wilayah tersebut diproyeksikan melayani sekitar 24 ribu kepala keluarga atau setara dengan 96 ribu jiwa.
Setiap penduduk diperkirakan membutuhkan 120 hingga 150 liter air per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik. Perhitungan tersebut belum termasuk tingkat kehilangan air dalam jaringan distribusi atau Non-Revenue Water (NRW) yang masih mencapai sekitar 25 persen.
Dengan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk selama dua dekade ke depan, kebutuhan air bersih ideal di kawasan Mendalo dan Jaluko diperkirakan berada pada kisaran 250 hingga 300 liter per detik.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kondisi saat ini.
Kapasitas Eksisting Hanya 100 Liter per Detik
Saat ini, fasilitas intake yang melayani kawasan Mendalo dan Jaluko hanya mampu menghasilkan sekitar 100 liter per detik.
Kondisi tersebut menciptakan defisit pasokan hingga sekitar 200 liter per detik dibandingkan kebutuhan ideal masyarakat.
Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan air ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah karena berpotensi memicu berbagai masalah di masa depan.
Mulai dari menurunnya kualitas layanan air minum, terganggunya aktivitas pendidikan, perlambatan pembangunan perumahan, hingga berkurangnya minat investor untuk mengembangkan usaha di kawasan tersebut.
Kawasan Pendidikan dan Properti Berisiko Terdampak
Mendalo saat ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan terbesar di Jambi dengan keberadaan berbagai perguruan tinggi yang menampung puluhan ribu mahasiswa setiap tahun.
Selain itu, pembangunan perumahan baru juga terus berkembang mengikuti peningkatan kebutuhan hunian masyarakat.
Apabila pasokan air bersih tidak mampu mengikuti pertumbuhan kawasan, maka berbagai sektor strategis berpotensi menghadapi kendala operasional.
Pengembang properti membutuhkan jaminan ketersediaan utilitas dasar sebelum membuka kawasan baru. Begitu pula sektor pendidikan, industri, perdagangan, dan layanan kesehatan yang sangat bergantung pada pasokan air yang stabil.
Karena itu, kebutuhan pembangunan infrastruktur air minum kini menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung daya saing kawasan.
Solusi Jangka Panjang Melalui SPAM Regional
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan konsep pembangunan SPAM Regional Mendalo-Jaluko yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi air, tetapi juga memperkuat sistem distribusi dan efisiensi pengelolaan jaringan.
Rencana pembangunan mencakup:
- Intake air baku dari Sungai Batanghari berkapasitas 300 liter per detik
- Rumah pompa dan sistem pemompaan modern
- Instalasi Pengolahan Air (IPA) berkapasitas 300 liter per detik
- Reservoir induk berkapasitas 5.000 hingga 10.000 meter kubik
- Jaringan transmisi utama berdiameter 600–800 milimeter
- Jaringan distribusi menuju Mendalo, Pijoan, Simpang Sungai Duren, kawasan kampus, dan kawasan industri
- Sistem pengendalian digital berbasis SCADA
- Smart Metering untuk meningkatkan efisiensi layanan
Pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat hingga puluhan tahun mendatang.
Teknologi Smart Water System Jadi Andalan
Selain memperbesar kapasitas layanan, proyek ini juga mengusung konsep Smart Water System yang telah banyak diterapkan pada berbagai kota modern di dunia.
Pemanfaatan teknologi SCADA memungkinkan operator memantau jaringan secara real time, mendeteksi gangguan lebih cepat, serta meningkatkan efisiensi distribusi air.
Sementara itu, penerapan Smart Metering akan membantu mengurangi kehilangan air dan meningkatkan akurasi pencatatan konsumsi pelanggan.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pengelolaan infrastruktur yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan.
Investasi Infrastruktur Diperkirakan Mencapai Rp500 Miliar
Untuk merealisasikan proyek SPAM Regional Mendalo-Jaluko, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai Rp450 miliar hingga Rp550 miliar.
Dengan asumsi biaya konstruksi tahun 2026, total kebutuhan anggaran berada di kisaran Rp500 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk:
- Pembangunan intake
- Instalasi pengolahan air
- Rumah pompa
- Reservoir
- Jaringan transmisi
- Jaringan distribusi
- Sistem teknologi pengawasan
- Pembebasan lahan
- Perencanaan teknis
- Cadangan biaya proyek
Nilai investasi tersebut menunjukkan besarnya komitmen yang diperlukan untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Jadi Kunci
Ivan Wirata menilai proyek strategis ini tidak mungkin hanya mengandalkan satu sumber pembiayaan.
Karena itu, pemerintah perlu membangun kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha, dan perusahaan yang beroperasi di wilayah Jambi.
Skema pembiayaan yang disiapkan meliputi:
- APBN sekitar 60 persen
- APBD Provinsi Jambi
- APBD Kabupaten Muaro Jambi
- Perumda Air Minum Tirta Muaro Jambi
- Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU)
- Program CSR perusahaan
Pendekatan tersebut dinilai mampu mempercepat realisasi proyek sekaligus mengurangi beban fiskal pemerintah daerah.
Mendukung Target SDGs dan Pertumbuhan Ekonomi Jambi
Pembangunan SPAM Regional Mendalo-Jaluko juga selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya poin ke-6 yang menekankan akses air bersih dan sanitasi layak bagi seluruh masyarakat.
Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, proyek ini juga akan memperkuat daya tarik investasi, mendukung pertumbuhan sektor properti, mempercepat pengembangan kawasan pendidikan, serta meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Air Bersih Menjadi Fondasi Masa Depan Mendalo
Ketersediaan air bersih kini menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan kawasan metropolitan Jambi.
Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, pertumbuhan sektor pendidikan, perumahan, industri, dan investasi akan menghadapi berbagai hambatan.
Karena itu, pembangunan SPAM Regional Mendalo-Jaluko bukan sekadar proyek penyediaan air minum, melainkan investasi strategis jangka panjang untuk memperkuat daya saing daerah.
Dengan dukungan seluruh pihak, kawasan Mendalo dan Jaluko berpeluang berkembang menjadi pusat pendidikan, kawasan permukiman modern, dan pusat ekonomi baru yang berkelanjutan di Provinsi Jambi menuju tahun 2030.(*)









