SUNGAIPENUH,JS– Kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai menjadi perhatian di Kota Sungai Penuh pada awal 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat lima warga terjangkit penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Temuan tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mengabaikan kebersihan lingkungan, terutama saat hujan mulai turun dan genangan air muncul di sekitar rumah. Kondisi ini dapat menyediakan tempat berkembang biak bagi nyamuk pembawa virus dengue.
Meski jumlah kasus yang tercatat masih terbatas, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebab, DBD dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila pasien terlambat memperoleh penanganan medis.
Lima Warga Terjangkit, Pasien Mulai Pulih
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh, Era Syafitri, menyampaikan bahwa kondisi para pasien menunjukkan perkembangan positif.
Menurut Era, sebagian pasien mulai pulih secara bertahap. Namun, beberapa warga masih menjalani perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan pemantauan dan penanganan medis.
“Alhamdulillah, pasien umumnya mulai pulih, meski sebagian masih menjalani perawatan di rumah sakit,” ujar Era.
Perkembangan kondisi pasien tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat. Meski demikian, warga tetap perlu memahami bahwa DBD bukan penyakit yang dapat dianggap sepele.
Pasien dapat mengalami perubahan kondisi dalam waktu singkat. Karena itu, keluarga perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan dan memperhatikan perkembangan gejala, terutama ketika demam mulai turun tetapi kondisi tubuh justru memburuk.
Kasus DBD Turun dari 171 Menjadi 85
Di tengah munculnya kasus pada awal 2026, Dinas Kesehatan juga mencatat penurunan jumlah penderita DBD dalam dua tahun terakhir.
Sepanjang 2024, Kota Sungai Penuh mencatat 171 kasus DBD. Angka tersebut kemudian turun menjadi 85 kasus pada 2025.
Artinya, jumlah kasus pada 2025 berkurang sebanyak 86 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Secara persentase, penurunannya mencapai sekitar 50,3 persen.
Data tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam pengendalian DBD. Namun, penurunan jumlah kasus tahunan tidak serta-merta menghilangkan risiko penularan pada tahun berikutnya.
Lima kasus yang muncul pada awal 2026 menjadi alasan bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus menjaga kewaspadaan. Upaya pencegahan juga perlu berjalan secara konsisten, bukan hanya ketika jumlah penderita meningkat.
Selain itu, masyarakat perlu memahami bahwa keberhasilan menekan DBD tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan. Kebiasaan menjaga kebersihan rumah, saluran air, halaman, dan lingkungan sekitar turut menentukan risiko perkembangbiakan nyamuk.
Musim Hujan Perlu Diwaspadai
Era Syafitri mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi pergantian musim dan hujan mulai turun.
Pada periode tersebut, air hujan dapat mengisi berbagai wadah yang berada di sekitar rumah. Ember terbuka, kaleng bekas, pot tanaman, talang tersumbat, hingga barang tidak terpakai berpotensi menampung air.
Jika warga membiarkan genangan tersebut, nyamuk Aedes aegypti dapat memanfaatkannya untuk berkembang biak.
Karena itu, masyarakat perlu memeriksa lingkungan secara rutin. Warga sebaiknya tidak hanya membersihkan bagian dalam rumah, tetapi juga memperhatikan halaman, tempat penampungan air, saluran pembuangan, serta area kosong yang jarang digunakan.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk. Terlebih lagi, pencegahan akan berjalan lebih efektif apabila seluruh anggota keluarga dan tetangga ikut mengambil bagian.
Terapkan 3M Plus untuk Mencegah DBD
Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh mengajak masyarakat menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.
Gerakan ini mencakup tiga langkah utama. Pertama, menguras tempat penampungan air secara rutin agar jentik nyamuk tidak berkembang. Kedua, menutup rapat wadah penyimpanan air. Ketiga, mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Sementara itu, unsur Plus mencakup berbagai tindakan tambahan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk dan perkembangbiakannya. Warga dapat memasang kawat kasa pada ventilasi, menggunakan kelambu bila diperlukan, mengenakan pakaian yang melindungi kulit, serta memanfaatkan losion antinyamuk sesuai petunjuk pemakaian.
Masyarakat juga perlu memeriksa tempat yang sering luput dari perhatian, seperti tatakan pot, dispenser, bak mandi, tempat minum hewan, dan talang air. Pemeriksaan berkala dapat membantu warga menemukan jentik sebelum nyamuk berkembang menjadi dewasa.
Selain itu, warga sebaiknya mengadakan kegiatan kebersihan lingkungan secara rutin. Kerja sama antartetangga dapat membantu membersihkan lokasi yang sulit dijangkau oleh satu keluarga saja.
Kenali Gejala dan Segera Cari Pertolongan
Selain mencegah perkembangbiakan nyamuk, masyarakat perlu mengenali gejala DBD sejak dini. Gejala yang umum muncul antara lain demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta munculnya ruam pada sebagian pasien.
Namun, gejala setiap orang dapat berbeda. Karena itu, warga sebaiknya tidak memastikan diagnosis sendiri hanya berdasarkan keluhan yang muncul.
Segera kunjungi fasilitas kesehatan apabila demam disertai keluhan yang mengkhawatirkan. Waspadai pula nyeri perut hebat, muntah berulang, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, napas cepat, atau tangan dan kaki terasa dingin. Tanda-tanda tersebut membutuhkan penilaian medis segera.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi pasien ketika demam mulai turun. Penurunan suhu tubuh tidak selalu berarti penyakit telah membaik. Pada sebagian pasien DBD, fase kritis justru dapat muncul sekitar waktu tersebut.
Oleh sebab itu, keluarga perlu mengikuti anjuran dokter, memenuhi kebutuhan cairan sesuai arahan tenaga kesehatan, serta segera mencari pertolongan apabila kondisi pasien memburuk.
Kesadaran Warga Menjadi Kunci Pengendalian
Era Syafitri menegaskan bahwa partisipasi masyarakat memegang peranan penting dalam menekan penyebaran DBD di Kota Sungai Penuh.
“Ketika warga rutin menjaga lingkungan dan menerapkan 3M Plus, kita dapat mencegah DBD meningkat,” pungkasnya.
Upaya tersebut membutuhkan kebiasaan yang berkelanjutan. Warga tidak perlu menunggu laporan kasus baru untuk membersihkan lingkungan atau memeriksa tempat penampungan air di rumah.
Penurunan kasus dari 171 pada 2024 menjadi 85 pada 2025 memang menjadi perkembangan positif. Namun, kemunculan lima kasus pada awal 2026 tetap menuntut perhatian bersama.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan, memberantas sarang nyamuk, mengenali gejala sejak dini, dan segera mencari pertolongan medis ketika muncul tanda bahaya, masyarakat dapat membantu mengurangi risiko DBD.
Dinas Kesehatan dan masyarakat perlu terus memperkuat langkah pencegahan agar perkembangan kasus tetap terkendali. Kewaspadaan bersama menjadi langkah penting untuk melindungi keluarga sekaligus menjaga kesehatan warga Kota Sungai Penuh.(AN)










