BISNIS,JS- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Selasa (10/2/2026) di zona hijau. Penguatan ini terutama didorong oleh meningkatnya transaksi saham berkapitalisasi besar. IHSG naik 99,87 poin atau 1,24% ke level 8.131,74, setelah bergerak di rentang 8.011,13–8.140,86. Total nilai transaksi hari ini mencapai Rp20,08 triliun.
Sentimen FTSE Russell Tidak Mengganggu Pasar
Meskipun FTSE Russell menunda review indeks Indonesia pada Maret 2026, pelaku pasar sudah mengantisipasi keputusan ini. Aksi beli investor domestik mendominasi transaksi dengan nilai Rp11,868 triliun, sementara penjualan domestik mencapai Rp11,14 triliun. Investor asing justru mencatatkan penjualan bersih lebih besar, Rp6,673 triliun, dibandingkan pembelian asing senilai Rp5,95 triliun.
Saham LQ45 Memimpin Penguatan
Beberapa saham unggulan mencatatkan penguatan signifikan. PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) memimpin dengan lonjakan 12,50% ke Rp288. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) naik 8,95% menjadi Rp2.800, diikuti PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 5,29% ke Rp1.890. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menguat 5,08% ke Rp1.550, sedangkan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) naik 4,68% ke Rp895.
Di sisi lain, beberapa saham menahan laju penguatan. PT XL Axiata Tbk. (EXCL) turun 1,02% ke Rp2.900, PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) melemah 0,94% ke Rp525, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) turun 0,82% ke Rp9.100. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 0,62% ke Rp8.000, sementara PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah 0,33% ke Rp7.475.
IHSG Berpeluang Menguat Lanjutan
Analis Phintraco Sekuritas menilai, penundaan review FTSE Russell tidak mengejutkan pasar. Investor menunjukkan kepercayaan kembali terhadap pasar modal Indonesia.
Secara teknikal, IHSG bertahan di atas level MA5. Histogram negatif MACD menyempit, sementara Stochastic RSI menunjukkan sinyal reversal. Dengan kondisi ini, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 8.200–8.215 pada perdagangan Rabu (11/2/2026).
Fundamental Ritel Mendukung Optimisme Pasar
Data penjualan ritel domestik Desember 2025 mencatat pertumbuhan 3,5% YoY, lebih lambat dibanding November 2025 yang tumbuh 6,3% YoY. Meski melambat, pertumbuhan ini tetap menunjukkan tren kenaikan selama delapan bulan berturut-turut, didorong stimulus pemerintah untuk mendorong daya beli masyarakat.
Di kancah global, investor fokus pada data inflasi Januari 2026 dari China, yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar ke depan.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









